Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Jujur Tentang Perasaan Rio


__ADS_3

"Apa Om suka sama Mommy?"


"Apa Om cinta dan sayang sama Mommy?"


"Katakan dengan jelas, Om!"


"Jangan pernah berbohong, karena gua benci kebohongan!"


Pertanyaan-pertanyaan itu mampu membuat jantung Rio mulai berdebar tidak karuan. Dia tidak menyangka kalau Naku bisa mananyakan hal serinci itu.


Rio tidak tahu, apakah dia harus mengatakan dengan jujur atau dia harus terpaksa berbohong demi menyembunyikan perasaannya agar tidak membuat semuanya menjadi tidak nyaman.


"Kenapa diam? Kaget, atau apa yang gua katakan tadi itu benar?"


"Udahlah, Om. Gua bukan anak kecil lagi, gua sudah besar. Jadi, gua bisa bedain dari cara kalian bersikap itu bukan seperti seorang sahabat pada umumnya!"


Naku memang masih umur belasan tahun. Akan tetapi, dia pun bisa membedakan cara Rio bersikap kepada Becca sudah seperti seseorang yang sangat-sangat menjaga pasangannya. Bukan lagi sahabat yang memang selalu ada ketika di butuhkan.


Mungkin, ini sudah saatnya Rio harus mengatakan perasaannya dengan jujur. Hanya saja, bukan pada Becca. Melainkan pada anaknya yang bisa membaca sangat jelas apa yang ada di hati dan juga pikiran Rio tentang Mommynya.


Perlahan Rio mulai mencoba untuk menetralkan perasaannya yang sudah mulai tidak menentu. Hatinya berdebar-debar, bersamaan jantungnya yang berdetak cepat, layaknya seorang maling yang kepergok warga.


Setelah merasa sedikit tenang, Rio pun menjelaskan kepada Naku menggunakan bahasa yang mudah di pahami olehnya. Dan juga mewanti-wanti agar tidak sampai membuat Rio menjadi tidak nyaman akan isi hatinya yang akan dia sampaikan.

__ADS_1


"Oke, Om akan katakan dengan jujur apa yang Om rasakan kepada Mommymu. Sebelumnya Om minta maaf, apa bila perasaan Om ini adalah perasaan yang sangat kamu benci. Akan tetapi, Om akan mengatakannya dengan jujur. Asalkan kamu janji sama Om, jangan mengatakan semua ini kepada Mommymu. Cukup jadikan ini rahasia Om dan kamu. Bisa?"


"Yayaya, terserah. Intinya gua ingin Om jujur, sejujur-jujurnya!"


"Huhhh, baiklah ...."


Rio membuang napasnya secara kasar, lalu mulai menjelaskan tentang perasaannya sendiri menggunakan kata-kata yang sangat berhati-hati dan menyusun kata-katanya supaya tidak kesalahan.


"Sebenarnya Om juga tidak mengerti sama perasaan Om sendiri. Kenapa akhir-akhir ini selalu kepikiran sama Mommymu. Semakin Om mencoba untuk menghilangkannya, maka semakin teringat akan wajah Mommymu yang dari dulu sampai sekarang masih tetap cantik."


"Awalnya Om kira, ini hanya perasaan yang sekedar lewat. Tapi, kenapa perasaan itu malah semakin kuat? Sedangkan Om sendiri heran, kenapa perasaan yang sekarang itu berhasil lebih-lebih mengalahkan perasaan Om yang dulu kepada Mommymu."


"Namun, lama kelamaan Om sadar. Kalau Om sudah mulai kembali mencintai Mommymu, tetapi adanya perbedaan antara dulu dan sekarang. Mungkin dulu hanyalah sekedar cinta mony*et yang hanya hadir pertama kali, saat Om tahu bila itu cinta. Kalau sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya, bisa di katakan seperti cinta pertama yang kembali bersemi dengan versi berbeda."


"Om tidak masalah, kalau cinta yang Om rasakan ini hanya sekedar cinta yang bisa Om rasakan sendiri. Om malah senang, sebab perasaan ini membuktikan bahwa Om tidak mati rasa sama seorang wanita. Jadi, kalau pun nantinya Om tahu Mommymu tidak mencintai Om, Om tidak akan marah atau pun kecewam. Dan misalkan kami pun saling mencintai, lalu kamu tidak menyetujui hubungan kami. Maka Om tidak akan meneruskan hubungan itu. Bagi Om, kenyaman kalian berdua jauh lebih penting dari rasa cinta ini."


Penjelasan Rio mengenai perasaannya benar-benar berhasil menyentuh hati Naku. Dia terdiam mendengarkan apa yang Rio katakan, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


Melihat respons Naku, seperti tidak berkutik malah membuat Rio menjadi bingung. Dia tidak tahu, apakah Naku marah setelah mendengar tentang perasaannya atau Naku menjadi terharu atas apa yang di sampaikannya.


Untuk beberapa menit, tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Rio tersenyum, mungkin baginya Naku masih belum bisa mencerta perkataannya. Padahal, di balik itu semua. Naku memiliki dilema yang cukup mengganggu antara hati dan juga pikirannya.


"Hei, kenapa kok diam? Apakah kata-kata Om ada yang salah?" tanya Rio, melambaikan tangannya di depan wajah Naku.

__ADS_1


"A-ada! Seharusnya perasaan itu tidak boleh ada untuk Mommy, karena Mommy dan Daddy sebentar lagi akan bersatu. Bagaimana pun caranya, Om tidak boleh merusak cinta mereka. Mengerti?"


Ancaman yang berasal dari mulut Naku, benar-benar berhasil menusuk jantung Rio. Walau hatinya sakit menahan tusukan yang di berikan oleh Naku, Rio tetap berusaha tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


"Ya, Om paham kok apa yang kamu katakan itu. Om akan mencoba menjauh dari Mommymu dan berusaha menghilangkan perasaan ini. Jikalau semua itu bisa membuat kalian bahagia, Om akan lakukan. Tapi, satu yang harus kamu ingat!"


"Om tidak akan membiarkan kalian terjatuh di lubang yang sama. Kalau nanti ada apa-apa dengan kalian, Om akan maju paling depan untuk membela kalian dan merenggut kembali kebahagiaan yang harusnya kalian dapatkan!"


"Ya sudah, ini sudah malam. Ayo masuk, Om mau lihat keadaan Yola di dalam. Kamu juga harus istirahat besok sekolah, jangan sampai kesiangan. Kamu harus sekolah yang rajin, dan berprestasi agar kelak kamu bisa menjadi pria sukses yang membuat kedua orang tuamu bahagia."


Rio tersenyum menahan rasa sakit hatinya atas penolakan yang Naku berikan tentang dirinya. Perlahan tangannya menepuk di pundak Naku, sambil beranjak dir dari duduknya.


Kemudian Rio pergi meninggalkan Naku, yang baru berdiri. Di mana bola mata Rio mulai berkaca-kaca, tetapi di harus terpaksa menahan semua itu supaya tidak sampai membuat Becca curiga.


Bagi Rio, apa yang di katakan Naku itu benar. Rio tidak boleh egois untuk meneruskan perasaannya, karena pada dasarnya cinta Becca hanya untuk Gala seorang. Sebab, Gala adalah pertama pertama bagi Becca.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2