Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Mengemis Kesempatan


__ADS_3

Naku masih terdiam mematung, dia bingung. Haruskan dia memberikan kesempatan pada Becca untuk menjelaskan semuanya, ataukah dia tetap berusaha melepaskan diri darinya.


Becca yang tidak ada pilihan lagi, tubuhnya mulai melemah dan duduk sambil memeluk kaki Naku. Tangisnya benar-benar terdengar sangat menyedihkan, sampai Rio yang melihatnya pun begitu kasihan.


Baru juga tadi Rio mendengar kisah rumah tangga Becca yang menyakitkan, kini malah lebih memilukan ketika melihat seorang Ibu terus memohon pada anaknya sampai memeluk kakinya.


Semua itu Becca lakukan hanya sekedar ingin mendapatkan kesempatan, supaya dia bisa meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Rio.


"Sudahlah, Becca. Hentikan semuanya, kamu itu seorang Ibu. Tidak pantas melakukan hal menjijikan seperti itu, hanya demi mengemis kesempatan kepada anak yang tidak tahu diri ini!"


Rio berbicara penuh rasa kesal, saat matanya melihat tingkah Naku layaknya seorang anak yang tidak bisa menghargai orang tuanya.


Yola meminta turun dari gendongan Rio, lalu dia berjongkok di hadapan Becca yang sedang menangis. "Bu-buma, angan angis ya. Anti antik Buma iyang loh, Yola juga cedih liyat Buma cepelti ini. Buma beldili yuk, Yola antuin."

__ADS_1


Mata Yola berkaca-kaca karena tidak tega melihat Becca harus seperti orang yang mengemis pada anaknya sendiri. Becca menggelengkan kepalanya dan kembali meminta maaf pada anaknya.


"Mommy mohon, Naku. Maafin Mommy, Mommy janji. Mommy akan menceritakan semuanya tanpa terkecuali, dimana Mommy punya satu bukti yang bisa membuatmu memilih, diantara Mommy


dan Daddy siapa yang salah."


Becca menangis tanpa ingin melepaskan anaknya. Sementara Naku pun rasanya sudah tidak kuat lagi menyaksikan Mommynya bersimpuh di bawah kakinya. Ini kali pertama bagi Naku, melihat Mommynya benar-benar takut akan kehilanganya.


Yola berdiri tepat di hadapan Naku sambil mendongak menatap wajahnya. Tatapan mereka terlihat bagaikan orang yang berada di dalam ring pertandingan.


"Mau ngapain lu di hadapan gua, hahh? Belum cukup luka yang ada di kaki lu itu? Atau mau gua tambahin lagi?" ucap Rio, datar.


"Alo Kakak mau nyakiti Buma, Kakak nyakiti Yola aja ya. Yola ndak apa-apa kok, api angan buyat Buma Yola angis agi ya. Yola tahu, Kakak pasti oyang aik. Dadi, ndak ungkin Kakak tega nyakiti Buma, Yola cama Daddy."

__ADS_1


"Yola mohon, Kakak mau ya dengelin Buma omong. Piss, Yola ndak cuka liyat Buma angis. Tadi aja Daddy buyat Buma angis, acung Yola hutum. Api, alo Kakak Yola ndak mau hutum. Coalnya Kakak itu anak Buma, dadi pasti Kakak uga baik cama aya Buma."


"Andai aja Mommy Yola macih hidup, pasti Yola ndak atan buyat Mommy angis campe mohon-mohon aya Buma cekalang di aki Kakak."


"Ohya, Kakak tahu ndak, alo culga itu adanya di teyapak aki Ibu ukan Ayah. Jadi, alo Mommy macih hidup teyus Mommy buyat calah pasti Yola kacih tahu bial Mommy ndak calah lagi. Api alo Daddy, Yola atan hutum bial Daddy apok ndak buyat Buma angis agi. Cemua itu Yola akukan cupaya Yola bica macuk culga belcama Mommy. Anti alo Daddy macul nelaka, Yola bica emput baleng Mommy."


"Jadi, alo Kakak mau acuk culga cama Yola. Kakak halus maapin Buma ya, kacihan Buma. Anti antik Buma iyang loh. Maca Kakak ndak kacihan cih, anti alo Buma udah ma*ti gimana?"


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2