
"Sudahlah jangan berbicara seperti itu, kamu tidak salah yang salah adalah keegoisan kita. Kita selalu memikirkan keinginan kita masing-masing sampai lupa dengan kewajiban kita seharusnya. Ingat! Aku tidak melarangmu untuk bekerja, hanya saja kita harus tetap memperhatikan rumah tangga juga anak. Aku tidak mau kita terus menerus seprti ini, kasihan Joey. Dia tidak bersalah, tetapi selalu menjadi korban keegoisan kita."
"Apa kamu ingat penyakit apa yang Joey derita? Dia memiliki hati yang tidak baik-baik saja dari kecil, kita harus lebih memperhatikan dia jangan sampai menambah beban pikirannya. Semakin dia ngebatin, penyakitnya akan semakin menyebar. Apa kamu mau kehilangan anak kita satu-satunya? Tidak, bukan? Aku juga sama, maka dari itu ayo, kita turunkan ego masing-masingn!"
"Kamu boleh kerja sesuai sama apa yang kamu sukai, tetapi ingatlah tentang keluarga yang menjadi harta satu-satunya bagi kita. Kerja secukupnya, luangkan waktu yang banyak untuk keluarga jangan sampai kita menyesal. Aku janji, aku akan kerja lebih giat lagi penuh semangat untuk mencukupi kehidupanmu supaya kalian tidak merasa kekurangan. Aku begini bukan semata-mata aku ingin kamu berdiam diri di rumah, hanya saja aku ingin salah satu dari kita lebih memperhatikan Joey. Aku tidak mau penyakit itu menggerogoti hati kecilnya. Aku belum siap untuk dihadapi dengan kehilangan!"
"Aku sedang berusaha mencari rumah sakit terhebat di dunia ini untuk bisa menyembuhkan anak kita, tetapi aku harus menunggu untuk mendapatkan giliran agar bisa menyembuhkan Joey. Donor hati bukan sesuatu yang mudah untuk di sembuhkan, banyak prosedur yang harus kita lewati. Penyembitan hati membuat Joey tidak bisa banyak bergerak atau kecapean yang akan membuat dia bisa kembali drop. Apa lagi posisi rumah tangga kita selalu bertengkar, itu tidak akan baik untuk dunia kecilnya."
"Seharusnya Joey bisa menikmati masa kecil yang indah bersama keluarga, kini dia harus terus menyaksikan perdebatan yang berakhir dia ingin hidup menyendiri. Apa kamu siap, berpisah sama Joey? Kamu siap selama bertahun-tahun harus berdua seperti ini sampai pendidikan Joey selesai? Tidak mau, 'kan? Sama, Sayang. Aku juga tidak mau itu terjadi!"
"Jadi, ayo, sama-sama kita memperbaiki hubungan ini. Fokus kita hanya satu membahagiakan Joey, dari pada memperbesar keegoisan bersama. Kita berlomba-lomba mencarikan pengobatan terbaik untuk Joey, dari pada harus berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling bagus berkarya. Apa kamu paham sama apa yang aku maksud, hem?"
Apa yang dikatakan oleh sang suami benar-benar sangat menyentuh. Sejauh ini mereka hanya memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk pengobatan sang anak, tetapi tidak mencari di mana tempat terbaik untuk berobat.
__ADS_1
Seandainya semua ini terus berlarut, tidak kebayang bukan? Betapa hancurkan Joey, dia harus menelan pil pahit setiap saat dan harus menyaksikan kehidupan yang terlalu berisik di dalam kepala hanya untuk menyaksikan keributan sepele dari kedua orang tua.
Ragil dan Rani adalah pasangan yang saling mencintai, apa pun mereka bisa lakukan demi menjaga rumah tangganya. Akan tetapi, mereka tidak tahu bagaimana menjaga sang anak agar tetap merasa nyaman di dekatnya.
Kurang lebih beberapa bulan terakhir ini, Joey terlihat lebih murung. Dia kebanyakan berdiam diri tanpa mengatakan apa-apa, dia tidak akan berbicara jika tidak ditanya. Hubungan orang tua dan anak semakin menjauh, hingga mereka tidak sadar kalau Joey sudah mulai tidak betah berada di rumah.
"Iya, Sayang. Aku paham apa yang kamu katakan ini, aku akan mencoba untuk meluangkan waktu demi anak kita. Aku janji, aku akan lebih banyak waktu di rumah untuk memperbaiki hubungan kita. Aku tidak peduli jika nanti aku dipecat dari kerjaan, aku sudah siap semua itu. Apa yang kamu katakan memang benar, Gil. Kita harus lebih memperhatikan kondisi Joey, dia harus kita selamatkan apa pun caranya aku akan tempuh itu. Aku tidak mau kehilangan anak satu-satunya, dan aku juga tidak mau kehilangan kamu. Please, bantu aku berubah. Ingatkan aku jika salah, jangan malah memarahiku yang membuat emosi kita semakin meledak-ledak!"
"Aku sadar, hidupku ini adalah tentang kalian bukan pekerjaan. Jika harus memilih, aku lebih baik kehilangan harta dari pada kalian. Aku sudah tidak ada keluarga di dunia ini, hanya kalianlah satu-satunya. Sebisa mungkin aku akan menjaga kalian, walaupun aku harus membayarnya dengan nyawaku sendiri. Aku mohon, Sayang. Maafkan keegoisan aku yang kurang mengerti apa maksudmu, aku selalu menyalahkan bahkan membandingkan bagaimana caraku memperhatikan Joey. Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Kita mulai semua dari awal, ya?"
Mereka kembali berpelukan satu sama lain, lalu menghapus air mata dan bersama-sama mengobati luka yang ada di sudut bibir. Tidak lupa juga, mereka mengirimkan pesan pada Sus Rini untuk tetap mengecek keadaan Joey. Apakah dia bisa ditemui atau tidak, jika memang bisa. Malam ini mereka akan menyelesaikan masalah kesalah pahaman tersebut, tetapi kalau tidak bisa mereka akan menahannya sampai besok pagi.
Setelah mereka selesai mengobati luka, kurang lebih jam menunjukkan pukul 10 malam. Sus Rini memberikan kabar bahwa keadaan Joey baik-baik saja, dia tidak seperti biasanya. Hanya badannya sedikit deman akibat kelelahan, di situ Ragil dan Rani mulai panik.
__ADS_1
Mendengar Joey panas, sudah membua hati mereka gelisah. Mereka tidak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali karena akan berakibat fatal bagi Joey. Penyakit yang di derita saat masih kecil akan terus berkembang, sampai waktu yang sudah di tentukan tidak lagi berlaku.
Mungkin selama ini Rani berpikir kalau Ragil tidak memperdulikan sang anak, nyatanya Ragil yang jauh lebih peduli. Dia sudah membuatkan semua kartu kesehatan demi mempermudah akses Joey ketika di rawat di rumah sakit mana pun. Joey juga sudah di daftarkan di rumah-rumah sakit terbesar untuk melakukan donor sejak usai 3 tahun.
Semua Ragil lakukan tanpa sepengetahuan sang istri, sehingga saat Rani tahu semua dokumen serta berkas-berkas yang sudah Ragil persiapkan ada di depan matanya.
Rani tidak menyangka, Ragil jauh lebih siap siaga untuk menjaga sang anak dan menyayanginya tanpa harus berkoar-koar. Cukup lakukan dan buktikan bagaimana rasa sayang itu, selebihnya orang yang harus menilai dari semua pengorbanan yang dia lakukan dibelakang.
Mereka berdua bergegas pergi ke kamar Joey, Sus Rini langsung berpamitan untuk meninggalkan mereka bertiga demi memberikan ruang tersendiri supaya mereka bisa lebih leluasa berbicara.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...