
"Saat ini pertanyaanku cuman 1, apakah kamu cinta sama aku? Apakah kamu benar-benar ingin hidup bersamaku?" tanya Rio, mengukirkan senyuman tipis di depan wajah Becca.
"A-aku cinta sama kakak, tapi---"
"Aku hanya mau dengar kalimat itu saja, tidak ada tapi-tapian. Sekarang aku tanya sekali lagi, apa kamu mencintaiku?"
"Ya, aku mencintai kakak. Dan aku ingin hidup bersama kakak untuk selamanya!"
Becca mengatakan semua itu dengan suara lantang, tanpa sedikit pun ada keraguan di balik hatinya. Itulah yang membuat Rio semakin bersemangat untuk bisa memperjuangkan cintanya kembali.
Rio tidak akan pernah takut, apapun rintangannya ke depan. Fokusnya hanya pada satu tujuan, yaitu bagaimana mereka bisa bersama dalam membawa kebahagiaan kepada anak-anaknya bukan rasa sakit.
Rio memukul pelan punggung tangan Becca, senyumannya terus terukir membuat Becca perlahan ikut tersenyum melihat wajah shabatnya yang tidak dia sangka kelak akan menjadi calon suaminya.
"Aku hanya butuh jawaban itu, dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Terima kasih, karena kamu sudah membalas cintaku meskipun banyak pertimbangan. Tapi, kamu tenang aja. Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari Naku, jadi kamu tidak perlu khawatir ya," ucap Rio, mencoba menenangkan Becca.
"Terima kasih juga kakak sudah mencintai setulus hati kakak. Aku hanya takut, cinta ini tidak akan kuat kalau kita tidak mendaoatkan restu anakku. Kakak tahu sendiri, bukan? Naku itu merupakan jalan bagiku, kalau dia menutup semua akses jalan. Maka aku tidak akan bisa lewat, meski aku harus menunggunya," jawab Becca, matanya kembali meneteskan air mata.
Perlahan tangan satunya mulai terangkat, Rio mengusap semua air mata di pipi Becca sambil menggelengkan kepalanya. Walaupun, Rio tahu apa yang dimaksud Becca, tetapi dia tidak ingin menunjukkan kekalahan di awal.
"Sstt, tidak boleh putus asa. Ingat, Ca! Kita punya Tuhan, bukan? Jadi, kekuatan kita hanya dari-Nya. Kumpulkan banyak-banyak doa untuk memulai langkah pertama kita. Aku yakin, anakmu itu adalah anak yang hebat, anak yang baik. Hanya saja, keadaan yang membuatnya sampai seperti itu. Jadi, kita harus tetap menaklukkan hatinya menggunakan hati, bukan keegoisan atau napsu. Kelak, lama-lama hati akan terkikis oleh ketulusan hati kita."
"Aku akan berjuang semampuku, sekuat tenagaku tanpa rasa lelah. Aku tidak ingin menyerah sebelum bertarung. Bagitupun kamu, jangan menyerah lebih dulu sebelum kamu tahu di mana batas kemampuanmu sendiri!"
"Kamu cukup duduk manis saja, biarkan aku yang berjuang untuk membuktikan sama kamu kalau aku ini tidak ada niatan untuk main-main. Umur kita sudah sangat tua, dan tidak pantas lagi untuk bermain cinta. Aku mencintaimu, karena kamu orang satu-satunya yang berhasil menaklukkanku untuk kedua kalinya. Meskipun, kamu tidak melakukan apapun demi menarik perhatianku."
"Dan, aku mencintaimu karena hanya kamu yang cocok menjadi ibu sambung untuk anakku. Kamu yang bisa menghapus semua duka serta luka yang ada di hatinya tanpa harus berjuang. Kamu hanya mengandalkan cinta kaish, perhatian, ketulusan dan kesabaran maka kamu telah menjadi pilihan Yola untuk bisa menggantikan mendiang ibunya."
"Untuk itu jangan menyerah, oke? Aku ada di sini, kita berjuang sama-sama dan kita taklukkan kerasnya batu itu. Percayalah, Ca. Jika kita tulus, Tuhan akan selalu bersama kita apapun kondisinya restu-Nya akan terus menyertai langkah kita."
__ADS_1
Tidak bisa berkata apa-apa, Becca hanya bisa tersenyum menggenggam erat tangan Rio sambil menganggukkan kepalanya.
Becca benar-benar sangat bersyukur bisa mencintai pria sedewasa Rio, meski cinta mereka belum tentu bisa bersama. Setidaknya mereka berjuang terlebih dahulu, tanpa rasa takut.
Setelah semua pembahasan selesai, mereka mencoba untuk terus tersenyum meski hatinya terkadang merasa sedikit takut. Akan tetapi, mereka harus kuat demi cinta yang sudah menjadi tujuan mereka saat ini.
"Udah akhh, jangan sedih mulu. Kita makan yuk! Aku laper nih, belum makan dari pagi hehe ...."
Rio mencoba mengalihkan kesedihan yang Becca rasakan untuk sekedar menikmati suasana keromantisan mereka berdua.
"Aku mau makan, tapi di suapin. Boleh?" tanya Becca, matanya menyorot penuh rasa cinta yang cukup mendalam.
"Boleh dong, apa sih yang enggak boleh buat istriku. Bahkan nyawa pun, akan aku berikan padamu jika itu bisa membuatmu tersenyum bahagia."
Jawaban dari Rio, selalu bisa meluluhkan hati Becca. Rasanya Becca seperti es batu yang beberapa kali meleleh akibat ucapan yang sangat manis. Mungkin jika Rio menggombali Becca, itu tidak akan mempan dan juga pantas. Jadi, beginilah cara Rio untuk melihat senyuman di wajah Becca.
"Terima kasih, Kak. Kakak selalu bisa membuatku tersenyum, sekali lagi terima kasih. Aku mencitai, Kakak!"
Rio tersenyum sambil menyodorkan sendok di depan wajah Becca. Suapan pertama masuk dengan sempurna tanpa hambatan sedikit pun.
Namun, suapan berikutnya sedikit membuat Becca menjengkelkan. Sebab, Rio memperlakukannya seperti anak kecil yang mogok makan.
"Uhh, si cantiknya aku mau makan iya? Ini, ini ada pesawat terbang, ngiuungggg .... Jlep, masuk deh. Eh tunggu dulu, kenapa macet? Wah, sepertinya pesawat salah jalur. Dia malah melewati jalur darat bukannya udara hahah ...."
Rio tertawa cukup geli ketika melihat ekspresi Becca yang terdiam mematung sambil menggigit sendok dengan tatapan melotot.
Sumpah, baru kali ini Becca di perlakukan seperti anak kecil yang sedang ingin di manja oleh ayahnya. Becca saja tidak kepikiran, Rio bakalan bertingkah konyol seperti ini.
Hanya saja, apa daya. Becca yang merasa malu, langsung memiringkan duduknya menatap ke arah lain dalam mode ngambek.
__ADS_1
Penampakan ini yang sering di lihat oleh semua orang ketika anak kecil sedang mogok makan, sama persis seperti Becca.
"Hyaak, apa-apaan sih. Kakak kira aku ini bocil! Dahlah, malas aku. Kakak abisin aja makanannya sendiri. Hump!"
"Uhh, tututu. Kok ngambek sih, makan dulu ayo. Kasihan lih moster di perutmu sudah mulai menggerogoti dagingmu. Kasian, nanti kalau kurus gimana, hem?"
"Bodo amat, malah bagus. Aku tidak perlu rajin-rajin diet!"
"Ihh, kok gitu sih. Maafin aku ya, aku sudah keterlaluan sama kamu. Maafin aku, sayang. Aku janji deh, nanti kalau ayang makannya udah habis. Aku beli es krim, mau? Atau aku cium, hem?"
Seketika, mood Becca langsung melonjak pesat. Awalnya dia cemberut persis seperti bocil ngambek. Kini, langsung tersenyum layaknya orang yang lagi kasmaran atau jatuh cinta.
Tidak sia-sia Rio menggoda Becca, akhirnya dia tertawa dengan sendirinya setelah mencubit tangan Rio dengan kesal, tapi wajahnya begitu bahagia.
"Aaaa ... Kakak, stop! Jangan berulah lagi, atau aku---"
"Aku apa, hem? Kamu mau cium aku duluan, iya? Oke aku tunggu nih, hmmm ...."
Rio memuncungkan bibirnya sambil mendekati ke arah wajah Becca tanpa rasa takut. Sementara Becca terkejut bukan main sama aksi Rio yang terbilang menggemaskan dan sedikit ekstream.
Sampai akhirnya, satu tanda cantik mendarat tepat di bibir Rio yang membuatnya melototkan matanya sambil terkejut.
Apakah Becca benar-benar memberikannya? Waw, jika benar. Rio pasti menang banyak, dengan bermodalkan sedikit cosplay jadi anak manja di sudah mendapatkan sentuhan manja dari Becca.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...