Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Mengejar Naila


__ADS_3

"Maaf jika kepergian Naila adalah kesalahanku. Aku sadar, apabila semua yang terjadi selama ini memang akulah penyebab terbesarnya. Mungkin jika bukan karena amanah yang diberikan oleh mendiang kakakmu, sampai detik ini aku belum bisa memiliki keturunan untukmu. Nailalah satu-satunya rezeki yang Tuhan kirim untuk membuatku semangat memiliki adik agar Naila tidak lagi merasa kesepian."


"Namun, aku juga satu-satunya penyebab perginya Naila. Tapi, satu hal yang harus kamu ketahui. Apakah salah, seorang ibu menyembunyikan hal itu demi menjaga mental sang anak? Apakah salah jika seorang ibu tidak ingin kehilangan anaknya? Salah? Jika memang salah, maaf ... Kau pulang saja, jaga anakmu! Biarkan semua masalah ini aku yang membereskan. Aku janji sama kamu, aku tidak akan pulang ke rumah sebelum aku menemukan anakku, Naila!"


Vivi tersenyum getir menahan tangisnya, meskipun air mata sudah menetes tetap saja wanita itu mencoba untuk kuat, juga tegar di depan sang suami. Setelah itu, Vivi keluar dari mobil dan berlari sekuat tenaga pergi menjauhi mobil Leon.


Di mana Leon terdiam mematung di dalam mobil sambil mencerna semua perkataan sang istri yang begitu menyakitkan hatinya. Hanya dalam hitungan beberapa detik, Leon baru menyadari semua itu dan segera menyusul istrinya. Akan tetapi, Vivi sudah tidak terlihat di sekeliling Leon hingga membuatnya menjadi khawatir.


"Aaarrgghh ... Dasar Leon bod*doh!"


Leon menendang keras ban mobil tanpa merasa sakit akibat emosi yang ada di dalam diri tidak bisa terkontrol dengan benar.


Pria itu begitu menyesal karena sudah menyalahkan istrinya atas kejadian yang terjadi hari ini. Padahal, ini juga kesalahan yang Leon perbuat akibat tidak bisa menjelaskan pada sang istri serta megambil keputusan yang tegas.


"Kali ini kau sudah benar-benar keterlaluan, Leon! Bisa-bisanya kau menyalahkan semua ini pada istrimu sendiri, sedangkan Vivi sangat menyayangi Naila. Lantas, bagaimana denganmu, hahh? Apa kau sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik? Ayah yang merangkul anakmu? Atau, kau sudah bisa menjaga amanah itu dengan baik? Tidak bukan!"


"Asal kau tahu, Leon! Wajar saja hati nurani Vivi webagai seorang itu selalu menolak, apabila kau ingin mengungkapkan semua masa lalu itu karena dia tidak ingin kehilangan Naila. Justru kaulah, peran oenting yang harusnya bisa mengambil sikap tegas di dalam rumah tangga! Kau nasihati istrimu, kau beri dia pengertian, dan kalian bisa pelan-pelan memberikan penjelasan pada Naila sambil menjaga mentalnya. Bukan malah mengikuti istrimu, lalu setelah semuanya terjadi kau malah menyalahkannya. Dasar suami tidak berguna!"


"Arrrghhh ... Kenapa di saat rumah tanggaku sedang bahagia-bahagianya, semua badai kembali datang. Kenapa, Tuhan? Kenapa! Aku sudah sangat jauh menyakiti hati istriku juga anak-anakku, lalu aku harus mencari keana mereka berdua. Sementara di rumah, ada anakku yang pastinya butuh kami sebagai orang tuanya. Dia masih sangat kecil untuk bisa ditinggal lama-lama, sedangkan istriku tidak akan pulang sebelum dia menemukan Naila. Terus, gimana denganku, Tuan? Gimana hiks ...."


"Aku tidak tahu harus mencari mereka ke mana lagi, hari sudah mulai sore, awan pun mulai mendung. Bagaimana jika mereka kehujanan di luar sana, lalu mereka sakit, dan apakah mereka bisa bertahan hidup tanpa membawa uang saku sepersen pun? Arrrghhh ... Pokoknya aku harus segera mencari mereka semua, malam ini juga aku akan membawa mereka pulang dan menjelaskan semua dengan bukti yang sudah aku kumpulkan jauh-jauh hari. Titik!"

__ADS_1


Leon bergegas kembali memasuki mobilnya, kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang memutar arah. Leon mulai menelusuri jalanan agar bisa segera menemukan Vivi, pastinya wanita itu kabur belum jauh dari tempat Leon menghentikan mobil.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Seorang gadis kecil terus berlari tanpa henti sambil menangisi nasib malang akan hidupnya. Dia adalah Naila yang kabur dari rumah tanpa membawa apa pun, hanya ada air mata yang saat ini menjadi teman disetiap langkah kakinya.


"Hiks ... Kenapa Ayah dan Bunda jahat sama aku, kenapa mereka menyembunyikan kebenaran ini sampai aku besar. Apa maksud mereka? Apa mereka tidak ingin aku mengetahui siapa ayah dan ibu kandungku sendiri, jika benar berarti mereka memang ingin memisahkanku. Pantas saja dulu teman-temanku selalu bilang kalau wajahku ini gak mirip sama mereka, ternyata memang benar. Ka-kalau mereka bukan orang tua kandungku, tetapi paman dan bibiku dari ayah."


"Andaikan kalian jujur dari awal sama Naila, mungkin rasa sakitnya tidak akan sesakit ini. Kalian tega memisahkan aku dengan orang tua kandungku sendiri, bahkan aku tidak pernah melihat foto mereka sekali saja. Apa Bunda dan Ayah sengaja melakukan ini supaya aku tidak pernah mengenali keluargaku sendiri? Iya!"


"Selama ini aku selalu menuruti mereka karena aku kira mereka orang tuaku, orang tua yang sangat menginginkan anaknya tumbuh besar menjadi orang baik dan sukses. Akan tetapi, mereka bukanlah orang tuaku. Ya, aku tahu mereka itu orang baik, mereka bagian dari keluargaku juga. Cuman, aku tidak suka mereka berbohong tentang hal sebesar ini. Apa alasan mereka menyembunyikan masa laluku yang sudah hamlir 13 tahun ini? Apa mereka tidak ingin membuatku sakit, kecewa dan sedih atas kejadian itu? Jika benar, maka jawabannya adalah salah!"


"Dengan cara mereka yang seperti ini, itulah yang membuatku sangat sakit dan juga hancur! Mereka enak tidak akan pernah merasakan kehilanganku, sementara aku? Aku kehilangan siapa jati diriku dan bagaimana aku bisa dirawat bersama orang tua yang sebenarnya bukan orang tua kandungku!"


Naila berbicara di dalam hatinya sambil terus menangis berlari tanpa rasa letih. Akan tetapi, belum selesai Naila mengungkapkan seluruh isi hatinya. Seseorang tiba-tiba saja memanggil na gadis itu dengan suara yang sangat lantang, keras, dan mudah dikenali.


Gadis itu segera menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik melihat siapa yang sedang berlari mendekat dalam keadaan tersenyum disertai air mata menetes diwajahnya.


"Naila sayang!" pekik orang tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Vivi. Dengan mudahnya Naila ditemukan hanya karena doa Vivi yang sangat tulus untuk mencari anaknya.


Siapa sangka, Naila yang mengetahui Vivi telah berhasil menemukannya. Secepat mungkin Naila terus berlari, hingga Vivi berusaha menambar kecepatannya kembali demi mencapai sang anak.

__ADS_1


"Berhenti, Sayang! Bunda mau berbicara sama Vivi, tolong jangan lari, Nak! Bunda mohon ... berhentilah!"


"Gak ... Naila gak mau ketemu sama Bunda dan Ayah lagi! Pokoknya Naila kecewa sama kalian, pergilah! Jangan mendekat, Naila benci kalian!"


Tanpa mebghubris apa pun, Vivi terus menambah kecepatan larinya tanpa memperdulikan kondisi napas yang sudah terpenggal-penggal akibat memaksakan diri ubtuk mengejar Naila.


Sampai akhirnya, Vivi menyebrang sebuah jalan besar tanpa melihat kanan-kiri laju kendaraan yang lalu-lalang dengan kecepatan tinggi.


"Naila, awas!" teriak Vivi ketika menyadari ada sebuah mobil truk besar yang melaju ke arah Naila.


Gadis kecil itu berhenti sambil menoleh melihat lampu mobil yang mati-nyala sebagai peringatan kalau sang supir tidak bisa mengerem laju mobil secara mendadak.


"Naila!"


"Aaarrgghhh ...."


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2