
Joey terus tersenyum, lalu menoleh sampai kedua mata mereka saling bertatap-tatapan, "Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku hanya bilang wajahmu akan jauh lebih cantik ketika bibirmu tersenyum, itu artinya ...."
"Artinya apa, Kak?" tanya Yola mulai penasaran.
"Ya, artinya semakin kamu tersenyum wajahmu akan semakin terlihat lebih bersinar juga cantik. Cuman, kalau kamu menangis dan bersedih kaya sekarang ini, maka kecantikanmu tidak akan bertambah maupun berkurang."
"Kok, bisa? Kenapa begitu?" tanya Yola, kembali.
"Ya, bisa dong, bagiku semua wanita itu ditakdirkan cantik, begitu juga pria yang tampan. Akan tetapi, kecantikan bisa pudar jika kita terlalu banyak pikiran, setres, nangis, bersedih, atau semacamnya. Namun, pada porsinya wanita tetaplah cantik mau dalam keadaan apapun, hanya saja tidak ada kata lebih cantik yang akan kamu terima kalau kamu terus menerus menangis seperti ini."
Kalimat yang terdengar simple, tetapi jarang sekali keluar dari mulu semua pria. Jangankan pria seusia Joey, yang lebih tua darinya saja belum tentu bisa menyenangkan wanita seperti apa yang Joey lakukan saat ini.
Joey benar-benar menjaga kata-katanya agar tidak menyakiti gadis kecil berpipi gembul itu. Apalagi perasaannya lagi sangat sensitif, sehingga harus berhati-hati menggunakan kata yang bijak supaya tidak semakin melukainya.
Banyak pria yang terkadang memanfaatkan kata-kata itu demi kepentingan sendiri sebagai pemanis untuk memberikan sebuah janji yang belum tentu bisa ditepati. Berbeda sama Joey, sifatnya hampir seperti Rio yang terlihat kalem dalam bertindak, tetapi penuh ketegasan juga tanggung jawab.
__ADS_1
"Haahh, gimana aku tidak sedih, Kak. Adikku laki-laki, sedangkan aku ingin adik perempuan." Yola kembali menatap ke arah anak perempuan yang sedang tertawa dengan rambut dikepang.
"Memang apa bedanya adik laki-laki atau perempuan? Bukannya sama saja, terpenting adikmu lahir dengan selamat, sehat begitu juga Mommymu."
"Ya, aku juga tadi berpikir begitu, Kak. Cuman ...." Yola menggantungkan perkataannya membuat Joey bingung.
"Cuman apa?" tanya Joey, mengangkat salah satu alisnya.
Yola menoleh ke arah samping menatap wajah pria tampan itu, kemudian menceritakan apa yang sudah terjadi dengan sendirinya tanpa harus Joey mencari tahu lebih dulu.
"Yola sama Kakak nonton film drama Korea gitu tentang anak kecil, nah ... Habis itu Kakak nanya sama Yola. 'Dek, kamu mau punya adik apa? Cewek apa cowok?' Yola jawab dong, 'kata Daddy sama Mommy apapun adik kita, sebagai kakak kita harus sayang. Mau cowok atau cewek sama aja asalkan sehat.' Gak salah dong, Yola jawab begitu. Semua jawaban itu juga dari Mommy sama Daddy yang selalu menjelaskan sama kita tentang adik."
"Cuman, kakak nanya lagi kaya gini, 'kalau seandainya adik kita cowo gimana? Kamu pasti tidak bisa main masak-masakan, kuncir-kuncir rambut, main berbie pokoknya semua yang berkaitan sama anak cewek.' Ya, Yola jawab lagi, 'masih bisa main yang lain, ada mobil-mobilan pakai remot, robot juga ada. Kenapa Kakak nanya begitu?' Yola bingung sama yang Kakak omongin itu, soalnya Daddy sama Mommy setiap hari juga bilang begitu jadi Yola tidak masalah mau adik cewek apa cowo tetap sama."
"Tapi, Kakak bilang lagi yang membuat Yola langsung merasa sedih. Kakak ngomong begini, 'Ya, itu kalau adik kita masih kecil. Terus kalau adik kita udah besar gimana? Pasti dia akan memilih untuk main games sama Kakak dan Daddy dari pada main mobil-mobilan yang membosankan itu. Jadi, sudah pasti adik kita akan lebih banyak main sama Kakak dari pada sama Yola. Kakak bisa main PS main ini itu, sedangkan Yola? Yola hanya bisa main games berbie, boneka, atau masak-masakan, cuman kurang serulah. Jadi, nanti Yola akan main sendirian sama boneka-boneka itu. Sedangkan Kakak asyik main sama adek, seru 'kan? Hihi ... Makannya Kakak mau adik cowok aja, kalau cewek nanti susah ngajak mainnya pasti akan banyak waktu sama Yola, gak asyik!' Apa yang Kak Naku katakan itu benar 'kan, Kak?"
__ADS_1
"Berarti Kakak menang dong, adik Yola laki-laki. Pasti dia akan banyak main sama Kakak dari pada Yola. Kalau saja adik Yola sama kaya Yola cewek, pasti akan lebih seru mainnya. Sayangnya, Mommy melahirkan adik cowo, Yola jadi gak punya teman main, sama aja kaya Yola sendirian. Kakak akan lebih fokus main sama adik, adik juga gitu. Terus siapa yang nemenin Yola main nantinya? Masa iya, Yola diam sambil melihat mereka main. Enggak serulah, pantasan aja Kakak seneng banget saat tahu adik laki-laki, sama kaya Kak Joey juga gitu. Berarti Yola kalah dong, Yola akan main sendirian sama aja kaya Yola enggak punya adik."
Sekarang Joey mengerti kenapa Yola bisa sesedih ini, ternyata semua ulah Naku yang seolah-olah memanasi Yola agar memiliki rasa iri. Entah, apa tujuan Naku mengatakan semua itu, Joey pun tidak mengerti.
Terlepas Naku salah atau tidak, Joey tidak ingin asal menebak-nebak sebelum ada buktinya. Joey tidak ingin kesalah pahaman ini semakin berlarut yang membuat hubungan persaudaraan menjadi rusak.
Sedikit saja Joey salah dalam menyusun kata-kata untuk menasihati atau membuat pengertian pada gadis berpipi gembul itu, maka efek kesedihan Yola akan semakin berlarut. Sehingga, Joey harus memikirkan matang-matang apa yang akan dikatakan demi membalikan mood Yola agar tidak merasa iri terhadap sang kakak.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1