
Rani duduk dalam wajah kesal menatap suaminya. Seketika tangan sang istri refleks untuk melampiaskan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan caran mencubit, menggigit bahkan memukul lengan Ragil.
Sedikit pun Ragil tidak merasa sakit. Dia malah melirik istri tercinta sekilas dan kembali menatap ke arah pintu. Meskipun, rasanya sangat sakit Ragil tetap tidak bisa berteriak.
Perasaan Ragil saat ini sudah campur aduk, hingga dia mulai kebal sama apa yang istrinya lakukan demi melampiaskan semua rasa tegang ketika Joey melalukan beberapa tes.
Saking kesalnya Ragil tidak mau berbicara, Rani segera menegurnya sampai memaki-maki suami tercinta dengan suara lantang.
"Hyaakk! Kamu ini kenapa sih, hahh? Kenapa diam aja saat aku gigi, pukul, cubit segala macem. Apa kamu tidak merasakan sakit? Biasanya aku cubit dikit aja kamu sudah jerit-jerit. Terus, sekarang kenap cuman bisa diam, hahh? Ada apa, Ragil? Ada apa!"
"Apa kamu tidak merasa cems melihat anakmu sendirian di dalam? Bagaimana jika Joey takut menghadapi tes-tes yang berat, hahh? Masa kita sebagai orang tua tidak bisa menemaninya, aneh! Rumah sakit macam apa ini, menyebalkan!"
Ragil tetap setiap pada pendiriannya. Dia lebih fokus untuk menenangkan pikiran yang mulai berlari ke mana-mana. Ragil takut, seandainya sang anak tidak bisa disembuhkan. Lantas, bagaimaa caranya Ragil bisa bertahan hidup? Ibaratkan Ragil sebuah bangunan dan Joey sebagai pondasi tiang-tiang yang kokoh demi menahan bangunan agar tidak rubuh.
Namun, jika pondasi dan tiang kokoh itu hancur, maka bisa dipastikan bagaimana keadaan Ragil ke depannya. Pria itu pasti akan sangat merasa kehilangan anak satu-satunya yang selalu mengerti keadaan kedua orang tua, tanpa menuntut mereka untuk menjadi seperti orang lain.
Jika mereka bisa membuat Joey junior lainnya, tetap saja tidak akan ada yang sama persis seperti putra semata wayangnya ini. Sehingga, mereka tidak ingin sedikit saja hal buruk terjadi padanya.
__ADS_1
"Kalau ini kenapa sih menyebalkan sekali, aku lagi ngoceh loh, kenapa kamu diam mulu, hahh? Harusnya kamu buat aku tenang bukan malah jadi panik kaya gini, benar-benar kamu, ya!"
Rani mengatakan semua itu penuh penekanan dengan mata yang sangat tajam, tetapi Ragi tidak punya banyak waktu berdebat. Sebisa mungkin Ragil harus bisa tenang, jika dia ikut terbawa suasanya sudah pasti mereka akan bertengkar hebat di rumah sakit hanya karena efek memikirkan soal penyakit yang Joey derita.
"Sudahlah, Ran. Diamlah, kalau kamu ngoceh mulu kasihan tenggorokanmu kering. Lebih baik kita duduk tenang, pikirkan yang baik supaya penyakit Joey akan secepatnya di atasi tanpa harus menunggu lama karena akan membahayakan nyawa Joey sendiri."
"Aku paham kamu khawatir, tapi bukan dengan cara marah-marah untum melampiaskan. Itu bukan solusi yang baik, hatimu malah akan menjadi tidak tenang. Siapa sih, di dunia ini yang menginginkan ujian seberat kita, hem? Gak ada, 'kan? Ya, itulah. Kalau kamu bisa menghadapinya, berarti kamu hebat. Derajatmu akan naik satu tingkat di mata Tuhanmu. Sebab, kamu akan punya banyak pengalaman hidup yang kelak akan membuatmu merasa bangga pada diri sendiri."
Nasihat-nasihat ya Ragil berikan pada Rani sangat membantunya untuk segera sadar dari apa yang sudah dilakukan. Rani langsung berhambur memeluk Ragil membuat mereka saling menguatkan satu sama lain untuk berjuang demi kesehatan Joey juga masa depannya.
Kurang lebih setengah jam mereka menunggu Joey di depan ruangan sambil duduk dan berpegangan tangan seperti ingin menyeberang jalan. Di saat pintu mulai terbuka bersamaan dengan keluarnya profesor dokter dan Naku.
"Dok, bagaimana kondisi anak saya? Apa hasilnya? Penyakit anak saya baik-baik aja, 'kan? Tidak ada yang harus ditakuti seperti dugaan kita?" tanya Ragil dengan segala kepanikan yang dari tadi dipendam.
Ragil melayangkan semua pertanyaan itu dalam satu tarikan napas hingga membuat Rani refleks mengelus punggung sang suami. Rani bisa mengerti kenapa dari tadi Ragil selalu mencoba untuk menjelaskan padanya untuk tetap tenang. Ternyata, rasa khawatir yang Ragil punya jauh lebih meledak dari perasaan Rani sendiri terhadap putranya.
"Tenang, Sayang. Ingat, tadi kamu sudah banyak memberikan aku penjelasan. Jadi, kita dengrkan dulu penjelasan dari dokter seperti apa karena masih banyak proses yang kita harus lewati."
__ADS_1
"Joey gapapa, Mam, Pap. Joey masih sehat, lihatlah! Joey masih berdiri dengan kedua kaki Joey sendiri, kenap kalian takut? Jika emmang hidup Joey tidak akan lama, itu sudah takdir dari Tuhan. Kita tidak bisa mencegahnya, selagi Tuhan tidak memberikan izin buat kita. Mamih dan Papih tenanglah, walaupun Joey tiada kalian tetap masih bisa merasakan kehadiran Joey di dalam hati kalian, bukan?"
Degh!
Jantung Rani dan Ragil langsung berdebar sangat ceoat ketika mendengar perkataan dari sang anak yang begitu menyakitkan. Bisa-bisanya Joey mengatakan hal itu sambil tersenyum lebar, seakan-akan dia tidak merasakan kalau penyakit yang di deritanya sangatlah berbahaya.
Entahlah, Rani dan Ragil tidak habis pikir. Hati Joey terbuat dari apa, sehingga dia bisa menghadapi semua ujian ini layaknya air yang mengalir sangat tenang. Dokter sendiri juga bingung, selama berapa tahun kasus yang dia tangani baru hanya ada anak seusi Joey bisa menerima takdir seindah ini.
Joey seperti menjadikan penyakit sebagai temannya agar tidak merasakan kesakitan seperti anak lainnya yang mengalami hal serupa dengannya. Sungguh, Rani tidak bisa berkata apa-apa selain menutup mulut Joey menggunakan salah satu tangannya dan satunya lagi memeluk Joey dari arah samping.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1