
Suasana yang sudah mulai kembali adem, membuat Joey semakin nyaman berada di dalam lingkungan keluarga Yola. Dia merasa begitu diperhatikan oleh Becca dan Rio, tidak seperti ketika berada di rumah. Meskipun Yola sama Joey bertemu dalam keadaan tidak sengaja, juga bukan teman di dalam lingkungan sekolah, mereka tetap menerima Joey tanpa melarangnya untuk berteman.
Sikap Joey yang ramah, tenang juga tidak banyak tingkah, membuat Becca dan Rio menjadi senang saat mengenal Joey yang tidak seperti anak lainnya. Disinilah Naku kembali berulah, dia merasa tersaingin oleh Joey yang dianggap sedang mencari muka atau bersilat lidah. Kecemburuan Naku semakin tidak terkontrol, itu yang membuat Naku terkadang susah mengendalikan emosionalnya.
Semua Naku lakukan bukan semata-mata karena dia menaruh hati pada adiknya sendiri, melainkan dia tidak ingin Yola terlalu sibuk bermain sama Joey hingga melupakan keberadaan Naku. Ya, itulah Naku. Dia ingin diperhatian juga disayangi oleh Yola, tetapi tanpa sengaja dia mencari perhatian dengan cara yang salah. Kecuekan di dalam hati Naku terkadang membuat Yola kesal, hanya saja tidak sampai menghilangkan rasa sayang seorang adik pada sang kakak.
"Oh, ya, Joey sekarang umur berapa? Sepertinya Joey bukan asli orang sini, ya?" tanya Becca sambil tersenyum.
"Umurku 10 tahun lebih dikit, Tan. Kalau dibilang asli sini, aku asli sini. Cuman Daddy ada keturunan orang Korea jadi aku kelihatan kaya bukan lahir di sini hehe ...."
"Oalah, pantesan. Soalnya wajahmu itu imut banget, ingin deh, Tante meluk kamu, boleh?" tanya Becca penuh rasa gemas dengan mata sipit Joey dan kulitnya yang sangat putih mulus.
"***---"
"Tidak!" ucap Rio dan Naku secara bersamaan dalam keadaan tegas menatap datar ke arah Becca.
Semua orang terkejut bukan main, apa lagi Joey. Dia langsung kembali menutup rapat bibirnya agar tidak sampai salah dalam berbicara.
"Enggak ada yang namanya peluk-peluk pria lain, paham!" sahut Rio, tatapan matanya kali ini benar-benar berbeda.
"Isshh, apaan sih, By! Dia itu anak kec---"
"Mau kecil, dewasa bahkan tua sekalipun. Aku bilang tidak ya, tidak!" seru Rio.
"Tap---"
"Kalau dibilangin suami itu nurut, lagian dia orang luar. Bagaimana kalau dia sampai suka sama Mommy, bahaya bukan! Mending cari aman deh, ya kali Mommy mau ganti suami lagi," celetuk Naku langsung mendapatkan pelototan mata dari kedua pihak yang bersangkutan.
__ADS_1
Suasana di sana kembali menjadi tidak enak, kecemburuan yang Naku punya ternyata sama seperti Rio. Ya, mu bagaimana lagi. Jika suami sudah mencintai istri dengan hati, perasaan itu akan muncul tanpa di sengaja.
Namun, apa daya. Yola tidak ingin ikut campur masalah orang dewasa. Dia lebih fokus melihat ke arah Joey yang hanya terdiam membisu.
"Kak Joey, Sus Rini, makasih ya, kalian sudah mau membantu Yola. Kalian baik deh, nanti kapan-kapan kita main lagi, boleh?" ucap Yola tersenyum lebar.
"Boleh, nanti kita tukeran nomor ya, biar kalau kamu ada apa-apa aku bisa bantu dan kita bisa main lagi." Joey terlalu bersemangat menjawab pertanyaan Yola, tanpa melihat singa penjaga Yola sudah mulai meraung.
"Wahh, boleh tuh, Kak. Yola seneng deh ketemu sama kakak, ehh, tapi ... tapi, Yola belum nempatin janji yang waktu itu. Gimana dong?"
"Udah enggak usah, gapapa, kok. Pokoknya kamu sehat dulu aja, aku pun sudah melupakan semua itu. Toh, itu hanya permainan jadi jangan dipikirin, oke?" jawab Joey, tersenyum kecil.
"Yola enggak enak, 'kan waktu itu Yola yang buat janji, terus---"
"Sudah, Non. Tidak perlu dipikirin lagi, Den Joey memang begitu. Dia kalau menolong seseorang tidak pernah perhitungan, bahkan waktu itu ada ibu-ibu jatuh keserempet mobil yang ada di depan kita, tapi Den Joey yang bertanggung jawab buat bawa ke rumah sakit pakai uang tabungannya sendiri. Anak majikan saya ini memangbaik banget, makannya saya bersyukur bisa bekerja sama orang tua Den Joey, apa lagi Non Yola adalah teman satu-satunya yang Den Joey punya, karena---"
"Elehh, gitu doang pamer! Udah jangan dipercaya, mereka tuh, lagi cari muka biar dianggap orang baik. Bocah ingusan kaya gitu dipercaya, paling juga diluar dia anak yang bandel, ngeselin juga suka bikin onar di sekolah. Sekarang aja dia bersikap baik supaya bisa dipuji-puji sama kita, padahal mah semua hanya omong kosong!"
Sindiran Naku membuat Yola kembali kesal, matanya mulai mendelik melirik ke arah Naku yang terus menjelekkan Joey agar membuat Becca sama Rio termakan omongan yang tidak sesuai fakta.
"Kakak!" geram Yola.
"Kenapa? Memang ben---"
"Kakak enggak boleh begitu, mau bagaimana pun dia tetap teman adikmu. Jadi, kamu sebagai kakak harus tetap mendukung selama ini benar dalam artian masih batas wajar. Toh, nanti kamu juga akan punya teman, bukan? Nah, disitulah tugas Yola sebagai adik akan bergantian untuk mendukung pertemanmu asalkan baik. Paham apa yang Daddy sampaikan ini, hem?"
Rio terus mencoba menengahi kedua anaknya agar tidak sampai kembali berdebat, disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang guru di dalam lingkungan keluarga agar keutuhan tetap selalu ada.
__ADS_1
"Tuh, dengerin!" sahut Yola kembali menyindir Naku.
"Kau pun sama, jangan bisanya ngoceh doang!" seru Naku tidak terima. Mata mereka langsung saling menatap satu sama lain penuh rasa kesal yang membuat Becca menghembuskan napasnya secara kesar.
"Hahhh, gini banget punya anak. Kerjaannya ribut terus, kapan akurnya sebagai saudara, hem? Apa kalian enggak malu dilihat sama Joey? Dari tadi Mommy dengar kalian tuh, ngeributin Joey mulu. Sedangkan orang yang kalian ributin hanya bisa tersenyum," ucap Becca.
"Habisnya Kakak, Mom. Dia selalu jelekin Kak Joey, padahal dia baik, tapi---"
"Udah, gapapa kok, setiap orang berhak berpikir seperti itu. Harusnya kamu bersyukur, kakakmu seperti itu karena sayang banget sama kamu. Dia tidak mau adik kesayangannya terluka, bahkan nangis," sahut Joey, membuat Naku semakin besar kepala.
"Nah, dengar tuh, apa yang dia bilang. Kalau aku enggak sayang, gak mungkin aku begini. Paham kam ... Ehh!" Naku baru menyadari jika ada yang aneh dari apa yang dia katakan dan benar saja, tanpa disadari Naku malah mendukung Joey.
"Hyaak ... Kenapa aku malah setuju sama perkataannya? Akhhh, enggak ... enggak gitu pokoknya!" pekik Naku kesal. Melihat tingkah aneh Naku membuat semua tertawa kecil seperti menyudutkannya.
"Berarti apa yang dikatakan Joey salah, gitu?" Becca mulai melirik sinis putranya seolah-olah sedang mengintimidasi, "Ohh, jadi kamu tidak sayang dengan adikmu sendiri. Kamu tidak pedul---"
"Aakhhhh, gak gitu konsepnya, Mommy! Naku sayang sama Yola, tapi Naku tidak suka sama dia. Gimana kalau nanti Yola memihak sama dia, terus rasa sayangnya buat Naku hilang? Gimana, Mom. Gimana? Naku enggak mau, Mommy tahu sendiri 'kan, Naku dari dulu ingin punya adik perempun dan sekarang sudah kesampaian jadi Naku harus bisa menjaganya sebaik mungkin. Mommy paham!"
Semua orang langsung menatap satu sama lain, mereka tersenyum bukan berarti menertawakan wajah Naku yang terlihat begitu lucu ketika marah. Akan tetapi, rasa cemburu yang Naku punya melebihi rasa cemburu kekasih pada pasangannya sendiri.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1