
Di kantin, Naku memesan baso dan juga minuman serta beberapa jajanan ringan yang menemaninya untuk menyantap kuah panas tersebut.
Tidak berlaku dengan Naila, dia memesan mie pedas level 3 dengan toping baso. Belum lagi, ayam goreng bumbu hot serta beberapa jajanan lainnya yang terkesan cukup pedas.
Naku sudah lebih dulu membawa semua jajannya menggunakan nampan ke mejanya, selang beberapa menit Naila datang membawa semua jajanannya yang cukup mengejutkan Naku.
Hanya saja, Naku tidak sekaget pertama kali ketika melihat cara makan Naila. Sekecil apa pun mulut Naila, segemoy apapun badannya dia tidak takut untuk gemuk, tidak seperti wanita lainnya.
Bagi, Naila perut adalah nomor satu. Dia bisa menahan haus, tetapi tidak dengan rasa lapar yang sudah sebagian dari teman hidupnya.
Naku makan dalam keadaan santai dan juga tenang, tidak seperti Naila yang sangat lahap menikmatinya. Apa lagi keringat di dahinya menandakan bahwa makanan itu memang benar pedas, sehingga Naku yang melirik Naila langsung menghentikan semua makanannya.
"Stop! Makanan itu tidak baik untuk lu, jadi lebih baik lu buang semuanya. Atau gua yang akan membuangnya!" seru Naku, matanya melotot sambil tangannya mencekal pergelangan tangan kanan Naila.
"Ishh, apaan sih, Oppa! Ini itu makanannya enak ya dan juga bergizi, kalau tidak sehat kenapa mereka di perbolehkan berjualan di sini, hem?" sahut Naila, kesal.
Perlahan tangannya mencoba untuk melepaskan, tetapi tidak bisa. Pegangan tangan Naku sangatlah kencang, sehingga hanya Naku yang bisa melepaskannya.
"Makanan sehat, bapak lu gundul! Udah tahu lu itu punya lambung sensitif, masih aja cari ma*ti. Dasar gila!"
"Ehh, aku tidak gila ya! Aku bisa makan ini hanya di luar rumah, kalau di dalam rumah Bunda sama Ayah tidak akan pernah mengizinkanku makan seperti ini. Ya kali aku makan harus bening-bening mulu, sayuran mulu, di kata aku kambing!"
__ADS_1
"Terserah lu mau ngomong apa kek, gua enggak peduli!"
Naku langsung berdiri dari tempatnya, lalu langsung melepaskan tangan Naila dan mengambil semua makanan pedasnya. Lalu, dia buang dengan sia-sia. Di situ Naila terlihat begitu kesal, wajahnya terkejut melihat apa yang Naku lakukan pada makanannya.
Setelah itu, Naila membuang wajahnya cemberut menatap ke arah depan dalam keadaan melipat kedua tangan di atas meja. Melihat itu Naku hanya menatap masa bodo terhadapnya, setidaknya dia sudah menghindarkan makanan yang bisa membuatnya jatuh sakit.
"Kenapa sih dia itu nyebelin banget, udah tahu aku hanya bisa makan pede-pedes itu jarang banget. Terus sekarang malah di buang sia-sia, di kata murah kali beli itu semua. Dasar cowok ngeselin!" seru Naila di dalam hatinya sambil mengetok-ngetok meja makannya.
Selang beberapa menit, Naku datang membawa makanan baru dan meletakannya di depan wajah Naila. Seketika mata Naila hanya melirik ke arahnya dengan tatapan yang masih marah.
"Makanlah!" titah Naku sambil duduk di hadapannya.
"Ogah, makan aja sendiri. Lagian uangku sudah habis dan makanan itu pun tidak enak!" sahut Naila, membuang muka.
Naila tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak ingin memakan makanan yang tidak enak tersebut. Awalnya makanan yang serba merah berhasil menggugah napsu makannya, sekarang berubah menjadi serba bening dan tidak terlalu merah sama seperti apa yang sedang Naku makan saat ini.
Perlahan matanya melirik melihat cara makan Naku yang super lahap, dari situ Naila mulai tergiur akan makanan yang sudah berada di hadapannya.
"A-apakah rasanya seenak itu? Padahal aku makan tidak seenak yang dia makan, tetapi kenapa saat dia makan rasanya kek enak banget?" tanya Naila di dalam hatinya sendiri, di mana matanya tidak lepas menatap Naku.
"Mau makan apa gua yang habisin semuanya?" tanya Naku penuh penekanan.
__ADS_1
Naila yang tidak rela, segera memakan makanannya dengan lahap. Rasa yang tidak pernah dia rasakan berhasil memanjakan lidahnya, wajah yang terlihat kesal kini telah berubah menjadi tersenyum.
Tanpa Naila sadari Naku pun ikut tersenyum sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Semua itu ternyata racikan bumbu dari Naku sendiri, dia tidak menggunakan apa pun selain sambal yang hanya sedikit. Sehingga rasanya itu pedas, segar dan sedikit asam. Berbeda sama Naila beli tadi yang dominan pedas serta terbakar.
"Waaw, is amazing! Ini enak banget, Oppa. Sumpah! Kok Oppa bisa sih, perasaan setiap aku makan ini rasanya tuh tidak seenak ini. Terus kenapa bisa enak? Oppa masukan apa ke dalam ini? Racunkah?"
"Kalau yang lu makan itu racun\, otomatis lu udah ma*ti bukan keenakan. Dasar bo*doh! Mana ada orang di kasih racun malah ke tagihan\, aneh!"
Naila terkekeh dengan sendirinya sata menyadari kepolosan otaknya yang jauh dari kata tidak masuk akal. Sementara Naku benar-benar kesal menghadapi wanita macam Naila yang polosnya minta di tendang.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun pergi ke perpustakaan. Di sana mereka mencari buku-buku yang akan di baca, apa lagi ada banyak berbagai macam jenis buku berjejer di rak. Mulai dari ilmu pengetahuan, sejarah, dongeng, puisi dan masih banyak lain.
Naku mencari buku yang berkaitan dengan pengetahuan, dia ingin meluaskan ilmu pengetahuannya agar kelak dia bisa mengejar cita-citanya.
Berbeda sama Naila yang suka membaca buku berkaitan sama kelucuan, sehingga dia bisa tertawa sendiri ketika membaca buku tersebut.
Sehabis bel berbunyi, mereka dan semua murid kembali ke kelasnya masing-masing untuk memulai pelajaran berikutnya sampai bel pulang kembali berbunyi.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung