Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Teringat


__ADS_3

Mereka makan dalam keadaan tenang, tetapi satu pertanyaan dari Rio membuat Becca menghentikan makannya dan menatap Rio dengan sedikit rasa sedih.


"Bagaimana kamu bisa bertemu denganku tanpa Naku? Bukannya dia sudah memperingatimu untuk tidak bertemu denganku tanpa persetujuan darinya?"


"Ya, mumpung aku lagi di luar rumah, jadi ya sudah. Aku diam-diam saja menemui Kakak. Naku tahunya aku lagi di tok---, aishh ... Apaan sih, Kak! Kenapa malah bahas itu? Bikin mood makanku hilang aja, humpt!"


Becca mengembungkan kedua pipinya sambil mengacak-ngacak makanannya persis seperti Yola ketika dalam mode ngambek. Rio bukannya merasa takut atau bersalah, dia malah terkekeh geli karena Becca benar-benar sama persis seperti Yola, anaknya.


"Astaga, aku lagi marah loh, ya! Kenapa Kakak malah tertawa sih, menyebalkan!" pekik Becca, melirik kesal.


"Hihi, habisnya kamu itu sama kaya Yola kalau marah. Lucu, dan juga menggemaskan. Rasanya aku mau cium, muuu---"


"Hyaakk ... Diam tidak mulutnya, mau aku tusuk pakai pisau ini, hem?"


Becca menyodorkan pisau kecil di tangan kanannya ketika wajahnya sudah memerah malu, akibat aksi Rio yang sudah mulai brutal terhadapnya.


Rio memang spontan melakukan semua itu, karena entah mengapa akhir-akhir ini Becca terlihat semakin lucu.


"Dasar aneh, orang di bercandain doang langsung merah gitu wajahnya. Gimana kalau di cium beneran, bisa-bisa terbang kali ya, haha ...."


"Oh, gitu? Gimana kalau Kakak yang aku cium, hem? Apakah Kakak tidak malu?"

__ADS_1


Tawa Rio jadi berhenti saat mata genit Becca sudah pintar kembali membalasnya. Di mana malah Rio yang terlihat salah tingkah, wajahnya bahkan lebih merahan Rio dari pada Becca. Artinya apakah ini pertanda bila perasaan yang sudah terkubur bertahun-tahun, kembali bangkit? Entahlah, hanya Rio yang tahu tentang perasaannya sendiri.


"Cieee ... Ada yang merah mukanya, bahkan merahnya hampir sama kaya warna steak sapi ini hahah ...."


"Aaa ... Dasar wanita! Tidak sedikit pun mau mengalah, benar-benar menyebalkan!"


"Hahah ... Bodo, wlee ...."


"Isshh, dahlah. Enggak seru! Ohya, gimana dengan Naku? Apakah dia semakin mengekangmu atas kejadian itu?"


"Ya, begitulah. Semenjak kejadian itu, Naku selalu over protektif sama aku. Kemana pun aku pergi, dia harus tahu. Apa lagi, dia tidak memperbolehkan aku untuk dekat-dekat sama pria mana pun termasuk Kakak sendiri, menyebalkan!"


Rio terkekeh kecil, melihat wajah jenuh dan kesal Becca ketika anaknya sudah mulai bersikap layaknya seorang yang menjaga pasangannya sendiri.


"Kakak! Awas ya kalau sampai Kakak seperti itu, aku tidak akan mau lagi ketemu sama Kakak, titik! Aku aja ketemu sama Kakak diam-diam dari Naku, dan sekarang Kakak malah ingin mempersulit hidupku? Dasar ngeselin!"


Suara Becca sontak membuat semua pengunjung menatapnya, mereka semua bingung kenapa Becca berteriak seperti itu. Sampai akhirnya, senyuman kikuk dan malu keluar dari bibir Becca saat menatap satu persatu orang yang melihatnya. Berbeda sama Rio, dia tertawa kecil sambil menundukkan kepalanya.


Becca segera mendekati ke arah wajah Rio, membuat Rio langsung berhasil menatap wajah Becca begitu dekat. Jantungnya kembali berdebar kencang, seakan dia sedang memandang seorang bidadari yang sangat cantik.


"Sstt, Kak. Aku malu sumpah, mendingan kita kabur aja yuk dari sini. Aku enggak enak dari tadi mereka pada melihat ke arah kita terus!"

__ADS_1


Bisikan Becca tidak di tanggapi oleh Rio, sampai akhirnya Becca menatapnya dan matanya pun berhenti menatap manik mata Rio. Dia baru menyadari apa bila wajah mereka benar-benar berada sangat dekat.


Hanya beberapa detik, Becca menyudahi semuanya dan segera mengajak Rio untuk melanjutkan makannya dan setelah itu mereka keluar dari Cafe tersebut.


Rasa cangung yang beberapa kali sempat mereka rasakan, sekarang telah kembali normal. Mereka berjalan bersama sambil menikmati es krim di tangannya masing-masing.


"Andai saja ada Yola, pasti rasanya akan lebih seru ya, Kak," ucap Becca sambil melahap es krim menggunakan sendok kecil.


"Ya, mau bagaimana lagi. 'Kan kamu meminta bertemunya di saat anak-anak lagi sekolah, jadi ya sudah. Tapi, kapan-kapan aku akan ajak kalian piknik, gimana? Mau?" tanya Rio, menoleh ke arah Becca sambil berjalan.


"Mau, Kak. Mau banget, udah lama aku tidak piknik, hitung-hitung liburan. Aku udah lama tidak liburan, semenjak Gal---"


Becca menghentikan ucapannya, dia langsung berbicara di dalam hatinya dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan, "Astaga, kenapa aku malah mengingat dia lagi sih! Ingat, Becca. Kamu harus bisa move on dari Gala, apa pun itu kamu harus bisa menjalani hidupmu. Saat ini hanya ada kamu dan Naku, bukan dia lagi, paham!"


"Dia pasti sudah bahagia dengan istri dan anak yang ada di kandungnya, jadi cukup! Jangan rusak kebahagiaan mereka dengan mengingatnya kembali, dan belajarlah fokus pada kebahagiaanmu sendiri!"


Rio melirik Becca, dia tahu pasti saat ini Becca sedang teringat dengan Gala, mantan suaminya. Ya, memang tidak mudah untuk melupakan orang yang sangat di cintai, tetapi apa bila kembali mengingatnya pasti itu akan semakin menghambat langkah untuk maju kedepannya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2