Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Miss Peri


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung berlari membawa Joey ke ruangan UGD setelah berada diatas bangkar. Entah apa yang terjadi pada Joey, sehingga dia sampai seperti ini. Setidaknya karena Joey, kedua orang tuanya kembali berbaikan saling memeluk satu sama lain di saat mereka sudah mulai frustasi penuh rasa khawatir.


"Sus, bagaimana ini bisa terjadi? Seharian memang Joey ngapain? Kok bisa dia jadi panas seperti ini?" tanya sang ibu penuh khawatir.


"Kamu tidak ngapa-ngapain, Nya. Saya dan Den Joey seperti biasa pergi ke Mall untuk bermain itu juga atas izin Nyonya sama Tuan. Setelah itu kami pulang ke rumah, cuman pas di rumah Den Joey mengeluh dadanya merasa sakit kaya sesak begitu. Saya kira hanya kelelahan makannya saya langsung kasih minyak kayu putih, saya makanin yang anget-anget terus Den Joey istirahat. Setelah itu Nyonya sama Tuan pulang keadaan Den Joey pun masih baik-baik aja, tidak sepanas saat ini. Makannya kata Nyonya dan Tuan tidak perlu di bawa ke rumah sakit paling nanti sembuh. Ehh, tahunya malah seperti ini, saya juga bingung. Nya!"


Sus Rini menjelaskan duduk perkara tentang kondisi anak majikannya. Di sini bukan hanya kesalahan Sus Rini, melainkan kedua orang tuanya juga yang menganggap remeh rasa sakit yang Joey rasakan.


Setelah semuanya seperti ini, barulah mereka merasakan penyesalan karena terlambat mebawa Joey ke rumah sakit. Kini, mereka hanya bisa menunggu kabar dari sang dokter mengenai kondisi Joey sekarang. Harapan mereka semoga tidak terjadi sesuatu pada Joey, dan bisa kembali sembuh seperti semula.


25 menit berlalu, sang dokter pun keluar dari ruangan UGD dalam keadaan wajah kurang baik. Itu artinya ada sesuatu sama kondisi Joey di dalam, membuat kedua orang tuanya langsung bertambah panik.


"Dok, bagaimana kondisi anak saya? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya sang suami, wajahnya terlihat begitu gelisah.


"Penyakit apa yang diderita anak saya, Dok? Kenapa dia bisa sampai seperti ini, apa ini membahayakan atau tidak? Katakan, Dok. Katakan!" tanya sang istri, air matanya terus menetes dengan deras sambil di tenangkan oleh Sus Rini yang juga ikut menangis.


Sang dokter menarik napas panjang, lalu dia mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sama Joey di dalam penuh kehati-hatian. Dengan begitu keluarga pasien tidak jadi khawatir atau pun drop ketika mendapatkan kabar kurang baik darinya mengenai kondisi anaknya.


"Tenang dulu ya, Tuan, Nyonya. Jadi begini, sepertinya ada gangguan di hati anak Anda. Cuman saya belum bisa memastikan semua itu, sebelum saya melakukan ronsen dan serangkaian pemeriksaan selanjutnya. Nanti, setelah saya melihat semua hasilnya baru saya bisa menjelaskannya secara detail kepada kalian semua tentang penyakit apa yang di derita pasien."


"Untuk itu saya minta kerja samanya agar pasien segera bisa di tangani penuh keseriusan. Apa lagi panas pasien sangatlah tinggi, beberapa kalivdia mengalami kejang-kejang saking tidak kuatnya menahan rasa panas pada tubuhnya sendiri. Namun, untuk sekarang pasien sudah jauj lebih baik setelah saya berikan suntikan. Jadi, Tuan dan Nyonya berdoa saja agar anak kalian tidak mengalami penyakit yang cukup serius."


Seakan di tampar oleh kenyataan membuat hati mereka begitu hancur. Kedua orang itu benar-benar tidak menyangka kalau anaknya sampai mengalami penyakit yang masih menjadi dugaan oleh sang dokter.


Tanpa bisa berkata apapun, sang suami langsung bertindak untuk mengizinkan sang dokter melakukan serangkaian test untuk membuktikan penyakit yang di derita anaknya secepat mungkin.

__ADS_1


Sementara istrinya, hampir saja pingsan jika Sus Rini tidak segera menahan serta membawa majikannya untuk duduk di kursi agar bisa meredakan rasa syok yang ada di dalam hatinya.


Ya, meskipun kedua orang tua itu selalu saja ribut dengan masalahnya sendiri. Kasih sayang mereka terhadap anak sangatlah besar. Mereka berdua merasa menyesal karena terlalu fokus pada pekerjaan sampai melupakan anaknya yang butuh perhatian lebih.


Apa lagi, usia Joey masih terbilang muda. Jika sampai apa yang di duga dokter tersebut benar adanya, maka bisa di pastikan hati kedua orang tuanya akan hancur sehancur-hancurnya.


Sang dokter menganggukan kepalanya, lalu segera menyiapkan semuanya untuk melakukan serangkaian test. Dengan begitu sang dokter bisa menjelaskan apa yang terjadi pada pasien tanpa melakukan kesalahan akibat menebak-nebak.


Bangkar Joey di bawa ke luar dari ruangan UGD, di mana kedua orang tuanya langsung berhambur untuk mendekati bangkar sambil menatap wajah anaknya yang sangat pucat.


Rasanya mereka tidak tega, ketika melihat anaknya sakit seperti ini. Jika bisa, biarlah salah satu dari mereka yang akan menanggung rasa sakit yang saat ini anaknya rasakan.


Hanya saja, mereka tidak bisa menemani sang anak sampai masuk ke dalam ruangan khusus. Mereka hanya bisa menemani di depan ruangan dalam keadaan panik, gelisah, khawatir juga penuh penyesalan.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di mana ada sebuah keluarga yang sedang menikmati kebahagiaan ketika impian mereka yang sudah lama telah terwujud.


Siapa lagi kalau bukan keluarga Naila. Masih ingat bukan, sama Naila teman satu kelas Naku? Nah, saat ini dia sedang bahagia karena memiliki adik yang sangat menggemaskan berusia 1 tahun lebih.


Tidak sedikit pun Naila merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia masih menerima semua itu, meskipun sekarang Naila memiliki saingan baru.


Perbedaan umur yang cukup jauh di antara Naila dengan sang adik, terkadang membuat Naila takut bila kasih sayang orang tuanya akan berpindah.


Hanya saja, Naila berusaha untuk bisa mengerti sebagai seorang kakak. Kalau dia harus banyak mengalah pada sang adik yang belum bisa melakukan semuanya sendiri, sehingga bundanya akan jauh lebih banyak menghabiskan waktu pada adiknya.

__ADS_1


Pagi hari keluarga Naila sedang menikmati hari liburnya. Mereka baru saja selesai jalan-jalan di sekitaran kompleks dekat rumahnya. Setelah itu, mereka duduk di dekat taman rumahnya untuk menikmati udara yang masih terasa sejuk.


Tidak lupa mereka menikmati sarapan roti bakar, susu juga buah-buahan yang di antar oleh pembantunya. Tidak lupa, sarapan untuk adik kecilnya yang sudah menahan lapar.


Ketika bundanya sedang menyuapini sang adik, tiba-tiba Naila baru selesai menghabiskan satu potong roti langsung mengambil alih pekerjaan bundanya.


"Bunda, sini biar kakak yang suapin Ade. Bunda makan aja, bunda juga laper 'kan? Jadi, gantian biar kakak yang ngurus Ade. Oke?" ucap Naila, diangguki oleh bundanya.


"Baiklah, tapi pelan-pelan ya. Nanti kalau capek biar gantian bunda yang nyu---"


"Sudalah, Bun. Biarkan saja, dia 'kan sudah menjadi kakak. Jadi, biarkan dia belajar ngurusin adiknya, tugas bunda cuman duduk manis sambil ngajarin kakak biar bisa mengurus adiknya dengan baik. Toh, nanti kalau sudah besar dia juga akan memiliki anak. Kita tidak boleh memanjakannya, nanti dia malah besar kepala."


"Nah, benar tuh apa yang ayah bilang, Bun. Jadi, Bunda jangan khawatir. Selagi Ade di tangan kakak pasti Ade akan baik-baik saja, secara kakaknya ini 'kan Miss Peri yang paling super duper cantik hihi ...."


"Di mana-mana juga Ibu Peri, bukan Miss Peri. Dasar anak aneh!"


"Ihhh, biarin aja. Suka-suka kakak dong, sewot banget jadi ayah. Wleee!"


Naila meledek sang ayah yang malah mendapati tawaan kecil dari sang adik. Bundanya yang melihat perdebatan anak sama bapak pun jadi ikut tertawa, ketika anak bungsunya tersenyum.


Beginilah Naila dan ayahnya, mereka akan sering bertengkar layaknya Tom And Jerry, lantaran ini sebagian cara yang unik untuk membuktikan kasih sayangnya satu sama lain.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2