Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Camer


__ADS_3

Setelah selesai mengerjakan ujian di hari pertama, Naku yang rencana ingin langsung pulang ke rumah malah terhalang oleh sesuatu yang menahannya.


Ketika Naku baru saja ingin memasuki mobilnya, tiba-tiba di kejutkan oleh keberadaan seseorang yang sudah duduk tepat di samping kirinya.


"Hai, Oppa!" ucap Naila, menunjukkan sederetan gigi kecil yang rapi dan sangat menggemaskan.


Naku refleks segera menoleh ke arah Naila dengan bola mata yang hampir saja copot. Kehadiran Naila yang tidak di undang, benar-benar berhasil mengagetkannya.


"Na-naila? Nga-ngapain lu-lu ada di sini?" ucap Naku yang masih dalam keadaan syok.


"Hehe ... Aku mau ikut Oppa ketemu sama camer." jawab Naila, spontan.


"Ca-camer? Apa itu?" tanya Naku bingung.


"Calon mertua hihi ...." sahut Naila tertawa geli ketika mendengar apa yang dia ucapkan sendiri.


Mata Naku kembali membola besar dan membuatnya menjadi salah tingkah. Dimana pipinya berubah sedikit memerah.


"Cie, cie ... Mukanya langsung merah, haha ...."


Sifat jahil Naila benar-benar membuat Naku menjadi salah tingkah. Naku segera mengalihkan pandangannya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin tidak karuan.


Sementara Naila tertawa puas tanpa henti, saat dia melihat wajah Naku yang terbilang lucu jika sedang malu-malu kucing.


"Se-sekarang mendingan lu keluar dari mobil gua, gua mau pulang!" ucap Naku, wajahnya berubah menjadi kesal saat Naila tidak henti-hentinya menertawakannya.


"Ishh, Oppa. Naila pengen ikut boleh, ya?" Naila menyatukan kedua tangannya sambil memohon dengan memasang wajah yang sangat melas.

__ADS_1


"Gu--"


"Oppa enggak kasihan sama Naila. Hari ini Ayah sama Bunda lagi ada acara, mereka pulang malem. Terus kalau Naila di rumah, Naila bingung harus ngapain. Jadi, Naila ikut Oppa aja ya. Nanti sore Naila pulang, janji deh enggak akan nyusahin Oppa. Ya ya ya, please ...."


Naila terus membujuk Naku, supaya Naku berniat untuk mengajaknya kemanpun dia pergi. Sebab, wajah melas dan juga sedih yang Naila berikan, merupakan sebuah sandiwara yang cukup menyentuh hati pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Ckk, ada-ada aja ini cewek! Kenapa sih yang namanya cewek itu selalu saja nyusahin, bikin pusing aja!"


"Mana semalam Mommy sama Daddy habis berantem lagi, terus kalau sampai nanti dia main ke rumah yang ada dia bisa tahu. Jika, keluargaku tidak seharmonis keluarganya."


"*Arrghh, tidak. Pokoknya gua enggak boleh bawa dia ke rumah, titik!"


"Terus, gua harus bawa dia kemana lagi*?"


Naku berbicara di dalam hatinya sambil terdiam menatap wajah Naila yang terus memohon kepadanya. Rasanya Naku sedikit kasihan jika dia harus memaksa Naila untuk pulang ke rumah, jelas-jelas di rumah tidak ada siapa-siapa.


Dengan terpaksa Naku harus menghembuskan napasnya kasar, sambil mengatakan sesuatu yang berhasil membuat senyum Naila kembali melebar.


"O-oke, lu boleh ikut gua. Tapi, bukan ke rumah. Kita ke Mall, nanti sore gua anter lu pulang. Gimana, mau apa enggak? Kalau enggak, gua balik!"


Penawaran Naku langsung di angguki oleh Naila tanpa di bantah. Saking senangnya Naila bisa jalan dengan Naku, tubuhnya refleks memeluk Naku begitu erat.


"Huaa ... Naila seneng banget, Oppa mau ngajak Naila jalan. Aaa ... Pokoknya makasih, makasih, makasih!"


Naila mendusel-duselkan kepalanya tepat di dada Naku. Seketika tubuh Naku berubah menjadi kaku, hidungnya mulai mencium aroma sampo yang ada di rambut Naila.


Entah mengapa, aroma itu malah membuat Naku menjadi candu. Baru kali ini tubuhnya di peluk oleh seorang wanita selain Becca, padahal dari kecil sampai dia besar. Sedikitpun tidak ada yang berani menyentuhnya, akibar Naku terlalu galak saat berhadapan dengan wanita.

__ADS_1


Namun, sedetik kemudian Naku langsung mendorong Naila cukup keras. Sampai tidak sadar tubuh mungil Naila yang sedikit gembul langsung menabrak pintu.


"Awwshh, Oppa ish ... Jahat!" keluh Naila mengusap lengan kanannya sambil mengembungkan kedua pipinya.


"Bodo amat, lagian lu ngapain sih meluk-meluk gua. Risih tahu enggak!" sahut Naku, kesal.


Wajahnya memang terlihat memancarkan aura kemarahan, tetapi tidak dengan jantungnya yang berdebar sangat cepat.


"Ya maaf, namanya juga Naila lagi seneng. Di rumah juga gitu, kalau seneng Naila pasti meluk. Makannya Oppa itu harus tahu kebiasaan Naila, biar nanti tidak kaget, sewaktu-waktu Naila pe--"


"Ssstt, berisik!"


"Udah jalan, Pak. Kita ke Mall Plaza!"


Sang supir pun menganggukan kepalanya. Kemudian menjalankan mobilnya penuh kehati-hatian dengan kecepatan sedang.


Naku sangat berjaga jarak, lalu fokus memainkan ponselnya, begitu juga Naila. Dia pun memainkan ponselnya sambil memberikan kabar kepada kedua orang tuanya. Sesekali melihat ke arah Naku yang sedang bermain games.


25 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di depan Mall Plaza. Naku turun lebih dulu dari Naila, tanpa di sengaja matanya melihat seseorang yang sangat dia kenali.


Hanya saja, semua itu menjadi kacau akibat kehadiran Naila yang mengejutkannya. Wajah Naila sangat bersemangat, sampai tangannya langsng menarik Naku memasuki Mall yang sangat besar.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2