
Sudah hampir 1 jam Leon dan Vivi mencari keberadaan Naila, tetapi tidak juga ditemukan. Rasa khawatir, cemas, juga penyesalan terus menghantui Vivi. Air mata wanita itu tidak kunjung berhenti ketika merasa kehilangan separuh dari hidupnya.
Di dalam mobil Vivi dan Leon terus menelusuri setiap jalan yang ada di dekat komplek rumah mereka, serta tempat-tempat biasa Naila kunjungi. Sayangnya, Naila tidak da di tempat itu. Entah, gadis itu hilang ke mana seakan-akan keberadaannya sudah ditelan oleh bumi.
Naila hanya mengandalkan kedua kakinya, sedangkan Vivi dan Leon menggunakan mobil. Akan tetapi, mereka tidak menemukan keberadaan putri kecilnya sejauh ini.
"Kamu ke mana sih, Naila sayang? Ayo, dong ... Please, keluar, Sayang!"
"Ayah minta maaf karena tidak memberitahu tentang masa lalumu, Ayah takut semua ini akan terjadi. Nyatanya, benar bukan, apa yang Ayah takuti terjadi juga. Teruz Ayah harus apa, Sayang? Ayah harus gimana? Please ... Kasih tahu Ayah, bukan malah lari kaya gini. Ayah takut kamu kenapa-kenapa di jalan, Nak!"
"Ayah janji, Ayah akan terima semua konsekuensinya atau hukuman apa pun. Ayah akan berjuang kembali untuk meyakinkan kamu dengan semua bukti-bukti yang sudah Ayah kumpulkan. Cuman, Ayah mohon. Kembalilah, Sayang. Kembali!"
Kedua mata Leon terus berkeliaran ke kanan dan kiri demi melihat keberadaan Naila di setiap sedut jalan yang mereka lewati. Air mata Leon menetes disertai perasaan panik yang terus berlarut.
"Naila sayang, kamu di mana, Nak? Bunda kangen sama kamu, please ... Pulang, ya. Bunda akan jelaskan semuanya kenapa Bunda tidak jujur soal ini sama kamu, Bunda cuman takut suatu saat hubungan kita akan berubah. Bukan lagi anak dan orang tua, tetapi ponakan dan paman-bibi. Bunda tidak mau itu terjadi, maafkan Bunda sayang, maafkan Bunda hiks ...."
"Sayang, gimana ini? Di mana Naila? Kita harus cari ke mana lagi? Aku takut Naila kenapa-kenapa, dia tidak bisa hidup jauh dariku, aku mohon cepatlah! Kita harus segera menemukan anak kita. Kasihan dia hiks ...."
"Lihatlah, Sayang! Awan sudah mulai mendung, ini juga sudah sore. Aku takut Naila kehujanan, aku takut Naila kenapa-kenapa. Gimana kalau nanti Naila kelaperan di jalan, terus dia di jahatin orang, dia diculik orang. Gimana, Sayang, gimana hiks ... Aku gak mau semua itu terjadi pada Naila, aku tidak mau!"
__ADS_1
Kali ini Leon benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan perasaan itu, akibat mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulut sang istri.
Di saat Leon sedang berjuang untuk berkonsentrasi menelusuri jaln dengan melawan rasa paniknya, sampai-sampai Leon tidak menyadari jika di sebelahnya ada istri tercinta.
Pada akhirnya Leon malah membentak Vivi tanpa di sengaja sambil mengerem mobilnya secara mendadak. Leon langsung menatap sang istri dengan tatapan amarah, lalu menyalahkan semua ini padanya.
"Kau bisa diam gak, hahh? Di sini yang takut kehilangan bukan hanya kamu, tapi aku juga sama! Apa kau tahu, semua ini gara-gara kau! Berapa kali aku bilang, kita harus bisa jujur, kita harus berani ngomong sama Naila. Terus apa jawaban kamu, hahh? Apa!"
"Kamu selalu tidak ingin masa lalu itu terungkap dengan alasan ini itu, ini itu, apalah itu pokoknya tetap pada pendirianmu. Sampai kapan pun Naila tidak boleh tahu, dan sekarang? Gimana, hem? Sudah puas kamu buat dia kecewa? Sudah puas kamu buat dia menangis sampai kabur dari rumah, hahh? Puas!"
"Dia itu ponakanku, Vi. Dia ponakan yang dititipkan oleh kakak dan kakak iparku kepada kita untuk bisa membahagiakan peri kecil mereka, tetapi apa yang kita lakukan terhadap Naila? Apa! Kita hanya bisa membuat Naila bersedih, nangis, kecewa, bahkan sampai dia nekat melarikan diri entah ke mana."
"Terus gimana? Kita harus mencari Naila ke mana lagi, hem? Dia tidak bawa uang, tidak bawa tas, tidak bawa ponsel. Lalu, gimana caranya kita bisa tahu keberadaannya? Seandainya Naila tidak pulang ke rumah, lalu bagaimana dengan amanah yang dititipkan sama kita. Gimana? Pasti Kakakku dan kakak ipar sedih melihat kita lalai dalam menjaga anak mereka. Pasti mereka semu kecewa padaku, Vi, kecewa. Sementara kejadian ini terjadi, akibat keegoisanmu!"
Suara teriakan di dalam mobil sampai Leon melampiaskan rasa kesal dengan cara memukul setir mobil yang membuat Vivi terkejut bukan main. Vivi terdiam melihat aksi sang suami yang tidak pernah dilihatnya selama dia mengenai sosol Leon.
Baru ini Vivi merasakan kecewaan sang suami atas apa yang seharusnya bukan murni kesalahan Vivi sendiri, tetapi kesalahan mereka berdua yang tidak bisa saling mengambil keputusan bersama.
Seandainya Leon tahu, diantara mereka berdua Vivilah yang sangat terluka karena begitu takut kehilangan Naila. Mungkin, jika disuruh memilik antara anak kandung dan ponakan yang sudah seperti anak kandung sendiri Vivi lebih memilih Naila.
__ADS_1
Kenapa Vivi memilih Naila? Lantas, bagaimana nasib anaknya ketika tahu klu ibunya sendiri tidak menginginkannya? Oh, tidak seperti itu ferguso!
Vivi bisa melakukan itu karena baginya gadis kecil yang selama ini dia rawat sudah membuat Vivi kembali bersemangat untuk menjalani kehidupan yang hampir menyerah.
Banyak omongan tidak enak mengenai kondisi rahim Vivi yang sedikit bermasalah, sehingga mereka sulit memiliki anak. Apalagi, tanpa semua orang ketahui Vivi pernah beberapa kali meminta suaminya untuk menikah lagi agar bisa memiliki keturunan. Akan tetapi, Leon selalu menolak itu sampai mereka berdebat hanya karena permintaan Vivi yang konyol.
Namun, setelah kehadiran Naila kehidupan, bahkan rumah tangga mereka kembali membaik. Seakan-akan Naila seperti lem perekat yang Tuhan kirim untuk Leon dan Vivi supaya membuat hubungan mereka semakin romantis seperti awal pernikahan.
Vivi masih terdiam tanpa berani menyentuh sang suami. Dia hanya bisa melihat serta memperhatikan Leon yang sedang meluskan rasa kesal sambil menangis.
Vivi tidak tega kalau harus menyaksikan sang suami terus menangis dipenuhi amarah atas kepergian Naila yang tidak tahu di mana. Satu sisi hatinya sudah sakit akibat kehilangan kepercayaan dari Naila, dan sekarang suami tercinta juga menyalahkan atas kejadian hari ini padanya.
Luka di dalam hati Vivi terus bertambah, wanita itu tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya jika bukan Leon saja yang gagal menjaga amanah dari mendiang kedua orang tua Naila. Vivi juga merasa gagal menjadi seorang ibu sekaligus istri yang baik.
Hanya ada satu kalimat yang Vivi katakan sambil tersenyum menghapus air matanya. Telinga Leon yang mendengar semua ucapan sang istri merasa terkejut, pria itu baru menyadari kalau perkataan yang terlontar sudah sangat melukai hatinya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...