Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Panggilan Becca Untuk Rio


__ADS_3

Namun, sifat yang seperti inilah yang akan ditakuti. Diamnya orang yang selalu cerita benar-benar sulit untuk ditaklukkan. Becca berusaha untuk menjinakkan jantan yang lagi badmood, meski sulit dia tetao akan berusaha.


"Kak, ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak percaya diri. Kakak tahu 'kan, usia kita sudah tidak muda lagi, pasti akan ada bentuk tubuhku yang kurang kakak suka. Aku cuman takut kakak tidak puas itu aja," ucap Becca mengelus tangan suaminya.


"Apa kamu masih belum percaya denganku? Jika belum, kenapa kamu terima lamaranku? Kenapa di saat waktunya kita bahagia kamu malah seperti ini, apa kamu tidak bahagia menikah denganku, iya?" tanya Rio, penuh penekanan di setiap kata serta lirikan tajam darinya membuat Becca sekilas menunduk.


"Ma-maafkan aku, aku tahu aku salah. Dihari pernikahan kita seharusnya kita bahagia, bukan malah sedih. Cuman, gimana? Aku hanya takut kakak meninggalkan aku, takut kakak punya wanita lain dibelakangku. Aku takut, Kak. Takut! Hiks ...."


Air mata ketakutan yang ada di salam hati juga pikiran Becca, tumpah begitu saja. Melihat trauma akan cinta yang dikhianati benar-benar membuat Rio tidak tega sama apa yang Becca rasakan.


Trauma itu memang sangat membekas, sehingga kepercayaan diri Becca berkurang. Sebenarnya, ketika Becca melangkah ke jenjang lebih serius itu sudah membuktikan bahwa, dia telah menantang diri sendiri untuk melawan rasa trauma di dalam pikiran.


Rio melepaskan tangannya dari genggaman Becca, kemudian membawanya ke dalam pelukan. Di situ tangis Becca pecah, ternyata trauma akan cinta membuat Becca bisa seperti ini. Maklum saja, Becca sangat mencintai Gala hingga mereka memiliki kenangan indah yang sangat melekat. Maka dari itu, Becca sedikit kesulitan untuk keluar dari zona nyaman di masa lalu.


"Nangislah, jika itu bisa membuatmu lega. Setelah kamu tumpahkan semua perasaanmu itu, berjanjilah kalau kamu akan melawan semua itu demi keluarga kecil kita. Ingat, Sayang! Trauma yang kamu alami tidak akan pernah bisa memudar, kalau kamu sendiri tidak mencoba untuk melawannya!"


"Lihatlah, wajahku! Aku ini Rio, suamimu. Bukan mantan suamimu. Jadi, kalau sewaktu-waktu pikiran itu kembali menghantuimu. Kamu harus ingat, kalau sekarang suamimu itu Rio. Pria yang sangat mencintaimu, sehingga kamu bisa melawannya demi kesembuhan mentalmu. Kasihan anak-anak kita, mereka pasti berharap setelah pernikahan orang tuanya mereka bisa bahagia. Jadi, jangan hancurkan kebahagiaan mereka. Aku mohon!"


Rio hanya bisa memberikan nasihat pada istrinya, sesekali dia mencium pucuk kepala Becca, lalu memeluk tubuh sang istri begitu erat. Rio paham, tidak mudah menghilangan trauma yang cukup membekas. Hanya saja, dia tetap akan berusaha membantu Becca menghilangkan semua itu secara perlahan.


"Sudahlah, tenang, oke. Disini ada aku, aku tidak akan memarahimu. Aku tahu, tidak mudah untukmu percaya denganku. Hanya saja, coba kamu lihat wajahku ini. Aku ini Rio, suamimu. Bukan Gala, mantan suamimu. Jadi, kamu harus bisa melawan trauma itu dengan melihat wajahku. Jangan ikuti bayangan yang ada di dalam pikiranmu, bisa?"


"Ba-bagaimana kalau aku sering mengecewakanmu seperti ini, Kak? Apa nanti kakak akan marah dan kakak bisa meninggalkan aku?"

__ADS_1


"Ssttt, kamu harus ingat, Sayang. Semarah-marahnya aku, tidak akan pernah meninggalkan kamu. Mungkin kecewa ya, wajar. Aku manusia yang memiliki keterbatasan emosi, tapi sebisa mungkin aku harus tetap mengontrol semuanya. Setidaknya aku tetap akan bersikap lembut kepada keluargaku walaupun, hatiku sedang panas."


"Ma-maaf, sekali lagi maafkan aku, Kak. Aku tidak----"


"Kalau kamu ingin menghilangkan trauma yang ada di dalam hidupmu itu, gantilah panggilan kakak dengan panggilan sayang khusus yang kamu berikan padaku. Dengan begitu lama-kelamaan kamu akan terbiasa mengingatku, bukan lagi traumamu."


"Me-memangnya kakak mau dipanggil apa?"


Becca melepaskan diri dari pelukan Rio, lalu menatapnya sambil menggenggam tangan sang suami penuh kasih sayang.


"Hem, apa, ya? Terserah kamu aja, aku ikut. Jika aku yang memintanya itu artinya aku yang memaksamu untuk memberikan panggilan tersebut. Namun, kalau kamu yang carikan otomatis murni dari dalam hatimu yang memang berniat ingin menghilangkan trauma itu sendiri. Jika kamu selalu memanggiku dengan sebutan kakak tanpa panggilan khusus, semua itu tidak akan membantumu. Hanya kemanisan hati juga sikap kitalah yang akan bisa membawa kita menuju kebahagiaan."


Becca terdiam menyandarkan kepalanya di dada bidang Rio. Otak Becca mulai bekerja keras untuk memikirkan panggilan nama apa yang cocok untuk suami tercinta.


"Hem, boleh. Bagus, kok. Ya, sudah. Mulai dari sekarang panggil aku dengan sebutan itu, oke? Atau bisa juga daddy seperti anak-anak," jawab Rio tersenyum mengusap pipi istrinya. Becca tersenyum, karena dia tidak menyangka bisa memiliki suami sebaik Rio.


Beda jauh dari Gala, dia memang terbilang lembut juga romantis. Akan tetapi, ada saatnya apa bila Gala marah dia akan susah mengontrol emosi sampai pernah menyakiti Becca hanya karena ketahuan selingkuh.


"By, maafin aku ya, karena aku sempat menyinggung perasaanmu. Aku janji, aku tidak akan membandingkan diriku sendiri dengan mendiang istrimu. Bagaimana kalau besok kita pergi ke makam, aku ingin ketemu sama dia. Boleh?"


"Boleh, Sayang. Besok kita ajak anak-anak ke sana, sekalian jiarah. Ya, sudah. Kamu bersih-bersih dulu gih, terus istirahat kasian badanmu pasti sudah lelah. Lagian pula acara kita cukup melelahkan dengan undangan tamu sebanyak itu. Aku saja tidak menyangka bisa sampai sebanyak itu, padahal aku cuman mengundang sedikit. Terus, kenapa jadi banyak gitu?"


"Itulah, doa, Sayang. Jika kita baik, pasti orang akan baik sama kita. Anggap saja semua ini sebagai doa baik, karena semakin banyak doa yang di panjatkan akan semakin banyak kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Ya, udah. Aku bersih-bersih dulu, ya."

__ADS_1


Rio menganggukkan kepalanya, Becca berdiri sambil melepaskan tangan suaminya. Kemudian pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan badan yang terasa lengket.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


35 menit berlalu, Becca baru selesai bersih-besih dan langsung terkejut saat melihat suaminya di malam pertama mereka malah asyik memainkan laptop kesayangan.


Becca duduk tepat di samping Rio, membuatnya menoleh sambil menatap wajah sang istri dan berkata, "Udah selesai bersih-bersihnya?" Becca menganggukan kepalanya, "Udah, kok, By. Aku kira kamu udah tidur karena capek, tahunya malah asyik kerja."


"Hehe, habisnya aku tidak bisa tidur. Jadi, sekalian cek kerjaan aja. Kebetulan ada kerjaan sedikit, ya udah aku kerjain aja sekalian nunggu ngantuk," jawab Rio kembali menatap layar laptopnya.


"Hem, begitu." Becca mulai merangkul lengan suaminya, membuat Rio menoleh tersenyum sambil mengusap pipi sang istri sekilas.


"Apa kamu lupa, By. Ini 'kan malam pertama kita, masa iya kamu tidak ingin mendapatkannya. Ya, aku tahu sih, walaupun kita sudah tua. Namanya hasrat itu kebutuhan, jika kita memiliki pasangan itu harus di salurkan kalau tidak akan menjadi penyakit. Lain cerita jika kita tidak punya punyai pasangan, barulah kita tahan. Kalaupun ingin di keluarkan saking tidak kuatnya juga gapapa."


Rio hanya tersenyum menatap istrinya, tanpa Becca sadari Rio melakukan semua ini bukan karena memiliki pekerjaan. Melainkan dia sedang mengalihkan perasaannya karena si kecil sudah terbangun dari tidur pulasnya. Semua Rio lakukan demi menjaga kenyaman Becca agar tidak merasa terpaksa untuk melakukan hubungan suami-istri disaat dia belum siap menerima Rio secara utuh sebagai suami tercinta.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2