Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Daddy?


__ADS_3

Naku menganggukan kepalanya, lalu mengucapkan kalimat diluar dari dugaan Sus Rini juga Joey yang ada di sana. "Terima kasih, Dok. Maaf kalau emosi saya tidak bisa dikontrol, saya hanya tidak ingin Yola terluka itu saja!"


"Santai saja, semua itu wajar-wajar aja, kok. Intinya kalian tidak perlu khawatir, sebentar lagi adikmu akan dipindahkan ke kamar rawat inap karena harus melakukan beberapa ronsen dengan persetujuan kedua orang tua. Jadi, saya harap orang tuamu bisa hadir di sini. Oke?"


Sang dokter tersenyum menepuk kecil pipi sebelah kiri Naku secara perlahan sebagai penyemangat agar tidak membuat suasana menjadi tegang. Naku hanya mengangguk, lalu sang dokter pun berpamitan untuk kembali mengurus semua yang Yola butuhkan.


"Ya, sudah. Saya pamit mau mengurus yang lainnya, jika kalian ingin bertemu dengan Nona Yola. Harap menunggu sampai Nona Yola sudah dipindahkan ke kamar rawat, bisa dipahami?" ucap sang dokter.


"Baiklah, terima kasih!" ucap Naku, terpaksa harus menunggu lagi sampai Yola benar-benar sudah dipindahkan. Setidaknya Naku merasa sedikit lega saat mendapatkan informasi dari dokter, kalau sang adik hanya butuh istirahat dalam waktu beberapa bulan kedepan.


Joey dan Sus Rini tidak ingin ikut campur, mereka hanya terdiam dalam keadaan jantung yang sudah mulai membaik akibat rasa tegang melihat Yola selalu mengeluh kesakitan.


Selepas sang dokter pergi, Naku langsung mencoba berulang kali untuk menghubungi kedua orang tuanya. Akan tetapi, Becca dan Rio yang memang sangat-sangat sibuk tidak bisa mengangkat panggilan. Semua dikarenakan ponsel mereka berdua dalam mode silent.


Mungkin Becca dan Rio berpikir jika Yola pergi bersama Naku sudah pasti aman. Tidak akan ada sesuatu yang membahayakan, tetapi mereka salah. Niatnya memasang mode silent di ponsel agar bisa lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan urusan lebih cepat. Setelah itu, mereka bisa segera kembali pulang ke rumah untuk bermain atau duduk santai bersama keluarga kecil yang sangat menggemaskan.


Akan tetapi, ketika Naku mulai menyerah menghubungi kedua orang tua akhirnya dia fokus mengantarkan Yola ke kamar yang baru bersama Sus Rini juga Joey. Baru juga masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ponsel Naku berdering. Dia harus mengangkat ponsel di luar kamar untuk berbicara dengan Rio.


[Hallo, Kak. Ada apa? Kenapa banyak sekali panggilan telpon tidak terjawab? Apa ada masalah sama kalian?]


Suara Rio terdengar begitu mencemaskan kondisi anak-anak, apa lagi posisi Rio masih ada satu meeting lagi yang belum terselesaikan. Sehingga Rio harus menunda semua itu karena merasa ada yang tidak beres dengan kondisi anak-anaknya.

__ADS_1


[Kak, hei ... Kakak gapapa? Terus gimana sama Yola, apa kalian berdua baik-baik aja? Katakan sama Dad ... akhh, maksudnya katakan sama Om sebenarnya kalian kenapa, jangan diam aja. Ayo, bicaralah Om khawatir!]


Naku terdiam bukan karena dia takut, hanya saja Naku bingung. Dia harus menjelaskan ke Rio seperti apa, lantaran suara Rio terdengar begitu gelisah saat mendapatkan panggilan tidak terjawab dari Naku.


Baru kali ini Rio memanggil Naku dengan sebutan kakak, sedangkan Becca saja dari dulu selalu memanggil Naku menggunakan nama. Tidak ada sedikit saja embel-embel dibelakang namanya, baru Rio yang mulai menghargai Naku sebagai seorang kakak walaupun kakak sambung dari Yola.


[Kak ....] panggil Rio, membuat Naku langsung tersadar dan tidak disangka dia malah menyebutkan kata-kata yang berhasil membuat Rio tercenga.


[Iya, Dad. Maaf tadi sinyalnya hilang-hilangan, a-ada apa?] Suara Naku terdengar gugup di telinga Rio.


[Da-dad? Ma-maksudnya Daddy?] tanya Rio untuk meyakinkan kalau dia tidak salah mendengar apa yang Naku katakan.


Naku terdiam sejenak, dia sendiri terkejut atas apa yang dikatakan oleh mulutnya. Tidak ada lagi alasan Naku untuk mengelak, mungkin ini sudah takdir Naku untuk menerima semua keadaan kalau Rio adalah kepala rumah tangga sekaligus ayah bagi Naku.


[Tidak, Sayang. Tidak! Aku suka banget panggilan itu sekali lagi terima kasih, Naku sudah bisa menerima Daddy sebagai bagian dari hidup Naku. Entah, bagaimana Daddy mengapresiasikan perasaan bahagia ini. Intinya Daddy bangga sama Naku ... Naku sudah tumbuh menjadi anak yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya.]


[Ini semua berkat campur tangan Daddy, kalau bukan Daddy mungkin Naku tidak bisa menjadi anak yang lebih menghrgai kehidupan juga ujian yang selama ini Naku hadapi. Terima kasih, Dad!]


[Sama-sama, Kak. Ohya, tadi kakak nelpon ada apa? Daddy kaget karena kurang lebih ada 10 panggilan tidak terjawab. Pas dicek tidak ada notif pesan, jadi Daddy bingung. Apa ada sesuatu sama kalian?]


Naku terdiam sejenak, perlahn mulai menarik napas lalu menjelaskan yang terjadi sama Yola sesuai sama apa yang Naku ketahui. Betapa terkejutnya Rio ketika mendapat kabar kalau kondisi Yola sekarang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang lagi, Rio segera menutup ponselnya setelah mendapatkan alamat rumah sakit Yola dirawat. Kemudian bergegas pergi menjemput Becca di toko kue untuk melihat konsisi Yola yang sekarang sudah jauh lebih baik.


Selesai Naku mengobrol dengan Rio, dia kembali masuk ke dalam ruangan dan melihat pemandangan tidak mengenakkan di mana Joey duduk tepat di samping bangkar sambil tertawa bersama Yola.


"Hyakkk ... Berulah lagi ini bocah, minggir, minggir! Siapa yang menyuruhmu duduk di sini, hahh? Ini tempatku, bukan tempatmu. Lagian juga ngapain kamu masih ada di sini, pergi sana! Kasihan orang tuamu pasti nyariin anak kesayangannya, huss, huss ...."


Sikap Naku yang semakin lama semakin menyebalkan hanya bisa membuat Yola menepuk dahinya sendiri. Entah, permintaan apa yang sudah Yola panjatkan sampai-sampai dia harus memiliki kakak seperti Naku. Yola kira sifat Naku sama seperti bisanya cuek, ternyata beda. Naku cuek ketika Yola ada di dekatnya, tetapi saat Yola dekat dengn pria lain semua kecuekan itu berubah menjadi posesif.


Huhh, sabar, Yola, sabar! Kakakmu ini sepertinya habis kejedot tempok, jadi beginilah sifatnya. Untung kakak, coba kalau bukan udah aku buang ke laut. Sumpah nyebelin banget, akhhh!


Yola berbicara di dalam hatinya dengan menahan perasaan kesal terhadap sikap Naku. Sampai akhirnya, Joey tetap mengalah. Dia tidak ingin mencari ribut dengan Naku, lebih baik Joey menjauh sedikit agar tidak membuat Yola semakin pusing melihat perdebatan mereka.


"Ngapain masih berdiri disitu?" tanya Naku yang sudah duduk di kursi samping bangkar Yola sambil menoleh menatap Joey yang berdiri beberapa langkah darinya.


"Den Joey, sini duduk sama Sus aja jauh lebih aman, maklum singa yang menjaga Non Yola sangat galak. Dari apda nanti Den Joey di gigit terus rabies mendingan jauh-jauh deh, serem kan!"


Sus Rini segera menarik Joey agar duduk bersamanya di sofa panjang, sesekali mencibir untuk menyindir Naku. Otak Naku sedikit lola akibat kata-kata yang terlontar dari Sus Rini seperti ada yang salah. Berbeda sama Yola, dia langsung konek apa yang dimaksud oleh Sus Rini. Sementara Joey, memukul kecil paha Sus Rini agar tidak mengatakan seseorang dengan kata-kata yang seperti itu.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2