
"Ja-jangan nangis, Mam. Jo-joey tidak suka melihat air mata ini, apa lagi saat Joey tiada nan---"
"Please, jangan ngomong seperti itu, Sayang. Mamih mohon, hentikan!"
Rani memeluk Joey semakin erat seakan tidak ingin melepaskan Joey, meskipun dia harus melawan malaikat maut tetap Rani akan mempertahankan sang anak agar bisa hidup jauh lebih lama dari hidupnya sendiri.
Di sinilah, hati nurani seorang ibu terkupas. Sesibuk apa pun Rani, seegois apa mereka pada sang anak tetap saja hati mereka tidak bisa dibohongi. Jika Joey merupakan anal satu-satunya yang sangat mereka sayang, hanya Joey anugerah yang Tuhan berikan sebagai penyempurna keluarga kecil mereka.
Ragil yang sangat tahu perasaan Rani, hanya bisa memeluk mereka hingga menangis bersama dalam waktu beberapa menit. Kemudian, satu persatu melepaskan pelukan membuat Joey berada di tengah mereka sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Joey masih tidak percaya kalau semua ini benae-benar nyata, beberapa kali dia mencoba memejamkan kedua matanya lalu membuka kembali sambil menampar kedua pipi hingga mencubit keras tangan. Tetap saja, hasilnya sama. Semua yang terjadi nyata 100 persen, kalau Rani dan Ragil telah membuktikan kasih sayang mereka terhadap anak tercinta.
"Kami mohon, Sayang. Jangan berkata seperti itu lagi ya, Papih dan Mamih akan tetap berjuang bagaimanapun caranya Joey harus sehat. Kalau perlu umur Joey jauh lebih panjang dari Papih dan Mamih. Intinya sekarang Joey harus berpikir yang positif bahwa suatu hari nanti Joey akan sembuh dan tidak lagi tergantung pada obat. Joey paham apa yang Papih sampaikan ini?"
Joey menganggukan kepala membuat Ragil langsung mencium keningnya sekilas, lalu sesekali menghapus air mata sang anak. Baru ini mereka melihat putra sematawayang yang tidak pernah meneteskan air mata sekali pun terluka dan sekarang mereka bisa melihat itu terlihat di mata Joey.
"Ba-bagaimana bisa keputusan itu diambil? Se-setahu Joey, Ma-mamih begitu sayang pada kerjaannya dari pada keluarga. Terus kenapa Mamih mau ngalah? A-apa semua ini karena paksaan dari Pa-papih?"
__ADS_1
Pertanyaan Joey langsung membuat kedua orang tuanya saling menoleh satu sama lain, lalu menggelengkan kepala secara bersamaan. Kemudian Ragil menceritakan bagaimana bisa keputusan itu diambil agar tidak membuat Joey salah memahami kedua orang tuanya.
"Beberapa jam lalu kami ...."
Ragil kembali mengingat semua kejadian di kamar bersama Rani, di mana mereka sedang membahas pilihan yang akan diambil demi kebaikan Joey.
Selesai Rani dan Ragil bersih-bersih sehabis pulang kerja, kurang lebih sekitas jam 7 Ragil mengajak sang istri untuk berbicara kembali menentukan pilihan terakhir yang akan diberikan untuk Joey.
Beberapa kali mereka membicarakan soal itu, tetapi tidak menemukan jawaban yang lebih baik. Hanya ada satu jawaban ketika mereka sedang diskusi yaitu, ngantuk atau lelah. Semua kata itu selalu keluar dari bibir Rani disaat Ragil mencoba untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Jikalau pun nantinya yang harus bekorban adalah Ragil, semua konsekuensi sudah siap diterima dengan baik.
Perusahaan Ragil tetap jalan, hanya yang menangani bukan dia melainkan orang kepercayaan. Akan tetapi, dibalik ikhlasnya Ragil terdapat sebuah keajaiban yang tidak terduga.
Jika dibilang sulit ya, pasti sangat sulitlah. Keduanya dipertemukan ketika ada meeting Perusahaan, sehingga sudah tahu satu sama lain kalau mereka memang senang bekerja. Bukan karena uang, tetapi harga diri yang membuat mereka harus hidup mandiri tanpa harus meminta ataupun diberi.
"Aku tahu, Sayang. Ini adalah keputusan terberat di dalam rumah tangga kita, apa lagi beberapa kali kita pernah bertengkar hanya karena pilihan ini. Namun, ketika pilihan itu diberikan oleh anak sendiri rasanya sungguh, berat sekali. Kita sudah berjuang dari titik nol untuk sampai di puncak kejayaan dalam berkarier, tetapi hanya tinggal satu langkah lagi kita harus berhenti karena pilihan tersebut."
"Aku paham, kamu adalah orang yang paling berat melepaskan pekerjaan itu. Cuman mau bagaimana lagi, kita tidak ada pilihan, Sayang. Pilihan hanya ada satu, kamu atau aku yang berhenti bekerja supaya Joey tidak merasa bahwa kita bukan orang tua yang tidak mengharapkan kehadiran anaknya."
__ADS_1
"Pertama kali kita kenal itu karena pekerjaan, sampai akhirnya kita dekat juga berkat pekerjaan. Lambat taun, kita menjalin hubungan dan berjanji akan membina rumah tangga yang baik. Nyatanya? Kita gagal, Sayang. Kita gagal! Jika Joey sudah memberikan pilihan itu, artinya selama ini yang kita lakuin itu salah. Joey tidak hanya butuh uang untuk biaya pengobatan, tapi juga kasih sayang. Sudah lama kita tidak pernah luangkan waktu untuk sekedar liburan, makan di luar, bermain dan tertawa bersama serta masih banyak lagi yang tidak bisa kita lakukan!"
"Kamu ngerasa tidak, semenjak kamu naik jabatan lebih tinggi dengan gaji yang sangat besar serta perusahaanku juga mulai menunjukkan perkembangan, kita semakin tidak pernah ada waktu untuk Joey. Lebih parahnya kita tidak pernah menemani Joey cek up setiap bulannya, hanya Sus Rini yang selalu menemani Joey ke mana pun Joey pergi. Untungnya, Joey tidak tumbuh menjadi anak yang bandel. Jika itu sampai terjadi pertanda kalau kita memang tidak layak menjadi orang tua. Kita sudah sangat-sangat gagal!"
"Mungkin dengan adanya pilihan yang Joey berikan, tanpa kita sadari itu sebagai teguran dari Tuhan. Baru juga Joey mengatakan ingin hidup mandiri di negeri orang, kita sudah kebingungan seperti ini. Bagaimana jika kita terlalu fokus dengan pekerjaan, lalu tiba-tiba dapat kabar duka dari anak kita sendiri, apa kita tidak akan menyesal? Semua ini sama halnya seperti Tuhan memberikan pertanda kalau Dia akan menjauhkan kita dari Joey secara perlahan, sampai akhirnya kita lupa jika suatu saat nanti Dia akan mengambil Joey untuk selamanya karena kita lalai sebagai orang tua dalam menjaga anak kita sendiri!"
"Sudah saatnya kita harus berubah, Sayang. Sulit atau tidak itu urusan nanti yang penting kita tetap berjuang demi keluarga kecil ini agar tetap bahagia. Sudah banyak waktu yang kita buang hanya demi mengejar karier sampai kita lupa ada anak yang sangat-sangat butuh kasih sayang. Walaupun, Joey terlihat sehat tetap saja dia punya penyakit yang sangat berbahaya. Jadi, kita tidak boleh terlalu egois, Sayang. Aku tidak mau, suatu saat nanti kita benar-benar menyesal!"
"Untuk itu ... A-aku ... Aku akan memutuskan, biarlah aku yang di rumah mengurus semua keperluan Joey, menemani Joey bermain, sekolah, belajar bahkan cek up. Kamu fokus saja sama kariermu, aku dukung demi kebahagiaanmu supaya bisa mengejar impianmu menjadi wanita karier. Atau jika kamu mau, kamu urus saja perusahaanku. Kamu gantikan posisiku di sana dari pada aku harus menyerahkan semuanya sama orang lain lebih baik aku serahkan kepadamu karena aku lebih mempercayai istriku sendiri. Jadi, gimana? Kamu siap buat menggantikan posisiku?"
Rani tidak bisa berkata apa-apa ketika dia mendengar semua ucapan sang suami yang begitu menyentuh hati. Sungguh, Rani terkejut melihat pengorbanan Ragil yang begitu mulia. Dia rela kehilangan Perusahaan demi menyelamatkan Joey agar tidak pergi meninggalkan mereka.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...