Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Menahan Joey


__ADS_3

Rani langsung duduk tepat di sebelah Joey yang hanya duduk berselonjor dalam keadaan pandangan lurus ke depan. Tatapan Joey benar-benar sangat kosong, seakan-akan dia sedang menahan kesedihan yang tidak boleh runtuh.


Apa pun keadaannya, sesakit apa yang dia rasakan tidak membuat Joey mengeluh. Dari lahir sampai detik ini mereka tidak pernah mendengar keluhan sang anak. Sampai seketika Joey memberikan usul yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba meminta mereka untuk mengirimkan dia ke luar negeri.


Mungkin menurut Joey, itu jauh lebih baik dari pada setiap hari mereka harus berdebat sampai terdengar di telinga Joey membuat hidupnya menjadi tidak nyaman.


Joey merasa hidupnya sudah tidak akan lama lagi, tetapi kedua orang tua tidak memperlakukan dia sespesial mungkin. Joey tidak menginginkan hadiah apa pun, dia lebih memilih mereka memberikan kesan-kesan manis untuk memenuhi sisa memori yang nanti sudah tidak bisa berfunga. Hanya akan meninggalkan kenangan indah yang tidak akan pernah terlupakan.


Sepengetahuan Joey, jika seseorang hidupnya sudah tidak lama lagi pasti pihak keluarga akan terus berusaha membahagiakan demi memperpanjang hidup. Kemudian mencari cara supaya sang anak bisa kembali meneruskan hidup. Nyatanya? Semua di luar kendali. Tekanan terus berdatangan membuat Joey merasa jika kehadirannya sudah tidak lagi menjadi alasan mereka bisa bahagia.


Jika Joey boleh memilih, mungkin dia akan memilih untuk segera dipulangkan kepangkuan Tuhan-Nya. Dengan begitu dia tidak lagi menjadi beban hidup keluarga yang memang sudah tidak memerlukan kehadiran Joey kembali.


Melihat kondisi sang anak membuat air mata Rani langsung menetes sambil memeluk Joey dari arah samping sesekali mencium pucuk kepalanya. Sementara Ragil, duduk di tepi ranjang berlawanan sama Rani. Di mana Rani duduk di sebelah kanan dan Ragi di sebelah kiri sang anak.


Ragil ikut serta memeluk Joey bersama sang istri. Tanpa disadari air matanya perlahan menetes, Ragil tidak menyangka kalau sang anak yang dulu terlihat bahagia tertawa lepas, kini mentalnya perlahan sudah mulai terganggu.


Harusnya mereka sadar dari jauh-jauh hari, bukan sekarang ketika melihat Joey terdiam bagaikan patung tanpa bersuara, membuat hati mereka hancur dengan penyesalan. Bagaimana seandainya penyesalan itu terjadi ketika Joey tiada? Pasti rasa sakitnya akan berlipat-lipat ganda dari apa yang mereka rasakan saat ini.

__ADS_1


Melihat sikap Joey sangat berbeda sudah membuat mereka khawatir, mereka benar-benar tidak tahu kalau perdebatan mereka setiap hari bisa membuat sikis anak menjadi melemah. Joey lebih cenderung memilih menyendiri dan tidak ingin berkata apa-apa dikarenakan sudah sangat lelah dengan hidupnya sendiri


"Maafkan Mamih, Sayang. Mamih sadar, Mamih sudah membuat Joey sangat kecewa. Sikap Mamih yang egois membuat Joey merasa tidak nyaman, sekali lagi maafin Mamih, tapi Mamih mohon jangan pernah sekal-kali Joey mengatakan untuk meninggalkan Mamih. Mamih tidak akan pernah setuju!"


"Mamih sayang banget sama Joey, Mamih tidak bisa kehilangan Joey. Jika sampai itu terjadi, Mamih rela menukar semua hidup Mamih agar Joey bisa kembali menjalani hidup seperti anak lainnya. Sampai kapan pun, Mamih tidak akan pernah ikhlas mengirim Joey ke luar negeri. Lebih baik Mamih meluangkan waktu setiap Minggu dari pada harus jauh dari anak sendiri. Mamih tidak bisa, Sayang. Tidak bisa!"


Peluk serta tangisan Rani terdengar begitu menyakitkan di hati sang anak. Sebenarnya, Joey tidak pernah menginginkan mereka menangis seperti ini karena hati kecilnya terasa begitu tersayat.


Ingin rasanya Joey meghapus air mata mereka secara bergantian, akan tetapi kembali dia urungkan niatan tersebut akibat kecewa di dalam hati cukup menyakitkan.


Sikap kedua orang tua yang terlalu egois membuat Joey semakin terasa asing, seakan-akan kehadirannya sangat tidak diharapkan.


Joey tidak pernah sedikit saja mempermasalahkan tentang pekerjaan kedua orang yang tidak lernah bisa menemaninya di rumah selama 24 jam. Joey tetap merasa bahagia karena Rani dan Ragil mencari uang demi Joey beribat, hanya saja semua itu berubah semenjak Rani naik jabatan tinggi serta Perusahaan Ragil mulai meningkat pesat.


Dari situlah awal mula Joey merasa tidak penting lagi untuk mereka karena ada yang jauh lebih penting, yaitu soal pekerjaan, jabatan juga uang. Ketiga kata tersebut selalu menjadi yang utama bagi mereka, tanpa disadari ambisi itu perlahan mulai merenggangkan hubungan antara anak dan orang tua yang semula terasa hangat.


Joey benar-benar bingung, permintaan maaf ini benar-benar tulus dari hati atau tidak? Jika benar tulus, maka mereka tidak akan mengulangi. Tidak seperti biasa-biasanya meminta maaf, lalu diulang kembali. Sehingga, membuat Joey tidak pernah percaya akan janji manis yang selalu terucap dibibir kedua orang tua.

__ADS_1


"Maafkan Papih ya, Sayang. Papih kurang perhatian sama kamu, Papih hanya sibuk mencari uang untuk tabungan berobat kamu tanpa Papih sadari kamu juga butuh kasih sayang yang lebih dari kami. Sekali lagi maafkan kami, Sayang. Kami berjanji, untuk kali ini percaya sama Papih dan Mamih. Kita akan berubah dan tidak lagi sibuk dengan pekerjaan. Kita akan liburan di hari weekend, kita akan bermain selepas Mamih dan Papih pulang kerja, pokoknya kita akan meluangkan waktu untuk Joey. Kami janji, Sayang. Kami janji!"


Kata-kata yang diucapkan dari bibir Ragil dan Rani membuat Joey sangat ragu. Beberapa kali mereka sering berkata seperti ini, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak ada perubahan apa pun yang ada malah tambah tidak karuan.


Joey tetap setia pada pendiriannya. Dia tidak ingin berbicara pada mereka lantaran sudah sangat kecewa. Sejujurnya Joey sudah lelah, tidak ada lagi kasih sayang yang dia dapatkan hanya ada kebisingan di dalam isi kepala yang merekam semua keributan mereka.


Namun, Rani dan Ragil tidak ingin putus asa. Mereka tidak akan menyerah demi membujuk sang anak supaya tidak lagi meminta di kirim ke luar negeri. Sakit rasanya, jika mereka harus melepaskan anak semata wayang harus hidup mandiri bagaikan anak yang tidak diurus.


Rani sampai mencium tangan Joey berulang kaki saking takutnya sang anak jauh hanya demi mengasingkan diri. Ragil dan Rani sangat tahu, betapa nekatnya Joey jika sudah menginginkan sesuatu. Apa lagi Joey punya tabungan pendidikan sendiri, hanya tinggal mendaftarkan diri lalu Joey bisa pergi begitu saja ke negara yang dia inginkan. Akan tetapi, akan ada persetujuan orang tua yang tidak bisa Joey lakukan agar pendidikannya di ACC.


Satu jawaban yang terlontar dari bibir Joey mampu menampar kedua orang tuanya sampai mereka langsung terdiam membeku. Kata-kata Joey mereka berdua tidak bisa berkutik, entah apa yang diutaran Joey sampai-sampai Rani dan Ragil hanya bisa saling menatap satu sama lain.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2