Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Pejuang 2 Garis Biru


__ADS_3

Di sebuah taman, tidak jauh dari rumah Naku. Yola sedang duduk sendiri sambil menangis. Hatinya begitu hancur ketika mengira bila semua orang sudah tidak lagi menyayanginya seperti semula.


Padahal, Yola hanya salah dalam mengartikan semuanya perkataan mereka. Baginya, ketika apa yang dia inginkan tidak di turuti, maka itu sudah pertanda bila orang itu tidak lagi menyayanginya.


"Hiks ... Ke-kenapa meleka cemua tidak mau Buma nikah cama Daddy? Daddy tan olang baik, cama kaya Buma uga baik banget. Teyus, kenapa meleka tidak mau nikah?"


"Alo Buma cama Daddy nikah tan enak. Yola bica main cetiap hali cama Buma cama Kakak, Daddy uga ndak akan cendilian bobonya. Emangnya Yola ndak boyeh ya, ngelacain kaya teman-teman Yola yang alo bobo celalu di bacain celita, makan di cuapin, teyus cekolah di antelin dan bica jalan-jalan baleng cambil pegangan tangan. Meleka bica bahagia cama olang tuanya, teyus kok Yola ndak bica hiks ...."


"Mo-mommy, kenapa Mommy inggalin Yola. Kenapa Mommy ndak ajak Yola pelgi aja. Yola ndak mau di cini, cemuanya udah ndak cayang agi cama Yola. Cuma Mommy yang cayang cama Yola, api Mommy uga ninggalin Yola hiks ...."


Yola menangis sesegukkan, dia kembali teringat dengan Mommy kandungnya yang sudah tiada. Rasa kangen itu kembali muncul di pikiran Yola, ketika dia sedang bersedih.


Hanya di saat-saat seperti ini saja Yola mengingat Mommynya, karena hanya itu yang dia ingat di saat semuanya seperti tidak lagi menyayanginya.


Namun, di saat Yola di landa kesedihan. Ada seorang yang memberikannya sebuah permen lolipop di hadapannya. Tangis Yola, seketika terhenti saat dia menatap ke orang tersebut.


"Ini buat kamu, jangan nangis lagi ya. Kasihan nanti cantiknya ilang, loh ...." ucap orang itu, sambil tersenyum.


Perlahan Yola mengambil permen yang berhasil menggoyangkan lidahnya, lalu membuka bungkusnya secara hati-hati kemudian menikmati rasa manis yang tidak bisa dia jelaskan.

__ADS_1


"Hem, enyak. Telimakasih," ucap Yola, terus menikmati permen yang ada di tangannya.


Kini, tangis di wajahnya sudah berubah menjadi senyuman saat Yola merasakan ada seseorang yang peduli padanya. Usapan tangannya di atas kepala Yola pun terasa begitu penuh kasih sayang.


"Namamu siapa, Nak?" tanyanya, sambil duduk di sambil Yola.


"Yola, Nek. Nenek siapa?" tanya balik Yola, matanya melirik ke arahnya bersamaan dengan lidahnya yang terus menjilat lolipop tersebut.


"Wah, nama yang bagus. Ohya, perkenalkan nama Nenek, Nenek Sari. Yola mau ikut Nenek ke rumah? Di rumah Nenek ada buanyaak sekali lolipop. Yola bisa makan sepuasnya, sampai Yola bosen hehe ... Gimana? Yola mau?"


"Ciyus, Nek? Nenek punya pelmen buanyak banget di lumah?"


Seorang Nenek dengan penampilan yang sederhana dan sedikit rapi, berhasil menarik perhatian Yola. Semudah itu dia bisa mengambil hati Yola, hingga Yola pun mulai menggandeng tangannya lalu mereka berjalan bersama persis terlihay seperti seorang Nenek dan cucu yang lagi jalan-jalan.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di rumah sakit, seseorang wanita sedang merasa bahagia karena setelah sekian lama menunggu akhirnya dia telah di nyatakan positif. Siapa lagi kalau bukan Vivi, Bunda dari Naila.


"Sekali selamat ya, Nyonya. Akhirnya saat-saat yang di tunggu telah tiba, untuk itu saya sarankan Nyonya untuk melakukan perawatan di rumah sakit sampai 1 Minggu ke depan. Dan selama kurang lebih 4 bulan kedepan Nyonya harus menjaga kondisi dari rasa lelah. Hindari sesuatu yang berat seperti memasak, beberes atau pun menaiki tangga. Jikalau pun Nyonya ingin jalan-jalan keluar itu juga harus menggunakan kursi roda, semua ini demi keselamatkan sang bayi yang usianya masih sangat muda. Kqandungan Nyonya ini sangatlah lemah. Jadi, saya mohon agar Tuan dan Nyonya bisa saling suport satu sama lain demi kesehatan sang Baby."

__ADS_1


Dokter itu mulai menjelaskan semua yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Vivi, semua itu karena rahim Vivi sangatlah lemah. Jadi, banyak sekali metode yang gagal sia-sia. Baru kali ini berhasil dari sekian tahun mereka berjuang demi mendapatkan 2 garis biru.


Dan, ini tidak akan mereka sia-siakan. Walaupun rasanya Vivi tidak kuat menahan tubuhnya yang lemah, tetapi dia harus sehat demi sang bayi.


"Aaa ... Selamat Bunda, Ayah. Akhirnya Naila punya Dedek juga, yeyy ... Hihi, Naila seneng deh. Semoga saja, Dedek baik-baik aja di dalam perut Bunda ya. Sampai bertemu 9 bulan ke depan. Muaach!"


Naila memeluk Vivi, lalu mengelus perutnya perlahan dan menciuminya berulang kali. Betapa bahagianya Naila saat dia bisa merasakan sebentar lagi akand mendapatkan teman untuk bermain, sehingga rumah tidak akan terasa hampa lagi karena nanti akan ada syara tangisan anak kecil.


Leon meneteskan air matanya sambil mencium mening istrinya ketika dia tidak menyangka, bahwa mereka bisa memberikan adik untuk Naila. Padahal mereka sudah sempat menyerah, dan hanya fokus untuk membesarkan Naila.


Akan tetapi, permintaan Naila terus terngiang-ngiang di telinganya. Sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan metode tersebut demi mewujudkan impian Naila yang menginginkan seorang adik.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2