Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Bertemu Naila Di Rumah Sakit


__ADS_3

Becca terdiam mematung ketika sang anak menatapnya untuk menunggu jawaban yang keluar dari bibir sang mommy. Wanita itu terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dikatakan terhadap anak laki-lakinya.


"Mom, kok, diam? Mommy mau ke mana? Tumben Ade ditinggal sendiri, biasanya selalu ikut Mommy. Terus, Mommy udah izin sama Daddy mau keluar rumah. Apa kata Daddy? Daddy ngizinin?"


Bagaikan seorang intel, Naku terus membeberkan pertanyaan-pertanyaan sedetail mungkin demi memastikan jika sang mommy pergi atas izin dari Rio, selaku suaminya.


"U-udah, kok. Justru daddy menyarankan agar tidak membawa Ade pergi, jadi----"


"Ayo, Mom. Yola udah siap nih, let's go!"


Dengan penuh semangat Yola menggandeng tangan Becca, lalu tersenyum membuat sang mommy menjadi bingung.


"E,ehh ... Mo-mommy gak bisa ngajak Yola, Mommy ada urusan di rumah sakit. Yola sama Kakak di rumah aja ya, jagain Ade. Mommy sebentar kok, perginya. Janji gak akan lam---"


"Rumah sakit?" tanya Naku dan Yola secara bersamaan. Wajah mereka terlihat kaget ketika mendengar tempat tersebut.


"Siapa yang sakit, Mom?" tanya Yola, bingung.


"Mommy sakit? Atau Daddy? Kalau gitu tunggu, Naku naruh tas dulu!" Baru juga Naku ingin berlari ke dalam rumah, Becca langsung menahan tangan Naku membuatnya kembali menatap wajah sang mommy.


"Eeehhhh, tunggu, Kak! Mommy sama Daddy gak sakit, yang sakit itu bundanya Naila, dia mrngalami kecelakaan dan keadaan kritis. Bunda mau ke sana melihat keadaan Naila, kasihan dia. Untung ada daddymu, dialah yang menolong Naila dan bundanya. Jadi, Bunda pengen ke rumah sakit kamu sama Yola di rumah aja ya, jaga Ade. Bisa?


Jantung Naku langsung berdetak kencang ketika mendengar berita mengenai keluarga Naila. Rasanya Naku sudah cukup lama sekali tidak bertemu dengan gadis menyebalkan itu. Akan tetapi, dipertemuan kali ini Naku malah mendapatkan kabar menyedihkan.


"Na-naila, Mom?" Wajah Naku seketika berubah menjdi panik.


"Ya, Naila teman SMP-mu dulu. Kamu masih ingat?" tanya Becca, memastikan.


"Kak Naila yang Mommy pernah ceritakan itu, 'kan? Dia temannya Kakak yang ngumpet di bawa selimut pas Kakak sakit. Benar 'kan, Mom?"

__ADS_1


"Nah, iya, Sayang. Bunda mau lihat Kak Naila di rumah sakit, Yola di rumah aja ya, mending Yola makan ajak Kakak. Kalian juga baru pulang les, pasti capek. Nanti jam 7 Mommy pulang, kok. Janji gak akan lam---"


"Naku ikut, tunggu. Jangan ke mana-mana!"


"Yola juga mau ikut, titik! Yola mau kenalan sama Kak Naila, Yola mau lihat Kak Naila. Yola gak mau di rumah, Ade ada bibi yang jagain. Jadi, Yola mau jagain Mommy aja.


Naku bergegas pergi meninggalkan Becca dan Yola yang masih berdiri di dekat pintu utama. Secepat mungkin Naku mengganti pakaian, dan menaruh semua barang-barang sekolah dengan baik.


Sementara itu, Yola terus memegangi tangan Becca. Tidak ada cara lain, suka tidak suka Becca harus tetap membawa kedua anaknya daripada dia tidak bisa pergi ke rumah sakit.


Becca dan Yola berjalan ke arah mobil, lalu masuk terlebih dahulu sambil menunggu Naku yang sudah selesai berganti baju. Hanya dalam waktu kurang lebih 5 menit, Naku berlari sekencang mungkin dari dalam rumah kemudian segera memasuki mobil.


Tak lama mobil pun berjalan meninggalkan perkarangan rumah. Di dalam mobil, Becca kembali menghubungi Rio untuk memberitahu jika dia berangkat tidak sendiri, melainkan bersam kedua bodyguard kecil yang tidak mengizinkannya pergi sendirian.


Rio tidak masalah, sebab usia mereka sudah terbilang cukup untuk bisa berada di rumah sakit. Rio hanya berpesan agar mereka membantu Naila mencarikan 1 kantong da*rah lagi demi berjaga-jaga untuk mencegah sesuatu hal buruk terjadi.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Hanya saja, Naku menghentikan langkahnya. Dia meminta Becca dan Yola untuk pergi lebih dulu karena Naku sangat kebelet ke kemar akibat perutnya yang tiba-tiba sakit.


Awalnya Becca tidak tega meninggalkan Naku, tetapi tidak ada jalan lagi. Naku juga sudah dewasa tidak mungkin dia kesasar di rumah sakit. Apalagi sudah ada ponsel canggih, jadi tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kondisinya.


Sesampainya di lantai 2. Becca terus menggandeng tangan Yola sambil mencari letak keberadaan ruangan operasi. Setelah menemukannya, Yola langsung berlari memeluk Rio dan Becca langsung memeluk Naila.


Rasa rindu Becca terhadap Naila memang tidak diragukan, lantaran Becca sudah menganggap kalau Naila itu seperti anaknya. Hanya karena mereka sudah jarang ketemu membuat keduanya saling melepas kangen.


Sayangnya, rasa kangen itu berada di posisi yang salah. Di mana harusnya dipenuhi kebahagiaan, kini malah air mata karena Becca merasa kasian melihat kondisi Naila saat ini.


"Ya, ampun, Sayang. Kenapa kamu bisa seperti ini, gimana kabar bundamu? Apakah operasinya sudah selesai?"

__ADS_1


Becca melepaskan peluknnya, lalu mengusap air mata Naila yang terlihat wajahnya cukup pucat serta sembab.


"Be-belum, Tan. Sa-sampai detik ini belum ada informasi lagi dari dokter. O-operas sudah berjalan hampir 2 jam, tapi belum ada yang keluar. Naila takut Bunda kenapa-kenapa, Tante. Naila takut hiks ...."


"Tenanglah, Sayang. Berdoa sama Tuhan, minta perlindungan. Tante yakin bundamu itu wanita yang hebat, dia tidak akan meninggalkan anaknya dalam keadaan seperti ini. Percayalah, Tuhan akan menyelamatkan bundamu. Sekarang jangan nangis lagi, kasihan matamu sudah begitu bengkak. Lebih baik kau istirahat ya, Tante antar ke kamar. Mau?"


Naila menggelengkan kepalanya secepat mungkin. Dia tetap akan bertahan di depan ruangan operasi demi menunggu kabar dari sang dokter.


Perlahan Yola berjalan mendekati Naila, lalu tersenyum sambil menjulurkan tangan membuat Nail sedikit kebingungan. Becca yang lupa akan kehadiran princes kecil itu, langsung memperkenalkan siapa Yola dan Rio pada mereka semua.


"Astaga, Tante sampai lupa." Becca melepaskan pelukannya, kemudian berdiri sambil mengusap air mata dan tersenyum. "Perkenalkan ini Yola, anak Tante kedua setelah Naku dan ada lagi yang oaling kecil baru usia beberapa bulan namanya Juan. Kalau ini suami Tante, Rio. Pasti udah kenalan tadi, 'kan?"


Naila tersenyum kecil menganggukkan kepala menerima jabatan tangan dari gadis kecil yang ada di depannya. Yola langsung memperkenalkan diri dengan caranya sendiri, "Aku Yola, Kak. Nama Kakak itu Kak Naila, 'kan? Aku sudah dengar loh, cerita Kakak dari Mommy. Katanya waktu itu Kakak suka jahil sama Kak Naku ya, terus ngumpet di bawah selimut hihi ...."


Wajah Naila seketika memerah karena malu. Akibat ulahnya dulu, ternyata cerita konyol itu menjadi kenangan indah diingatan Becca, Naki juga Naila.


Rio dan Becca ikut tersenyum ketika melihat reaksi Naila. Leon saja tidak mengerti maksud dari semua ini, sampai-sampai wajahnya bingung sendiri. Becca yang menyadari respons Leon seperti itu, langsung memperkenalkan diri dan menceritakan sedikit bagaimana mereka bertemu.


Leon tidak menyangka, ternyata om baik hati yang Tuhan kirim adalah bagian dari keluarga Naku. Naila tidak pernah mendengar cerita Naku, maka dari itu dia merasa bingung. Cuma, tenang saja Sekarang sudah jelas semuanya, mereka juga sudah saling kenalan satu sama lain.


Hanya satu yang menjadi pertanyaan Naila, bagaimana bisa Naku memiliki adik? Bukannya dulu Naku tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki adik. Bahkan, ketertutupan Naku pada Naila membuat gadis itu semakin penasaran. Akan tetapi, ini bukan waktu yang tepat ubtum menanyakan semua itu.


Di saat mereka sedang fokus menunggu kabar Vivi, mata Naila terbelalak ketika melihat seorang Pangeran tampan datang menghampirinya. Perbandingan yang sangat jauh, dari pertama kali Naila bertemu sama Pangeran itu penampilannya tidak sekeren ini. Air liur Naila sendiri hampir menetes jika Yola tidak menggodanya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2