
"Bi, Bibi!" pekik Lola, berulang kali sampai seorang pembantu datang menghampirinya sambil membungkukkan tubuhnya dan sedikit menunduk.
"Ya, Nya. Ada apa?" tanya pembantu itu sangat lembut.
"Ini tolong bersihin semuanya, terus kalau udah selesai langsung ke kamar saya. Badan saya semuanya pegal-pegal, jadi seperti biasa, pijitin saya. Bisa?" ucap Lola, penuh penekanan sambil menatap ke arah pembantunya.
"Bi-bisa, Nya. Nanti setelah selesai membereskan meja makan, saya akan segera ke kamar Nyonya," jawab sang Bibi dalam keadaan sedikit membungkuk dan menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, ingat! Jangan lama-lama, badan saya sudah pada pegal!" titahnya langsung diangguki oleh pembantunya, lalu Lola bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.
Mata pembantu itu perlahan melirik ke arah Lola dalam keadaan masih menunduk. Selepas perginya Lola, sang pembantu segera mengangkat kepalanya sambil menghela napasnya secara kasar. Wajahnya terlihat begitu kesal atas perlakuan Lola yang semena-mena padanya.
"Haah, andai saja Nyonya di rumah ini masih Nyonya Becca. Nasibku tidak akan seburuk ini, memangnya dia siapa? Duri dalam rumah tangga orang aja bangga, harusnya kalau dia punya urat malu enggak akan pernah mau ngerebut laki orang. Dasar wanita sakit jiwa!"
"Lagian juga Tuan ngapain sih bawa itu orang ke rumah ini, kaya enggak ada penampungan barang bekas aja! Apa dia lupa kalau di sini banyak kenangan manis dengan Nyonya Becca dan Den Naku. Memang dia tidak khawatir apa, kalau apa yang di miliki oleh mereka akan di rebut olehnya?"
"Sekarang aja barang-barang yang dia gunakan sebagian milik Nyonya Becca, tetapi Tuan Gala diam aja. Berasa kaya nonton sapi yang di cocok hidungnya! Lama-lama jengah juga lihat mereka berdua, beda sama Tuan yang dulu,"
__ADS_1
"Apa sampai detik ini Tuan tidak sadar ya, banyak sekali perbedaan antara Nyonya Becca dan wanita itu. Salah satunya sikap mereka terhadap bawahannya, di mana Nyonya Becca tidak pernah menyuruhku selagi dia bisa melakukannya seorang diri. Di saat aku tinggal sama beliau, ketika hamil Den Naku tidak sedikit pun Nyonya Becca melakukan hal seperti dia. Malah, aku yang selalu menawarkan diri untuk membantunya, tetapi Nyonya menolak semua itu dengan lembut."
"Beda jauh sama wanita itu. Perasaan di sini tugasku hanya seorang pembantu rumah tangga bukan tukang pijit, lantas kenapa aku harus mengerjakan pekerjaan yang bukan pekerjannku? Huhh, kalau bukan karena aku sudah ngikut Tuan dari lama. Mungkin saat ini aku sudah pindah cari kerjaan yang baru!"
"Kok, ya ada gitu loh. Wanita yang sudah terlihat sempurna sebagai seorang istri atau pun Ibu, masih aja di selingkuhi sama model kaleng krupuk kaya gitu. Bagaimana dengan nasibku ini? Wajah udah kaya bubuk renginang bau tengik, body kaya gitar kecapi, kulit kaya air kobokan. Apakah masih ada harapan untuk mendapatkan calon suami yang setia di saat umur sudah 35 tahun?"
"Aelahh, dahlah. Mendingan aku fokus kerja aja, biar bisa mengumpulkan uang untuk anakku di kampung. Toh, aku udah pernah nikah, jadi buat apa juga aku nikah lagi. Mendingan sendiri deh, dari pada punya suami yang hanya modal pe** doang, cihh!"
Begitulah, pembantu. Apa bila dia di berikan kenyamanan dengan majikan yang baik dan juga ramah. Maka, dia akan menjaga lisannya agar tidak menjadi sebuah pedang yang panjang. Berbeda bila kenyamanan itu telah hilang, maka lisan yang bagaikan pedang itu bisa di pastikan akan melukai majikannya sendiri.
Ocehan itu bukan berarti dia telah membenci Gala, melainkan dia hanya kesal dan kecewa atas sikap Gala yang terlalu kejam terhadap Becca serta Naku. Dia tega melepas keluarga yang sempurna demi mendapatkan wanita macam kaleng krupuk tersebut.
Perlahan dia mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam atas perintah dari Lola yang sedang menonton televisi. Lola pun segera memintanya untuk naik ke atas ranjang dan mulai memijat salah satu kakinya terlebih dahulu.
Tanpa di sadari oleh Lola, ternyata diam-diam pembantu kesayangan Becca itu menaruh sesuatu di dalam minya yang sering di gunakannya.
Di sela-sela pijitannya, Lola mulai merasakan hawa panas yang tidak bisa di tahan. Dia langsung mengeluh dan segera menyuruh pembantunya untuk menyudahi semuanya.
__ADS_1
"Akhhh, udah, udah, udah! "Sumpah, rasanya kakinya mau melepuh, nj*irr! I-ini panas banget. Kau tambahkan apa di dalam minyak itu, hahh?" pekik Lola, langsung menekuk kaki kanannya yang habis di urut meski belum tuntas.
"Sa-saya tidak menambahkan sesuatu kok, Nya. Ini minyak yang Nyonya berikan setiap saya mau memijit," jawab pembantu itu, wajahnya terlihat sangat bingung. Ini merupakan sebagian dari sandiwaranya.
"Kalau tidak kau tambahkan apa pun di dalamnya, terua kenapa rasanya panas banget, hahh? Biasanya tidak, terus ini kenapa kulitku kaya ke bakar?" ucap Lola, wajahnya terlihat merah sambil meniup-niupkan kakinya.
"Ya-ya, saya tidak tahu, Nya. Mungkin saja kaki Nyonya ada penyakitnya makannya terasa sakit, kalau biasanya 'kan cuman hangat kuku itu tandanya tidak ada penyakitnya," sahut pembantunya dengan berbagai macam alasan.
Padahal nyatanya tidak seperti itu, jika di tubuh kita ada penyakitnya maka tidak ada rasa apa pun. Berbeda kalau tidak ada penyakit rasanya akan hangat atau panas.
Nah, berbeda sama ini. Dikarenakan semua itu sudah di rancang oleh pembantu yang jahil ini, saking dia kesalnya di suruh untuk memijat hampir setiap hari. Maka, dia memberanikan diri untuk menambahkan sesuatu ke dalam minyak khusus urut. Yaitu, minyak GPU, minyak geliga, cairan frescare hot, dan apalah itu semua dia racik menjadi satu. Sehingga rasanya memang seperti terbakar, tetapi tidak sampai membuat kulitnya mengelupas.
Ibaratkan itu sebagai balasan terhadap Lola, karena sudah berani untuk menghancurkan rumah tangga Becca dan juga Gala.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung