Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Fakta Masa Lalu Naila


__ADS_3

"Kakak!" Suara teriakan yang begitu keras terdengar nyaring membuat semua perawat yang ada di sana langsung menatap ke arah Leon dan Vivi.


Mereka begitu terpukul atas kejadian yang menimpa keluarga Naila. Tidak tahu harus melakukan apa lagi, mereka berdua hanya bisa menyesali kecelakaan yang mengharuskan Naila hidup tanpa kedua orang tua kandungnya.


Ayah dan ibunya Naila di makamkan di dalam satu peti dalam keadaan tangan sang bunda memegang lengan sang ayah. Meskipun, wajah mereka terlihat banyak luka tetap saja ketampanan dan kecantikan sepasang suami-istri itu terus terpancar. Di mana coretan-coretan kecil menghiasi wajah mereka satu sama lain, serta pakaian pernikahan yang sangat mewah.


Semua itu sengaja dibuat seolah-olah mereka kembali menikah, tetapi bukan di dunia melainkan diakhirat. Leon sama Vivi berharap agar kakak dan kakak iparnya bisa hidup bahagia diakhirat tanpa kembali merasakan kesakitan atas luka yang mereka derita ketika kecelakaan.


Untuk terakhir kalinya, Naila mencium kedua orang tuanya sambil menangis seakan-akan dia telah mengerti kalau kedua orang tuanya sudah tiada. Melihat semua itu membuat tangis Leon, serta Vivi kembali menetes akibat tidak tega melihat anak sekecil Naila harus menyaksikan kepergian kedua orang tuanya.


Dari situlah, Leon sama Vivi langsung melaksanakan tugas mereka masing-masing untuk merawat hingga membuat Naila menjadi anak pertamanya. Maklum saja, mereka berdua belum mendapatkan anak karena kondisi kesehatan rahim Vivi sedikit bermasalah.


Entah, ini sebuah rezeki atau musibah Vivi tidak mengerti. Setidaknya mereka harus bisa menjadi kedua orang tua Naila yang tidak akan menyia-nyiakannya dan menyayanginya seperti ibu, serta ayah kandung Naila sendiri.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Semua kisah masa lalu Naila telah diceritakan sebaik mungkin agar tidak membuat gadis itu merasa terpukul akibat kesedihan atas meninggalkan kedua orang tuanya.


Vivi tidak kuat ketika harus mengingat tentang masa lalu yang menyakitkan itu. Apa lagi rasa sakit serta rinti*han dari ibu Naila masih terdengar jelas di telinga, serta luka-luka lainnya yang ada ditubuh masih terekam di dalam memori otaknya.


Leon juga tidak bisa menceritakan sedetail mungkin tentang semua kejadian itu, lantaran hatinya masih sangat terluka. Hanya karena supir angkot yang ngantuk bisa menum*balkan banyak korban lainnya. Untungnya supir tersebut tewas di tempat, seandainya tidak kemungkinan besar Leon akan memba*bi buta untuk melenyapkannya.

__ADS_1


Naila terdiam menatap dengan pandangan lurus ke arah depan. Dia kembali mencoba mengingat semuanya, tetapi tidak bisa. Semua kejadian itu sudah terlalu jauh dan posisi Naila juga masih sangat kecil, sehingga daya ingatnya tidak bisa menembus masa-masa di mana Naila mengingat kembali wajah kedua orang tuanya.


"Ji-jika A-ayah dan I-ibu telah tiada, kenapa Naila tidak pernah melihat kalian mengunjungi makam mereka? Kenapa!"


Naila bertanya disertai bentakan yang memperlihatkan betapa rapuh, sakit, dan kecewanya gadis tersebut ketika mengetahui semua kejadian itu tepat di hari ini.


"Setiap bulan kami selalu mengunjunginya, tetapi kami tidak bisa memberitahu semua itu secara terang-terangan. Kami hanya belum siap untuk menceritakan tentang mereka kepada kamu. Hati kamu masih terlalu sakit menerima semua takdir yang tidak ingin kami terima. Namun, kami tidak tahu lagi. Kalau kami tetap egois untuk menyalahkan takdir, sudah pasti hidup kami tidak akan sebahagia ini."


"Akan tetapi, jika dibilang kami sudah mengikhlaskan semua itu tidak juga. Kami masih terbayang akan masa lalu itu, kami takut amanah besar yang mereka berikan pada kami tidak bisa kami jalankan dengan baik. Kami takut, seandainya kami mengatakan bagaimana semua itu terjadi pasti kamu akan marah dan berpikir kalau kami sengaja menjauhkanmu dari orang tua kandungmu sendiri. Padahal, tidak, Sayang. Bukan seperti itu, kami hanya butuh waktu yang tepat untuk----"


Perkataan Leon terhenti ketika Naila langsung menatapnya dan membantah semua yang sudah diucapkan.


"Nunggu waktu yang tepat Ayah bilang, hahh? Mau sampai kapan? Naila besar? Naila nikah? Naila punya anak? Naila punya cucu, atau Naila udah meninggal, hahh?"


Namun, Naila malah berusaha melepaskan diri dari mereka sambil menangis. Kemudian, Naila berdiri tepat di depan kedua orang tua yang ternyata adalah paman dan bibi Naila sendiri.


"Cukup, sudah cukup! Dari semua cerita yang kalian bicarakan tidak ada satupun yang membuat Naila bisa mempercayai kalian semua!"


"Jika benar ayah dan ibu kandung Naila benar-benar tiada, kenapa kalian tidak berusaha menjelaskan pelan-pelan sama Naila. Kenapa kalian harus berbohong demi menutupi semua fakta yang ada, kenapa?"


"Jangan-jangan kalian memang sengaja tidak mengatakan semua ini karena ingin menghilangkan siapa jati diri Naila yang sebenarnya. Dengan begitu kalian bisa sepenuhnya menguasai hidupku tanpa Naila tahu siapa orang kandung Naila sendiri, iya? Atau, sampai Naila ma*ti pun Naila tidak akan mengetahui kebenaran ini!"

__ADS_1


"Naila benar-benar kecewa sama kalian, hampir 12 tahun lebih Naila tidak mengetahui apa pun tentang kenyataan ini. Lalu, sekarang Naila baru tahu kalau kalian ternyata bukan ayah dan bunda kandung Naila, melainkan Paman serta Bibi yang merawat Naila dari kecil dengan amanah mendiang orang tuaku untuk menjadikanku sebagai anak kalian sendiri!"


"Seandainya kalian jujur dari awal, mungkin rasa sakit dan kecewa yang Naila rasakan tidak akan seberat ini. Cuman, akhhhh ... Pokoknya Naila benar-benar kecewa sama kalian, pantas saja akhir-akhir ini kalian tiba-tiba saja meminta maaf dan selalu mengatakan kalau Naila tidak boleh meninggalkan kalin. Sementara kalian? Kalian malah terus menerus bohongi Naila, padahal Naila ini udah besar Paman, Bibi. Naila udah besar!"


Degh!


Perkataan Naila benar-benar telah melukai mereka tanpa disengaja. Dengan menggantikan julukan nama yang biasa Naila panggil untuk mereka menggunakan sebutan lain, telah berhasil menggoreskan luka panjang dan termat mendalam di hati mereka.


Inilah yang Vivi khawatirkan ketika mereka harus jujur. Wanita itu takut jikalau Naila akan memanggilnya dengan sebutan bibi, bukan lagi bunda seperti bisa yang dia dengar setiap detiknya.


Naila sudah tidak kuat lagi menahan semua rasa tersebut, hingga memutuskan untuk berlari pergi meninggalkan kamar kelur dari rumah. Leon dan Vivi yang melihat Naila berlari langsung mengejarnya tanpa memperdulikan suara tangisan anak mereka yang terbangun.


Seorang pembantu rumah melihat adegan mereka saling mengejar membuatnya langsung panik, tetapi dia harus mengutamakan si kecil yang menangis. Akhir-akhir ini rumah mewah itu memang terasa panas, semua itu disebabkan bentrokkan di dalam hubungan mereka mengenai masa lalu.


Sebenarnya, pembantu itu tahu silsilah keluarga Naila. Hanya saja dia tetap terdiam sampai Leon dan Vivilah yang akan mengungkap semua itu. Sementara pembantu itu, akan menjadi saksi untuk bisa mengembalikan hubungan mereka menjadi hangat.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2