
Hari adalah hari Minggu, di mana semua orang sedang asyik berlibur, tetapi tidak dengan satu keluarga ini. Seorang pria yang baru saja pulang sehabis mengantar wanitanya mencari buku untuk keperluan sekolah, langsung mengajaknya main ke rumah.
"Wah, calon menantuku udah datang. Sini, Sayang. Kemarilah!" pintanya sambil menjaga si kecil yang sudah mulai aktif bergerak.
"Siang, Tante, Om. Gimana kabarnya?" tanyanya tersenyum, sambil duduk tepat di samping orang tua si pria.
"Baik, kamu gimana sekolahnya, hem?" tanya ibu dari pria dengan wajah tersenyum.
"Aku----"
"Mom, Dad, Naku ke kamar Yola dulu mau cek keadaannya," sahutnya diangguki oleh kedua orang tua yang tidak lain adalah Becca dan Rio.
"5 menit lalu, adikmu baru selesai makan sama minum obat, walaupun cuma sedikit setidaknya beberapa suap nasi masuk ke dalam perut kosongnya. Jadi, Mommy mohon jangan diganggu dulu, ya," jawab Becca.
"Ya, Naku cuma mau cek aja. Nanti balik lagi ke sini," ucap Naku, langsung berjalan menaiki anak tangga.
"Om, Tante, boleh Nai ikut melihat keadaan Yola?" tanya Naila meminta izin terlebih dahulu.
"Naiklah, temani calon suamimu. Pastikan dia, jangan sampai menganggu adiknya yang sedang tidur," sambung Rio menjaga si kecil yang mulai lincah bermain dengannya.
"E,ehh ... I-iya, Om. Si-siap, Na-naila izin ke atas dulu, permisi."
Melihat reaksi wajah Naila juga sikapnya yang salah tingkah ketika mendengar kata-kata tersebut, malah membuat Becca dan Rio terkekeh geli sambil menjaga si kecil.
"Astaga, kamu ini, By. Benar-benar jahil ya, lihat saja wajah gadis itu langsung merah pas kamu goda begitu, taoi lucu sih, hihi ...."
"Gapapa, Sayang. Mereka sudah besar juga, lagi pula anak kita yang tampan itu sudah memiliki perasaan untuk gadis kecil kesayangannya. Hanya saja, Naku masih belum siap menjalani semua karena dia ingin mengejar apa yang harus dikejar untuk menggapai cita-citanya. Cuma, aku yakin, suatu saat nanti mereka akan bersatu."
__ADS_1
Becca hanya tersenyum mendengar perkataan sang suami. Mereka masih tidak menyangka, sebentar lagi putra pertamanya akan meneruskan pendidikan ke Universitas. Setelah itu mendapatkan gelarnya, kemudian sang anak akan memulai langkah baru untuk memilih jalannya.
Sementara putri keduanya sudah beranjak remaja yang kelak mengikuti jejak sang kakak, begitu juga si kecil yang sebentar lagi masuk sekolah. Tidak terasa bukan, pertumbuhan anak-anak sudah terlihat membuat Becca dan Rio merasa senang. Meskipun, usia mereka semakin menua tetap saja harapan mereka hanya ingin diberikan kesehatan supaya kelak dapat menyaksikan ketiga anaknya memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia.
Akan tetapi, senyuman di wajah keduanya langsung memudar hilang begitu saja ketika mendengar suara yang begitu keras dari lantai atas. Di mana nama mereka dipanggil berulang kali, membuat keduanya menjadi panik.
"Mommy, Daddy! Cepatlah ke sini!" pekik Naku menggunakan suara lantang keyika berteriak dari dalam kamar Yola.
"By, ada apa itu? Kenapa Naku teriak, apa jangan-jangan ...."
Becca menggantungkan perkataannya menatap sang suami yang langsung sigap menggendong si kecil dan mengatakan, "Udah jangan banyak berpikir, kita lihat saja apa yang terjadi sama mereka. Semoga Yola baik-baik aja!"
Tanpa berlama-lama mereka berdua berlari menaiki anak tangga satu persatu dengan berhati-hati. Kegelisahan mereka semakin bertambah ketika Naku tidak henti-hentinya memanggil kedua orang tua untuk segera mengecek kondisi Yola.
"Ada apa, Kak? Kenapa kamu teriak-teriak begini, Mommy udah bilang 'kan, adikmu baru tidur jadi jangan ...."
Semua termometer bermacam-macam cara menggunakannya sesuai dengan jenis yang digunakan, tetapi kali ini Naila memakai 2 termometer yaitu, untuk di mulut dan di ketiak.
Naila melakukan itu ketika mengetahui bahwa, Naku merasakan suhu tubuh adiknya sangat tinggi. Sehingga, dengan cepat Naila meminta Naku untuk mencarikan termometer supaya kecurigaan mereka dapat dipastikan sesuai bukti yang ada.
Becca langsung mengambil benda kecil dari tangan Naila. Gadis itu langsung berdiri melihat respons kedua orang tua Yola setelah mengetahui kondisinya yang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Kedua bola mata Becca dan Rio membelalak besar ketika melihat angka yang tertera di termometer. Padahal, beberapa menit lalu saat di cek kondisi Yola hanya panas biasa. Namun, mereka salah. Dikira dengan meminumkan obat penurun panas kondisi sang anak akan segera membaik, nyatanya tidak. Panas Yola malah semakin tinggi membuat Rio memberikan si kecil pada Becca dan segera menggendong Yola.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Semua menganggukan kepala mengikuti perintah Rio. Mereka langsung naik ke dalam mobil setelah Becca selesai mengambil tas yang hanya berisikan ponselnya dan dompet, itu saja. Untuk pakaian, Becca menitip pesan pada pembantu rumah supaya mengantarkannya ke rumah sakit sesuai permintaannya nanti selepas Yola mendapatkan kamar rawat.
__ADS_1
Rio dan Becca duduk di depan memperhatikan jalan, sesekali menoleh ke arah belakang. Di mana Naku terus mengusap kepala sang adik penuh kasih sayang bersama Naila. Dengan kecepatan sedang, Rio mengemudikan mobil penuh kosentrasi.
20 menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai. Naku segera menggendong Yola membuat Rio memanggil perawat untuk mengambil bangkar. Selepas itu, Rio mengambil si kecil dari gendongan Becca karena tidak tega melihat istrinya harus ikut berlari dengan keadaan cemas.
Sesampainya di ruang UGD mereka semua duduk di kursi panjang sambil menunggu hasil yang akan dokter sampaikan mengenai kesehatan Yola. Mereka semua berharap semoga tidak ada penyakit membahayakan yang terjadi pada gadis lucu tersebut.
"Kenapa bisa panas Yola setinggi itu, By? Bukannya terakhir panas Yola biasa saja, kamu juga bilang seandainya naik kita akan ke rumah sakit. Tapi, kenapa panasnya langsung tinggi begitu hanya dalam hitungan menit saja. Apa yang terjadi sama Yola? Aku taku, By, aku taku hiks ...."
Wajah pucat, khawatir, dan panik semua tercampur menjadi satu. Naku segera mengambil adiknya dari gendongan Rio. Sementara Naila, terus mengusap punggung Becca dan menyandar di pundak kanan supaya memberikan ketenangan padanya.
"Tenang, Tante, tenang. Kita doakan semoga Yola baik-baik saja. Ingat, Tan! Yola itu anak yang kuat, anak yang hebat, dan tidak akan mungkin .embuat keluarganya bersedih. Percayalah, Yola akan sehat kembali, Tan. Jadi, tenang, ya ... Naila ada di sini, Naila akan suport Tante, Om, Oppa, pokoknya semuanya. Kita harus semangat, gak boleh panik apan yang terjadi serahkan pada Tuhan biarlah Tuhan yang akan membantu Yola melalui tangan-tangan dokter terbaik."
Becca menatap Naila yang tersenyum sambil menasihatinya. Membuat dia langsung memeluknya dan mengucapkan terima kasih atas suport yang telah diberikan. Rio juga ikut tersenyum mengusap punggung sang istri, kemudian Becca kembali memeluk suaminya.
Sebisa mungkin Naku mengenangkan adiknya supaya tidak rewel, dikarenakan semakin Juan rewel itu malah akan menambah kepanikan di dalam hati dan pikiran Becca.
Mereka semua menunggu kabar dari dokter sambil terus menyemangati satu sama lain. Tak di sangka, Naila berhasil menidurkan Juan di dalam pelukannya. Perlahan Naku meminta Naila untuk duduk agar tidak kelelahan.
Anehny, ketika Juan ingin diambil oleh kedua orang tua bahkan Naku, tiba-tiba terbangun dan rewel. Di situ hanya Naila saja yang mampu menenangkannya, sehingga mereka langsung pasrah untuk meminta tolong pada Naila menjaga Juan sampai pikiran mereka benar-benar tenang mendapatkan kabar baik mengenai Yola dari sang dokter.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1