
Naila refleks menutup matanya sambil teriak keras, hingga seseorang berlari dengan cepat untuk mencoba melindungi Naila dari kecelakaan yang akan merenggut nyawanya.
Dalam waktu yang sangat singkat, orang itu berhasil mendorong Naila hingga gadis itu berhasil selamat dan hanya mengalami syok serta luka-lula ringan. Lain cerita sama seseorang yang telah menyelamatkan hidup Naila.
"Bundaaaaaaa ...."
Naila berteriak sangat keras ketika menyaksikan Vivi tertabrak oleh truk besar itu hingga tubuhnya terpental kurang lebih 5 meter. Sementara mobil berhasil mengerem ketika ban roda depan hampir saja melindas tubuh Vivi.
Segera mungkin Naila berlari kencang dalam kondisi kaki sedikit pincang, tangan luka ringan untuk mendekati sang bunda yang sangat membutuhkannya.
Semua warga yang ada di sana langsung mengamankan supir truk beserta mobilnya. Tidak lupa untuk polisi setempat yang berada tidak jauh dari tempat kejadian, juga ambulan supaya secepatnya datang ke TKP.
Tanpa rasa takut akan cairan merah yang sudah mengalir di aspal, Naila memangku kepala Vivi secara hati-hati. Tangan serta tubuh Naila sudah sangat berlumuran sirup merah yang sangat kental. Beberapa warga setelah melihat kejadian itu merasa mual akan pemandangan yang sangat menyedihkan.
"Bunda kenapa nolongin Naila, kenapa, Bun. Kenapa hiks ...." Naila menangis memeluk Vivi dengan cara menempelkan pipi kanannya kedahi Sang bunda.
"Seharusnya Bunda tidak melakukan ini, biarkan Naila yang tertabrak jangan Bunda hiks ... Bunda itu masih punya Ayah, punya Ade. Kalau Bunda kenapa-kenapa bagaimana nasib mereka, Bun? Gimana hiks ... Pasti mereka akan sangat sedih melihat kejadian ini, lebih baik Naila saja yang pergi. Biarkan Naila ketemu dengan orang tua Naila, tapi tidak dengan Bunda. Naila gak mau Bunda pergi, Naila mohon bertahanlah Bun, bertahan hiks ...."
Air mata Naila sudah tidak lagi terbendung. Gadis itu tidak henti-hentinya terus memeluk Vivi tanpa rasa jijik akan da*rah yang sudah memenuhi tubuhnya.
Naila segera meminta pertolongan pada semua orang agar membantunya membawa Vivi ke rumah sakit. Mereka hanya bisa menenagkan Naila karena para bantuan akan segera datang dalam waktu beberapa menit lagi.
Namun, di saat Naila menangis meraung-raung memohon kepada siapa pun dari mereka yang bisa membantunya membawa Vivi ke rumah sakit tanpa harus menunggu waktu lagi. Tiba-tiba saja, mata Vivi terbuka meskipun sangat kecil karena area wajahnya sudah di lumuri da*rah yang masih segar.
"Bu-bunda ...." ucap Naila disela tangisannya.
__ADS_1
"Bu-bunda ti-tidak a-apa-apa, Sa-sayang. Na-naila pu-pulanglah ke-ke rumah, ka-kasian A-ayah. Di-dia sa-sangat me-mengkhawa-watirkanmu. To-tolong ja-jaga a-adikmu, me-meskipun di-dia bukan adik ka-kandungmu. A-ajarkan di-dia se-semua kebaikan se-seperti dirimu, dan sa-sayangi A-ayah se-sebagaimana Ayah me-menyayangimu se-sebagai a-anaknya se-sendiri. Bu-bunda pa-pamit, Bu-bunda sayang Na-naila se-selamanya ...."
"Bunda jangan tinggalin Naila ... Naila mohon bangunlah! Naila tidak akan mau menjaga ade sama Ayah sendirian, Naila mau sama Bunda juga. Naila tidak mau kehilangan Bunda lagi, Naila tidak mau hiks ... Bangunlah, Bun! Buka matanya, Naila mohon, buka hiks ...."
Naila menangis terus menggoyangkan tubuh Vivi di dalam pelukannya yang sudah tidak berdaya. Semua orang tidak berani menolong, bahkan menyentuh sedikit saja untuk segera membantu Nailaembawa Vivi. Mereka takut kesalahan, hingga akhirnya seorang penyelamat yang Tuhan kirim datang.
Seorang pria segera turun dari mobil, lalu melihat kejadian merasa kasihan terhadap gadis malang yang sedang berjuang mempertahankan segala sesuatu hal buruk terjadi pada ibunya.
Pria itu merasa marah karena tidak ada seseorang yang berinisiatif untuk secepat mungkin menolong sang korban. Mereka selalu bilang menunggu pihak berwenang yang akan menanganinya, serta ambulan.
Namun, ketika seorang ibu-ibu memeriksa denyut nadi Vivi yang sangat lemah tanpa basa-basi pria itu membentak semua orang untuk membantu membawa Vivi dan Naila ke dalam mobil.
Tidak lupa pria itu berpesan dia kan mengantar korban di rumah sakit terdekat, jika ada yang menanyakan silakan telusuri rumah sakit di dekat kejadian. Dia akan bertanggung jawab atas semuanya, meskipun bukan dialah yang menyebabkan Vivi kecelakaan.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Mendengar isak tangis yang tidak kunjung berhenti, membuat pria yang fokus melajukan mobil demi menyelamatkan Vivi merasa sangat kasihan. Apalagi kondisi Vivi benar-benar ada ditangannya, terlambat sedikit sudah pasti pria itu akan menjadi sasaran empuk akibat gagal menyelamatkan dan memaksa keadaan untuk menolong korban dengan hasil sia-sia.
Pria itu tidak takut sama sekali, dia rela mengambil resiko besar karena baginya usaha dan perjuangan perlu dilakukan tanpa melihat hasil akhirny akan berhasil ataupun gagal.
"Tenanglah, saya akan berusaha menyelamatkan ibumu! Berdoalah, semoga Tuhan bersama kita!" pinta pria tersebut yang membuat Naila melirik sekilas ke arahnya, lalu menganggukan kepala.
Naila kembali fokus pada sang bunda, sesekali berdoa di dalam hati kecilnya karena bukan inilah yang dia inginkan. Gadis itu hanya ingin meminta Vivi menjauh darinya, serta meninggalkan Naila akibat rasa kecewa di dalam hati. Hanya saja, bukan berarti Naila menginginkan Vivi benar-benar pergi untuk selamanya.
Di sinilah Naila baru menyadari bahwa, semarah apa pun dia pada kedua orang tua, meskipun bukan orang tua kandung. Tetap saja di dalam hati kecil, Naila masih sangat menginginkan mereka untuk selalu ada bersamanya.
__ADS_1
Tidak lama, mereka sampai di rumah sakit. Semua perawat di kerahkan oleh pria tersebut untuk secepatnya membantu mengangkat korban supaya bisa ditangani oleh dokter ahli.
Bangkar Vivi didorong oleh empat sampai enam perawat pria menuju ruang UGD. Akan tetapi, mereka semua di hentikan oleh seorang suster.
"Tuan, tunggu!"
"Tuan harus mengisi semua formulir di resepsinis agar pasien segera ditangani, jika tidak maka pasien tidak akan diprioritaskan!"
Perkataan dari suster berhasil membuat emosi di dalam hati pria ith meledak. Dia tidak peduli situasi di rumah sakit sedang ramai langsung memaki, hingga memarahi sang suster tanpa rasa malu.
"Ckk! Rumah sakit macam apa ini, hahh! Di mana-mana yang namanya tumah sakit, tolong dulu pasiennya. Baru urus administrasi, formulir, atau apalah itu!"
"Ini baru juga pasien sampai bukannya ditangani malah disuruh isi data-data tidak penting. Dasar rumah sakit tidak berguna! Kalau sampai pasien tidak tertolong karena ulah kalian semua, saya pastikan rumah sakit ini akan ditutup!"
Ancaman dari pria itu sungguh tidak main-main, semua suster di sana tidak berani menatap pria yang sepertinya memiliki kekuasan besar.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya hanya menjalani prosedur rumah sakit. Sekali lagi maaf!" ucap suster menundukkan pandangannya.
"Prosedur taek kucing! Cepat tolong korban da berikan semua fasilitas terbaik di rumah sakit ini, saya akan mengurus semuanya!" titah pria itu langsung membuat perawat-pwrawat segera mendorong bangkar Vivi kembali memasuki rumah sakit menuju ruang khusus.
Pria itu dengan wajah kesalnya meminta Naila ikut bersamanya untuk mengisi formulir yang ada agar Vivi segera ditangani. Dia juga tidak lupa untuk melunasi semua administrasi yang tertera, padahal belum tahu jelas apa yang akan dokter tindak lanjuti atas kejadian Vivi.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...