Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Masa Lalu Leon & Vivi


__ADS_3

Melihat keadaan Leon yang syok dan bingung dengan situasi di sana, tanpa disadari Vivi tersenyum kecil. Seperti ada sesuatu yang mencurigakan, tetapi hanya Vivilah yang mengetahui semuanya.


Sungguh, malang sekali nasib suamiku ini. Apakah aku tidur terlalu lama, sehingga dia bisa berpenampilan seperti ini? Huhh ... Kasihan sekali kamu, Sayang. Maafkan istrimu yang jahil ini ya, habisnya aku kaget. Bangun tidur lihat penampilanmu seperti orang yang tidak terurus sama sekali.


Apakah keberadaanku sepenting itu, sampai tidak ada aku penampilanmu berubah drastis. Cuma, gimana nasib anak-anakku? Apakah mereka merindukanku? Terus gimana sama Naila, apa dia sudah bisa menerima semuanya? Atau Naila kembali pergi meninggalkanmu dan anak kita?


Jika memang semua itu benar, maka aku harus segera mungkin kembali mencarinya. Aku tidak mau Naila pergi, kasihan anak gadisku. Pokoknya aku cuma mau kita kembali bahagia sama-sama karena hidupku tidak akan lengkap jika tidak ada kalian semua.


Suara hati Vivi begitu sedih ketika melihat keadaan suaminya yang sangat miris. Apalagi, dia tidak melihat keberadaan anak-anak sama sekali di dekatnya hingga pikirannya mulai ke mana-mana.


Tunggu dulu, kok, bisa Vivi mengingat kalau Leon itu suaminya? Bukannya Vivi lupa ingatan? Terus, kenapa dia tahu semua itu? Jawabannya hanya satu, Vivi tidak sengaja melakukan itu karena awalnya terkejut melihat penampilan sang suami.


Akan tetapi, wajah Leon yang lucu malah membuat Vivi berniat ingin menjahilinya. Mungkin dengan begitu Vivi akan tahu apakah suaminya masih setia menunggunya atau rasa cinta Leon sudah mulai memudar.


"Kamu beneran tidak ingat denganku? Aku ini Leon, suami yang sangat mencintaimu dan bucin banget. Apa kamu seriusan udah lupa sama aku?" tanya Leon, sekali lagi untuk memastikan apabila istrinya benar-benar hilang ingatan.


"Emang eak ...."


"E,ehh ... Enggak deh, bukan aku yang bucin. Tapi, kamu."


"Loh, kok, aku?"


"Ya, memang kamu. Orang waktu kuliah kamu yang ngejar-ngejar aku buat cari perhatian, padahal aku cuek. Sampai kamu ngajakin jalan, nonton, bahkan pernah pura-pura pingsan hanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Lupa?"

__ADS_1


Vivi langsung melototkan matanya ketika mendengar jawaban dari sang suami yang benar-benar membuatnya malu. Ternyata, Leon masih mengingat semua kenangan mereka di masa muda dengan jelas. Sementara Vivi, sedikit lupa akan kisah mereka yang terbilang lucu, bucin, dan menggemaskan.


"Mana ada aku begitu enak aja, ada juga kamu yang ngejar-ngejar aku. Awalnya mah, gengsi di deketin berasa kegantengan. Bagian aku udah gak deketin merasa kesepian, akhirnya menggagalkan semua aksi pria lain yang ingin mendekatiku. Cihh, dasar gengsi!" sahut Vivi penuh rasa kesal.


"Hyaakk ... Enak aja, aku enggak gitu ya, ada juga kamu itu yang centil. Udah tahu laki gak mau masih dideketin, bagian lakinya udah kepelet malah pura-pura cuek. Dasar PHP!" jawab Leon tidak terima.


"Gak ada ya, aku menjauh juga karena kamu yang memintaku. Kenapa aku yang disalahin? Aneh!" ucap Vivi, cuek.


"Jelaslah aku minta kamu menjauh, udah tahu aku lagi deketin cewek tercantik di sekolah. Ehh, malah kamu gagalin, gimana orang gak marah coba. Kamunya aja yang ngeselin!" bantah Leon.


"Samanya, kamu juga gitu. Aku deketin jual mahal, di deketin cewek cantik buka harga murah. Bagian disakiti tuh, cewek lari ke aku. Cihh, dasar sok, kecakepan!" kata Vivi, membuat mereka terus bersahut-sahutan untuk menjawab satu sama lain.


Ketidak terimaan keduanya membuat mereka kembali membongkar masa lalu saat masih kulihan. Di mana memang Vivi yang mulai mendekati Leon untuk pertama kali karena sang suami memiliki daya tarik yang cukup besar baginya.


Awalnya Vivi hanya ingin menaklukkan Leon, lantaran Vivi begitu kesal melihat tingkah sang suami yang sangat menyebalkan. Hanya saja, seiring berjalannya waktu lama kelamaan Vivi malah menaruh hati pada Leon dan berniat ingin memilikinya tanpa memperdulikan perkataan orang lain.


Vivi rela menyatakan cinta pada Leon di depan semua orang di lapangan kampus dengan bantuan para dosen. Di mana dosen mengumumkan kalau semua mahasiwa-siswi harus kumpul di lapangan karena ada sesuatu yang akan mereka sampaikan.


Maklumlah, Vivi termasuk mahasiswi yang disayang oleh semua dosen karena sikap ramah tamah, rajin, dan kepintarannya membuat para dosen selalu mendukungnya.


Semua itu sudsh Vivi rencanakan sebaik mungkin, meskipun harus melawan pertentangan antara dosen-dosen yang ada. Sampai akhirnya, salah satu dosen mencoba untuk membujuk para dosen lainnya sebagai tanda terima kasih karena Vivi menang lomba yang membawa nama baik kampus.


Vivi berhasil mendapatkan kesempatan yang tidak semua orang dapatkan hanya demi menyatakan perasaan pada Leon. Cuma sayangnya, Leon malah menolak Vivi dengan kata-kata yang cukup kasar dan menyakiti hati sang istri.

__ADS_1


"Hei, wanita aneh! Lancang sekali kau menyatakan cinta di depan semua orang, seakan-akan aku ini akan menerimamu. Cihh, aku tidak akan pernah mencintaimu bahkan, bucin sekali pun sama wanita sepertimu!"


"Lihat saja, penampilanmu jauh dari kata cantik. Tidak seperti Dewi yang memiliki paras cantik, tubuh bagus, perkataan lembut, juga memiliki daya tarik luar biasa untuk para pria. Sementara dirimu? Kau hanya wanita biasa jauh dari kata sempurna, jadi jangan berharap kalau aku akan menerima cintamu. Pacaran aja sama tukang kebun sana! Dia jauh lebih cocok sama dirimu haha ...."


Kata-kata yang keluar dari mulut Leon memang sangat pedas melebihkan Cabai Carolina Realer (cabai terpedas di duni) yang begitu menyakitkan. Saking kesalnya Vivi tidak sengaja mengucapkan kalimat yang berisikan sumpah serapah.


"Kau lihat saja, Leon! Aku bersumpah, kelak apa yang kau katakan barusan akan berbalik padamu. Aku bisa pastikan, suatu saat nanti kamu yang akan mengejarku dan kamu yang akan bucin sebucin-bucinnya padaku!"


"Untuk kalian semua yang mendengar kata-kataku ini, aku sumpahkan. Kalian akan menjadi saksi bagaimana pria bernama Leon itu akan memperjuangkanku ma*ti-ma*tian sampai dia lupa dengan kata-katanya barusan!"


"Aku memang tidak secantik Dewi, tubuhku tidak semulus Dewi, tapi ingatlah satu hal ini! Wanita cantik yang kau lihat tidak selamanya memiliki hati yang cantik, bagitu juga sebaliknya. Wanita yang kau anggap jelek parasnya belum tentu hatinya sejek fisiknya!"


"Fisik bisa kau ubah selagi ada uang, tapi sampai kapan pun hati tidak akan bisa kau ubah meskipun, kau memiliki harta melimpah dan menjadi orang terkaya di dunia. Sebab, hati yang baik tercipta bukan dari segi penampilan, melainkan kebaikan yang dia tanam!"


"Kelak kau akan tahu arti ucalan yang aku katakan ini, bagimu mungkin kata-kata ini sama seperti tong kosong nyaring bunyinya. Cuma, kalau kamu sampai ada di posisi yang aku katakan itu. Maka, aku jamin kamu akan paham bahwa, hati yang tulus tidak bisa diukur dari segi penampilan!"


Kata-kata itu Vivi lontarkan selantang mungkin sampai membuat semua orang yang mendengarnya bertepuk tangan. Awalnya Leon merasa bangga akan kesombongannya, tetapi ketika semua orang mendukung Vivi di situlah Leon merasa sendiri yang hanya ditemani oleh teman-temannya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2