
"Naku!"
Seorang guru yang dari tadi melihat kelakuan Naku, langsung berjalan mendekatinya. Dia menatap Naku yang juga menatapnya.
"Apa-apaan kamu, hahh? Kenapa kamu malah membuat kegaduhan di pelajaran saya?" ucap guru itu, menatap tajam ke arah Naku.
"Siapa yang nyuruh dia duduk di sini?" sahut Naku, menekankan kalimatnya tanpa menghindari tatapan guru tersebut.
"Saya? Kenapa? Kamu keberatan?"
"Ingat, ini sekolah bukan hotel. Jadi, bagi tempat dudukmu pada gadis itu, atau kamu harus menghadap Kepsek?"
Guru yang menjadi wali kelas Naku memang terbilang tegas dan juga galak. Terkadang semua murid bila sudah melihat Naku berdebat dengannya, malah menganggap mereka sangat cocok. Bagikan Ibu dan juga anak.
Gadis itu mulai berdiri perlahan di tengah-tengah antara mereka. Wajahnya masih terlihat takut, tetapi dia berusaha agar bisa melerai perdebatan yang telah terjadi.
Tatapan gadis itu mengarah ke arah Ibu guru yang saat ini mulai terbawa suasana atas sikap Naku yang terbilang tidak sopan baginya.
"Su-sudah, Bu. Tidak apa-apa kalau di kelas ini sudah penuh, saya pindah ke kelas lain saja. Saya tidak ingin membuat kegaduhan di kelas ini, jadi--"
"Naila?"
Naku terkejut melihat wajah gadis itu tidak lain, adalah wanita menyebalkan yang pernah masuk ke kamar rawatnya tanpa permisi.
"Oppa Naku?"
__ADS_1
Kedua mata itu saling membola, mereka sama-sama terkejut satu sama lain. Dari tadi Naku tidak memperhatikan keberadaan Naila, begitu juga sebaiknya.
"Kalian saling kenal? Kalau begitu kenapa kamu marah padanya?" tanya guru itu, menatap Naku.
"Saya tidak melihatnya. Maaf!"
Naku langsung duduk tanpa menghiraukan Naila dan juga Ibu guru yang masih berdiri. Melihat sikap Naku yang terbilang cuek itu, sudah tidak membuat gurunya terkejut. Dia hanya menggelengkan kepalanya, baru kali ini anak seusia Naku bersikap layaknya anak yang sangat dewasa.
Akan tetapi, di balik sikap Naku yang selalu membuat semua guru merasa kesal terhadapnya, ternyata dia adalah murid yang sangat berprestasi. Dari kelas 1 sampai naik ke kelas 4, nilai Naku paling terbaik di antara semua murid yang bersekolah di sini.
"Ternyata Oppa sekolah di sini juga? Wah, Naila senang. Baru masuk sekolah sudah ketemu jodoh hihi ...."
Naila terkekeh sendiri atas ucapannya. Sementara Naku malah menjadi salah tingkah, lagi-lagi Naku berdiri mencoba membantah perkataan Naila untuk menutupi wajahnya yang memerah padam.
"Loh kenapa? Kata Tante Becca, kita memang di takdirkan berjodoh. Terus apa masalahnya?"
"Masalahnya hanya satu! Kita masih sangat kecil untuk membicarakan hal dewasa itu, ngerti!"
"Oh gitu, kalau nanti Naila sudah besar berarti Naila boleh 'kan berjodoh sama Oppa Naku?"
Naku terdiam mematung, ketika telinganya baru menyadari kalau Naila selalu memberikan panggilan di depan namanya.
"Aaa ... Cie, ciee ... Similikitiw, aw aw aw hahah ....."
"Uhuk, uhuk ... Masih kecil aja sudah bilang jodoh, nanti gede dikit bilangnya Ayah Bunda hahah ....."
__ADS_1
"Gila lu, mana mungkin Naku di panggil Ayah. Palingan juga Daddy Naku, Daddy Naku, lima puluh, lima puluh haha ....."
Semua murid tertawa setelah melihat beberapa anak laki-laki yang terus menggoda Naku, sedangkan Naila bukannya merasa malu malah ikut tertawa.
Sebenarnya Naila tidak mengerti apa yang mereka katakan, tetapi saat melihat semua tertawa Naila jadi ikut tertawa.
Wajah Naku kembali bertambah merah saat menahan rasa malunya sekuat mungkin. Suasana kelas semakin ricuh ketika Naku membela diri, sang guru yang dari tadi terdiam memperhatikan satu persatu muridnya mulai tersenyum.
Dia berjalan ke depan papan tulis. Lalu mengambil penggaris yang sangat besar, panjang dan berwarna kuning keemasan.
Tanpa aba-aba, sang guru segera memukul papan tulis sebanyak 3 kali. Suara nyaring itu berhasil membuat semua murid terdiam dan duduk di kursinya masing-masing.
"Naku, Dika, Toni dan juga Budi. Cepat kalian maju ke depan, atau Ibu akan menyeret kalian satu persatu!"
Mereka saling menyalahkan satu sama lain, berbeda dengan Naku. Dia mau lebih dulu berdiri di depan kelas tanpa adanya rasa takut, mungkin Naku tahu dia salah makannya dia tidak pernah takut bila terkena hukuman.
Naku yakin, jika dia tidak salah tidak mungkin dia akan di panggil dan di kumpulkan bersama murid yang berhasil memancing kericuhan.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1