
Setelah sampai di dalam rumah, Becca dan Naku langsung berjalan ke arah ruang keluarga. Mereka duduk bersama melepas rasa penat akibat perjalanan yang cukup melelahkan.
Rumah ini memang sengaja Becca beli yang jaraknya lumayan jauh dari Gala, apa lagi rumah ini bisa menjadi miliknya atas bantuan dari seseorang. Semua itu, Becca sembunyikan dari Gala supaya dia tidak bisa lagi mengganggu hidupnya.
Rumah ini adalah tempat Becca memulai kehidupan yang baru bersama Naku, maka dari itu dia tidak ingin memberitahu Gala. Kalau pun suatu saat nanti, mereka sudah resmi berpisah dan sewakti-waktu Naku atau Gala ingin bertemu, Becca sendiri yang akan mengantarkan Naku ke rumah Gala. Bukan Gala yang ke rumahnya, semua demi kenyaman mereka berdua.
"Huhh, akhirnya kita sampai juga. Bagaimana, Sayang. Apakah Naku suka dengan rumah ini?" tanya Becca, menatap Naku yang matanya masih beredar melihat ke semua penjuru rumah.
"Hem, lumayan bagus. Tidak mewah, tidak besar. Tapi, cukuplah. Setidaknya kita punya tempat tinggal, jadi tidak kehujanan atau kepanasan," sahut Naku, masih setia melihat rumah barunya.
"Maaf, kalau Mommy tidak bisa membelikan rumah sebesar rumah Daddymu. Tabungan Mommy tidak cukup, jika kita mengikuti gaya kehidupan yang dulu. Mommy sengaja membeli rumah ini, setidaknya rumah yang menurutmu kecil ini bisa memberikan kenyaman yang baru untuk kita. Dan Mommy mohon, jangan kasih tahu alamat rumah kita ke pada Daddymu."
Becca kembali berbicara dan refleks membuat Naku segera menoleh lantaran sedikit terkejut atas ucapannya. Dia bingung, apa alasan di balik Becca mengatakan semua itu. Sebab, bila mereka berpisah Naku tetaplah anak mereka berdua yang tidak bisa di pisahkan satu sama lain.
"Apa maksud Mommy mengatakan seperti itu? Kenapa Daddy tidak boleh ke sini? Apa Mommy--"
"Tidak, Sayang. Kamu pasti akan berpikir kalau Mommy ingin menjauhkan kamu dari Daddymu, bukan? Tapi, Mommy melakukan itu bukan karena ingin menjauhi kalian. Mommy hanya ingin hidup tenang, tanpa harus mendapatkan gangguan dari Daddymu. Paham 'kan, apa yang Mommy maksud ini?"
__ADS_1
Naku terdiam sejenak, dia mencoba berpikir untuk mencerna perkataan Becca. Setelah dia mulai paham, akhirnya Naku menganggukan kepalanya. Becca pun tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
"Mommy cuman tidak mau, jika kehidupan kita yang baru di mulai ini akan di usik kembali oleh orang luar. Jadi, Mommy memutuskan untuk menutup rapat akses tempat tinggal kita dari Daddymu. Kita mulai hidup yang baru dari rumah ini ya, tapi ...."
"Tapi, apa? Kenapa wajah Mommy berubah? Apakah ada yang Mommy pikirkan?"
"Hem, Mommy hanya sedang memikirkan, kehidupan kita kedepannya akan seperti apa. Setelah membeli rumah ini, tabungan Mommy semakin menipis. Jadi, untuk membeli kendaraan berupa mobil Mommy belum sanggup. Apakah Naku tidak malu, bila kita kemana-mana harus menggunakan grab atau gojek untuk sementara, gitu? Atau kita beli motor saja, biar Mommy bisa mengantarkanmu ke sekolah?"
Becca menatap Naku penuh keseriusan, dimana Naku sedikit kecewa. Biasanya jika kemana-mana dia harus menggunakan mobil, dan sekarang benar-benar harus menggunakan transportasi umum.
"Apakah aku sanggup hidup jauh dari kemewahan? Dimana semua yang aku miliki, seketika langsung hilang dalam sekejap mata. Jika aku memilih hidup mewah, maka aku harus ikut bersama Daddy yang pastinya aku akan bertemu dengan wanita yang sudah menyakiti Mommy."
"Namun, kalau aku ikut Mommy. Aku harus bisa menjalani hidup, tanpa fasilitas seperti yang Daddy miliki. Itu artinya aku harus siap, bila semua teman-temanku akan meledek nasibku ini? Dan apa aku akan menerima ledekan yang mereka berikan setelah tahu, kalau hidupku dan Mommy tidak seperti dulu? Dari semua murid yang ada di sekolah, akulah murid yang memiliki kekayaan di atas mereka semua. Terus kalau mereka tahu aku berangkat dan pulang sekolah pakai grab ataupun motor, apa respon mereka akan tetap baik padaku?"
"Aarghh ... Kenapa hidupku menjadi sulit seperti ini sih! Bagaimana jika nanti semakin hari kita semakin miskin? Terus rumah ini kembali Mommy jual, lalu kita tinggal di gubuk yang sangat kecil dan juga jelek? Hyaak, tidak! Aku tidak ingin menjadi orang miskin, aku tidak mau!"
Naku berteriak di dalam hatinya sambil merubah posisinya menatak ke arah depan dalam keadaan mata memerah dan kedua tangan mengepal. Terlihat jelas betapa emosinya Naku, lantaran dia tidak ingin hidupnya semakin menderita jika Mommynya tidak bisa menjadi seperti Daddynya.
__ADS_1
Becca berhasil menangkap sesuatu yang membuat hatinya sakit. Dia tahu, bila anak satu-satunya itu pasti merasa keberatan atas kehidupan yang baru dia mulai saat ini.
"Mom---"
"Naku ke luar dulu, mau cari angin!" seru Naku. Baru saja dia berdiri dan ingin melangkahkan kakinya, Becca kembali menahannya.
"Mommy tahu kamu butuh waktu untuk menerima semua ini, tapi Mommy janji. Mommy akan mengembalikkan keadaan kita seperti semula. Ya sudah, kalau kamu mau mencari angin. Jangan jauh-jauh ya, di dekat komplek ada taman. Kamu bisa ke sana, tinggal jalan lurus ke arah kanan kemudian di perempatan ke-3 kamu belok kiri. Nanti kalau makan siang sudah siap, Mommy akan kabarin lewat telpon."
Naku hanya mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan Becca di rumah sendiri demi menyegarkan pikiran dan hatinya yang merasa kesal saat mengetahui kehidupan yang sekarang.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1