
Sesampainya di dalam Apartemen, Gala mendudukan Lola di sofa ruang tengah sambil menaruh belanjaannya di atas meja.
"Masih sakit?" tanya Gala.
"Udah mendingan, kok. Kalau Tuan mau pergi ya per--"
"Udah makan?" tanya Gala, kembali.
Lola menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan wajah yang di buat segemas mungkin. Bukan terlihat gemas, tetapi malah terlihat sangat menjijikan bagi Gala.
Hanya saja, Gala berusaha untuk tetap menahan semua rasa ketidak kesukaannya demi keberhasilan misinya. Walau di dalam hatinya ada satu ketakutan yang Gala rasakan. Yaitu, dia takut bila semua misinya belum tercapai hubungan antara dirinya dan Becca semakin memburuk.
"Kenapa enggak makan? Kalau mau ma*ti jangan di Apartemenku, di hutan sana biar enggak ada yang bisa mengenali jasatmu!" ucap Gala, cuek.
"Tuan kok ngomong gitu, memangnya Tuan tidak sayang sama aku?" tanya Lola, matanya mulai berkaca-kaca.
"Pertanyaan yang bod*doh! Mana mungkin saya memiliki perasaan sama wanita lain, sementara saya sendiri memiliki istri yang jauh lebih sempurna!"
"Ya 'kan aku juga istri, Tuan. Itu artinya, Tuan juga sayang sama aku dong?"
"Jangan mimpi! Istri saya hanya Becca, bukan kamu!"
"Tapi, kita juga sudah menikah. Masa Tuan lupa, bersrti aku juga istri Tuan."
"Dengarkan aku baik-baik, Lola! Kita menikah hanya di atas kertas, itu pun karena adanya anak itu. Bukan karena aku mencintaimu ataupun menginginkan pernikahan ini. Berbeda dengan Becca, dialah istri yang sangat-sangat aku cintai. Sampai sini paham, perbedaanmu dengan Becca!"
__ADS_1
Perkataan Gala yang sangat menyakitkan hati Lola benar-benar membekas. Ya, memang Lola sadar kalau dia hanya istri di atas kertas. Akan tetapi, seharusnya Gala bisa adil terhadap dirinya dan juga Becca.
Mungkin, Gala tidak mencintai Lola. Sementara Lola benar-benar sangat mencintai Gala, bukan karena hartanya. Melainkan dia memang sangat terobsesi dengannya.
Bagi Lola, pria seperti Gala sangat langka untuk dia dapatnya. Sehingga ketika dia bisa mendapatkannya, maka tidak akan mungkin untuknya melepaskan Gala. Sekalipun dia harus menjadi istri kesekian, itu tidak masalah asalkan Gala bisa selalu bersamanya.
Air mata Lola menetes perlahan sambil menundukkan kepalanya, Gala yang memang terbilang kesal dengan semua yang sudah terjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Saat mendengar suara isak tangis Lola, Gala mulai merasakan sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hatinya. Tanpa di sangaka, tangannya langsung Lola untuk menyandar di dalam bahunya dengan leluasa.
"Udah enggak usah nangis lagi, saya minta maaf kalau perkataan saya membuat hatimu terluka. Hanya saja, itu memang fakta nyata yang saya rasakan. Mendingan sekarang kamu makan, biar anak itu bisa tumbuh sehat di dalam perutmu."
Perlakuan Gala yang seperti ini malah semakin membuat Lola merasa menang, dia mengira kalau Gala sedikit demi sedikit sudah mulai untuk membuka hatinya.
Padahal di balik itu semua, Gala hanya teringat dengan keadaan Becca yang saat ini pasti sedang menangis, akibat meratapi sikap suaminya yang semakin berubah.
"Punya tangan 'kan? Terus--"
"Ya sudah, tidak usah. Aku masih--"
"Yayaya, saya suapin. Dasar manja!"
"Hehe, gitu dong. Jadi, anak kita 'kan tambah semangat makannya, lagian manja itu wajar Sayang. Dengan begitu suatu saat nanti Tuan akan bisa mencintai saya seperti---"
"Udah jangan banyak ngomong, siapkan makananya. Saya mau ke kamar mandi dulu!"
__ADS_1
Gala pergi begitu saja menuju kamar, dimana dia sebenarnya tidak ingin melakukan semua ini. Hanya saja keadaan yang selalu memaksakannya untuk bersikap layaknya seorang suami.
Lola yang merasa senang hanya bisa melampiaskan semua itu dengan berjoget ria. Ini kali pertamanya bagi Lola bisa tidur bersama Gala dengan menghabiskan malam yang cukup panjang.
Rasanya bila waktu bisa di hentikan, Lola ingin sekali menghentikannya untuk selamanya. Dimana dia tidak akan membiarkan Gala kembali bersama Becca dan juga anaknya yang selama ini mengambil waktunya lebih banyak.
Jika di Apartemen sedang dalam suasana senang, berbeda dengan di rumah. Becca yang baru saja merasa tenang, berusaha kembali merapihkan kamarnya yang sangat berantakan.
Dia tidak ingin bila Naku sampai melihat itu semua, maka malah semakin membuatnya penasaran. Sebenarnya Becca suda tahu jika setiap kali anaknya melakukan ujian,pasti kamar selalu terkunci dan kedap suara pun diaktifkan.
Maka dari itu dia berani mengeluarkan semua apa yang dia rasakan kepada Gala, walau pada akhirnya Gala memilih pergi untuk meninggalkannya.
Setelah semua kembali rapi, Becca langsung keluar kamar menuju dapur. Dia mengambil segelas air dingin, sambil sedikit menutup mulu pembantunya yang memang sudah menyadari pertengkaran itu.
Kemudian Becca mengobati lukanya yang cukup terlihat, agar keesokan harinya bisa jauh lebih membaik. Serta dia harus memikirkan cara bagaimana menutupi luka itu dari anaknya sendiri.
Namun, di saat Becca kembali kepikiran sama suaminya yang pergi dalam keadaan emosi. Dia mencoba untuk memberanikan diri menelpon ke security kantor, hanya sekedar memastikan jika suaminya sampai di sana dalam keadaan baik-baik saja.
Nyatanya, Becca salah. Suami yang dia khawatirkan, ternyata benar-benar tidak ada di kantor. Kecurigaan Becca semakin kuat, hingga air matanya kembali menetes deras sambil tangannya mere*mas sprai cukup kuat.
Sampai tidak terasa Becca harus tertidur dalam keadaan masih menangis, dimana matanya mulai membengkak dan wajahnya sangat sembab.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung