Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Oppa Naku


__ADS_3

"Udah lu aja sono yang maju, 'kan tadi lu duluan yang mulai. Ogeb!" bisik Dika kepada Toni.


"Dih, enak aja. Lu jugalah, kalau salah satu salah ya kita harus kompak. Maju satu maju semua, lu juga tadi ikut-ikutan ngeledekin Naku." sahut Toni, tidak terima.


"Gimana kalau kita suruh Budi aja yang wakilin kita berdua, 'kan dia bisa tuh ngerayu. Siapa tahu Bu Susi yang galak itu bisa langsung luluh, ya 'kan?"


Dika mengedipkan matanya sambil menghasut Toni, supaya dia mau membujuk Budi yang duduk di depannya.


Toni tersenyum memberikan jari jempolnya pada Dika, lalu dia memanggil Budi dan membisikan apa yang Dika katakan. Budi pun menoleh menganggukan kepala, pertanda dia sudah mengerti.


Namun, di saat Toni dan Dika sedang bertos ria. Tiba-tiba mereka malah di buat terkejut oleh perkataan Budi yang mampu membuat keduanya merasa frustasi.


"Bu, tadi Toni bilang kata Dika saya harus ngerayu Ibu, siapa tahu Ibu Susi merasa terpesona dan tidak jadi ngehukum kita semua. Jadi gimana, Bu?"


"Ibu mau 'kan saya rayu? Tenang, Bu. Tenang, nanti saya kasih 3 permintaan. Tapi, jangan yang susah-susah soalnya Budi bukan Bang Jin."


Mata Dika dan Toni hampir saja copot, mereka tidak menyangka bila Budi bisa membocorkan rahasianya. Seharusnya Budi bisa langsung melakukannya tanpa kembali membocorkannya, tetapi kali ini di luar nalar Dika dan Toni.


Mereka saling menatap satu sama lain, lalu menepuk dahinya secara bersamaan. Sungguh, perkataan Budi berusan membuat semuanya tertawa. Dika dan Toni baru mengetahui bila Budi, sahabatnya itu terlalu kelewatan polos hingga mendekati kebo*dohan yang hakiki


"Dasar anak Daj*jal!" ucap Dika, pelan.


"Kalau aja bukan temen, udah gua racunin tuh anak. Sumpah!" sahut Toni, menahan emosinya.


Budi hanya bisa menatap Bu Susi dengan tatapan polos sambil menaik-naikan alisnya. Lagi-lagi membuat semua tertawa, kini suasa menegangkan berhasil tercairkan oleh sikap Budi yang terlalu ogeb.


Bu Susi yang sudah tidak bisa mentoleransi, kembali manggil 3 nama itu dalam keadaan wajah yang sangat datar.


Dika, Toni dan Budi pun bergegas berlari kemudian berdiri di depan kelas bersama Naku.

__ADS_1


Tanpa basa-basi mereka langsung di berikan hukuman untuk menulis kalimat *Saya berjanji, tidak akan membuat keributan di kelas selama pelajaran Ibu Susi berlangsung*


Semua itu harus di tulis di buku tulis yang baru. Dari halaman depan sampai halaman belakang, artinya 1 buku penuh harus terisi oleh kalimat tersebut. Tidak lupa Bu Susi memberikan waktu kurang lebih selama 7 hari. Mulai dari hari ini.


Setelah itu, mereka berempat kembali ke tempat duduknya masing-masing. Dimana Naku duduk tepat di samping Naila.


Bu Susi segera memulai pelajarannya dalam keadaan kelas tenang, tanpa sedikitpun terdengar suara orang mengobrol atau tertidur.


Inilah kelas yang sangat menegangkan, hanya pelajaran Bu Susi yang terkesan seperti pelajaran Dosen tingkat tinggi. Sikapnya yang tegas, cuek dan tidak bisa di toleransi. Selalu membuat murid menganggapnya guru tergalak yang ada di sekolah tersebut.


2 jam kurang pelajaran Bu Susi telah selesai, lalu di ganti oleh pelajaran berikutnya sampai ketemu bel istirahat.


Kali ini mereka bisa belajar dengan santai tanpa di hadapi oleh suasana dingin, mencekram ataupun menegangkan.


2 pelajaran telah selesai, waktunya semua murid berlomba-lomba untuk pergi ke kantin. Akan tetapi berbeda sama Naku, dia masih duduk setia di kursinya untuk mengerjakan tugas atau bisa di sebut hukuman yang di berikan Bu Susi.


"Op--"


"Iya, Oppa Naku 'kan?"


"Bukan Oppa, tapi Naku!"


"Ishh, suka-suka akulah. Orang Oppa itu hampir mirip sama Oppa Korea, makannya kenapa aku mau jadi jodoh Oppa. Karena aku---"


"Pergi sana!"


"Oppa ngusir aku?"


"Ya, kenapa?"

__ADS_1


Naku melirik tajam ke arah kanannya, membuat Naila langsung cemberut dan mengembungkan kedua pipinya.


"Oppa jahat, aku 'kan ingin nemenin Oppa. Masa aku di usir sih, memangnya Oppa enggak mau aku temenin gitu?"


"Enggak, makasih!"


"Se-seriusan?"


"Pergi dari sini, atau gua yang pergi!"


"Ishh, yayaya. Naila pergi deh, tapi Oppa mau nitip apa? Naila mau beli makan, laper."


"Enggak!"


"Ckk, menyebalkan! Setahuku Oppa Korea itu baik, kenapa yang ini jahat? Terus juga irit banget lagi ngomongnya, apa dia lagi sariawan?"


"Sekali lagi mengumpati gua, jangan harap lu bisa duduk di samping gua. Ngerti lu!"


"Huaa ... Jangan dong, yayaya. Naila pergi, bye!"


Naila tergesa-gesa meninggalkan kelas karena dia takut, jika Naku akan berbuat nekat untuk memindahkan kursinya.


Naila tidak mau, dia sudah terlau nyaman duduk di samping Oppanya. Walau terbilang Naku sangat cuek, tetapi sikap itu semua membuat Naila semakin penasan sama sosok Naku yang terbilang langka.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2