Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Mendadak Menjadi Rumah Sakit


__ADS_3

"Ada apa denganmu, Naku? Kenapa kamu berubah seperti ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kamu tidak akan memilih Daddymu karena dia sudah menyakitiku. Terus kenapa sekarang kamu seolah-olah menginginkan Mommy kembali dengannya?"


Becca mendongak ke atas menatap Naku yang berdiri tepat di hadapannya. Sorotan mata Naku tidak teralihkan sedikit pun, dia terus membalas tatapan Becca yang juga tidak mau kalah.


"Aku tidak berubah, yang berubah itu Mommy! Semenjak ada Om Rio, sifat Mommy tidak seperti dulu. Mommy malah terlihat kaya anak kecil yang baru menemukan teman. Berbeda sama Mommy yang Naku kenal saat masih bersama Daddy!"


"Harusnya kamu senang, karena setelah Mommy lepas dengan Daddymu. Mommy bisa kembali menjalani hari-hari Mommy dengan senyuman. Andai saja tida ada Om Rio, hidup kita tidak mungkin bisa seperti ini atau bisa jadi Mommy sudah menjadi salah satu pasien depresi!"


"Yayaya, Om Rio, Om Rio, Om Rio aja terus, Mom. Seakan-akan dia adalah super hero yang sangat hebat! Pada nyatanya, kita juga hidup dari hasil uang yang Daddy berikan setiap bulan. Bukan karena dia!"


"Terserah kamu, Naku! Kamu mau bilang apa, Mommy tidak peduli. Suatu saat nanti kamu akan mengerti, kalau kebahagiaan seseorang itu tidak bisa di ukur hanya dengan uang!"


Baru saja Naku ingin menjawab ucapan Becca, tiba-tiba saja pembantunya datang dalam keadaan terburu-buru di penuhi rasa panik.


"Nyonya Becca, Nyonya Becca! Di-di luar a-ada Tuan Rio dan Non Yola," ucap pembantu itu, langsung membuat Becca berdiri menatapnya.


"Kok bisa, Bi? Tumben banget mereka datang di jam segini? Terus juga, kenapa wajah Bibi terlihat panik? Memangnya ada apa?" tanya Becca, penasaran.

__ADS_1


"I-itu, Nya. I-itu ...." Tangan pembantu itu langsung menunjuk ke arah pintu utama, "Non Yola, Nya. Non Yola dari tadi memanggil nama Nyonya di dalam tidurnya. Badannya juga panas banget, Tuan Rio bilang mungkin Non Yola kangen sama Nyonya. Makannya di bawa ke sini, kalau tidak bertemu sama Nyonya panasnya selalu naik setiap 15 menit."


"Yo-yola, sakit, Bi? Ko-kok bisa? Perasaan tadi siang video call sama saya keadaannya baik-baik saja, kenapa sekarang bisa sakit? Terus kenapa tidak langsung di bawa ke rumah sakit, kenapa malah ke sini?" sahut Becca, hatinya mulai tidak tenang.


"Tuan Rio bilang, kalau dia membawa ke rumh sakit percuma saja. Itu tidak akan mempan, karena obat satu-satunya bertemu sama Nyonya. Maka dari itu, Tuan membawanya ke sini," jawab pembantu itu, wajahnya ikutan panik.


Meskipun sekarang dia sudah bekerja dengan Becca, tetapi dia pernah bekerja di rumah Rio sangat lama dan ikut membantu merawat Yola dari kecil bersama babysitternya. Jadi, terlihat dari sorot matanya kalau dia begitu mengkhawatirkan tentang kondisi anak majikannya.


"Ya sudah, ayo, Bi. Kita lihat mereka!" Becca langsung berlari kecil bersama pembantunya ke arah pintu utama. Di sana dia menemukan Rio yang sedang menggendong Yola dalam keadaan panik dan juga cemas.


Tanpa harus banyak basa-basi, Becca segera menyuruh Rio untuk masuk dan membawanya ke kamar tamu.


Sementara Naku, dia berjalan menuju kamar tamu dan berdiri tepat di dekat pintu sambil menyandar. Posisi tangan melipat ke dada, lalu sudut bibirnya tersenyum kecil.


"Sungguh, mengejutkan. Ternyata rumahku, bisa juga mendadak menjadi rumah sakit. Bahkan, suster sekaligus dokternya adalah Mommyku sendiri. Hebat!"


Suara tepukan tangan dari Naku, berhasil membuat Becca dan Rio langsung menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya sama-sama terlihat sangat bingung dengan maksud perkataan Naku yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak buka usaha klinik gratis 24 jam aja, Mom. Nanti 'kan bukan hanya mereka yang datang, warga sini pun bisa datang. Hitung-hitung kita sedekah!"


Kata-kata Naku benar-benar membuat Becca merasa malu terhadap Rio. Becca segera melirik ke arah Rio, begitu juga sebaliknya. Mungkin Becca tidak enak atas ucapan anaknya yang cukup pedas. Akan tetapi, bagi Rio biasa saja. Wajar bila Naku berkata seperti itu, karena apa yang Rio lakukan termasuk salah.


Sebenarnya dia tidak sedikit pun berpikiran untuk membawa Yola ke rumah sakit, karena saat mendengar Yola terus memanggil nama Becca. Satu-satunya cara yang ada di pikiran Rio, hanya ingin segera mempertemukan Yola sama Becca.


Jadi, tanpa berpikir panjang. Rio bergegas membawa Yola pergi ke rumah Becca. Alibi yang Rio gunakan untuk mengalihkan semua itu, sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malunya karena dia terlalu panik sama keadaan anaknya, sehingga tidak bisa berpikir sejauh itu.


Becca yang baru ingin menasihati Naku, langsung di tahan oleh Rio menggunakan kode tertentu. Senyuman dan kedipan kedua mata Rio secara perlahan, membuat Becca langsung paham.


Mungkin, saat ini kondisi Yola jauh lebih penting dari pada mereka harus menanggapi perkataan Naku yang mulai ngalur-ngidul. Bagi Rio, semakin mereka menanggapi Naku dalam kondisi seperti ini. Urusannya akan semakin panjang, bisa-bisa mereka menjadi ribut serta malah semakin membuat jarak di antara mereka semua.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2