Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Dendam


__ADS_3

Naku bungkam seribu bahasa, dia seakan menjadi merinding saat mendengar semua masa kecil tentang Rio. Entah mengapa, matanya berkaca-kaca saat Naku serasa tertampar keras oleh masa lalu Rio.


Ternyata, di balik nasibnya yang menurut Naku paling buruk. Masih banyak lagi kehidupan yang lebih-lebih buruk di bawahnya.


"Jujur saja, baru kamu yang tahu bagaimana kehidupan Om sampai berada di posisi saat ini. Mommymu yang kenal sama Om jauh lebih dari dirimu, dia tidak pernah tahu tentang semua ini. Jikalau pun kamu menceritakan semua, maka dia akan terkejut dan langsung memarahi Om, karena telah menyembunyikan semua darinya. Sementara Mommymu selalu menceritakan kisahnya untuk sekedar mencari tempat curhat. Namun, jika kamu sudah besar nanti, bukan lagi Om yang menjadi temannya. Melainkan kamu, sebagai anak maupun sahabat yang bisa setiap hari membagi apa yang di rasakannya."


Rio tersenyum menatap Naku, untuk menutupi air matanya sendiri karena harus kembali mengingat serta membuka luka lama yang sudah dia tutup sekian bertahan-tahun lamanya.


Sekali saja Rio berkedip, bisa di pastikan air matanya akan jatuh di hadapan Naku. Akan tetapi, dia langsung mengalihkan pandangannya untuk sekedar menghapus air matanya dan kembali menatap Naku sambil tersenyum serta mengusap kepalanya.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Itu hanya sebagian kisah menyedihkan yangembuat Om bisa sekuat saat ini, jadi kamu juga sebagai anak laki-laki harus tetap mendampingi Mommymu tanpa harus membuatnya kembali kecewa," ucap Rio.


"A-apakah Om membenci Papah Om sendiri, karena dia sudah menghancurkan hidup Om dan Mamah Om?"

__ADS_1


Pertanyaan yang sangat bagus dari Naku, terlontar jelas membuat Rio terkejut dan seketika menjadi terdiam. Sebenarnya tanpa Naku harus menanyakan hal seperti itu, pasti jawabannya Rio memang sempat menaruh kebencian itu terhadap Papah kandungnya. Orang mana yang tidak memiliki dendam, jika semuanya di rebut paksa dari genggamannya sampai membuatnya benar-benar hancur.


Namun, bersyukurnya Rio memiliki Mamah yang selalu menasihatinya dengan baik. Begitu juga sama Ayah sambungnya yang berperan penting dalam kehidupannya sampai saat ini. Beliau selalu mengajarkan kebaikan, karena apa yang akan mereka tanam. Maka, itulah yang akan mereka tuai di kemudian harinya.


"Kenapa Om diam? Om malu mengatakan, kalau Om sangat membenci Papah Om itu? Katakan saja, Om. Aku sediri juga memiliki dendam sama Daddy, aku akan menghancurkan dia dan wanita itu. Bagiku, setetes air mata yang Mommy jatuhkan, sama saja seperti berlian. Dan aku sangat kecewa, karena Daddy semua impianku menjadi hancur!"


Suara lantang dan tegas benar-benar mewakilkan isi hati Naku, terlihat sekali dia begitu emosi terhadap Gala yang sudah menghancurkan semuanya. Hanya saja, emosi itu berusaha Naku tahan, sehingga wajah sampai lehernya memerah dengan urat yang mulai bermunculan.


"Namun, Om beruntung karena Mamah dan Ayah sambung Om adalah orang baik. Mereka menasihati Om, apa bila berbuatan kita kelak akan mendapatkan balasannya sendiri dari Tuhan. Entah melalui karma untuk kita, orang tua kita ataupun anak serta istri kita nantinya. Di situ Om berpikir, kenapa bisa begitu? Mereka menjelaskan bila dendam merupakan sifat yang sangat di benci oleh Tuhan, jadi apa pun yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai. Dendam akan terus mengalir ke darah kita dan bisa membuat kita berubah menjadi orang yang sangat jahat di muka bumi ini."


"Dari situ Om belajar untuk menahan emosi dan mengontrol diri dengan melakukan hal yang baik dan pada akhirnya susah payah Om berjuang untuk mengalahkan dendam itu dan setelah Om berhasil berdamai dengan hidup, ya inilah yang Om dapatkan. Kebahagiaan dan juga rezeki yang lebih melimpah dari orang yang sudah merebutnya. Jadi, cobalah untuk berdamai. Jika tidak bisa kamu mulai mencoba dari hal kecil, contohnya sesuatu yang tiba-tiba membuatmu kesal, cobalah kamu tahan ketika kamu berhasil maka kelak dendammu akan hancur!"


"Kamu tidak perlu takut atau merasa sendirian, anggap saja Om ini temanmu. Jadi kamu bisa membagi semua perasaanmu pada Om. Dan Om janji, Om akan menjadi teman bagimu tanpa membocorkan rahasiamu dan Om juga bisa menjadi teman Mommymu tanpa membocorkan rahasianya. Bagaimana?"

__ADS_1


Bagaikan di sengat listrik, Naku berdiri dan berteriak sekuat-kuatnya dalam keadaan di penuhi oleh emosi yang cukup mendalam. Sementara Rio hanya tersenyum mendengarkan apa yang sedang Naku luapkan.


Setelah semua unek-uneknya keluar dari dalam hati, Naku pun terjatuh duduk sambil menangis. Ini pertama kali, Rio melihat anak sekuat Naku menangis hanya karena hatinya yang dilema.


Di situ Rio memeluk Naku, dan membawanya duduk di kursi panjang. Isak tangis Naku masih mengalir deras sampai beberapa menit, di mana Rio hanya menjadi sandaran bagi bocah kecil itu yang sedang merasa lelah dengan semua ujian yang menimpanya.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2