Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Hari Bahagia Naila


__ADS_3

"Hai, Kakak. Selamat ulang tahun, Bunda doakan semoga Kakak selalu sehat, panjang umur, murah rezeki, dan bahagia selalu. Intinya doa terbaik Bunda, Ayah, sama Ade akan selalu menyertai setiap langkah Kakak. Sekali lagi selamat ulah tahun putriku yang cantik," ucap Vivi tersenyum menatap putri kecilnya dengan air mata yang sudah menetes.


Vivi sangat senang karena kembali dipertemukan oleh keluarga kecilnya yang sudah dirindukan sejak semalam. Apalagi ketika Vivi berhasil memeluk Nuel, semua rasa kesedihan runtuh begitu saja tergantikan oleh kebahagiaan.


Saking tidak percayanya, Vivi mengucek mata berulang kali untuk memastikan apakah yang dia lihat dan dengar benar-benar sang bunda, atau hanya ilusi semata karena Naila sangat merindukan sang bunda.


"Bu-bunda ... I-itu benar Bunda, 'kan? Na-naila tidak salah lihat? Atau mata Naila bermasalah?" tanya Naila, bibirnya bergetar dengan tubuh yang serasa kaku.


"Tidak, Sayang. Ini Bunda, Bunda udah bangun. Apa kamu senang lihat Bunda?" tanya Vivi.


Tanpa berkata apa-apa, Naila langsung berlari dan memeluk Vivi. Tidak lupa tangan Vivi pun mengelus punggung serta lengan Naila yang memeluknya dalam keadaan menyerong. Sementara itu, Nuel hanya plenga-plongo menatap mereka karena tidak mengerti apa-apa.


Maklum saja, Nuel masih sangat kecil. Dia cuma tahu kalau sang bunda tertidur akibat kelelahan, padahal nyatanya tidak. Oleh karena itu, ketika Nuel melihat sang bunda bangun rasanya begitu senang. Sampai-sampai mereka semua harus mengalihkan perhatian Nuel supaya tidak berisik dan tidak membuat Naila merasa curiga.


"Bunda, Naila kangen banget sama Bunda. Please, Bun. Jangan kaya gini lagi, Naila takut hiks ...."


"Maaf karena Naila, Bunda seperti ini. Harusnya Naila yang ada di posisi Bunda, bukan Bunda. Jadi, sekali lagi maafin Naila udah buat Bunda terluka kaya gini. Naila nyesel lari dari masalah, Naila terlalu egois sama kalian. Maaf, Bun, maaf hiks ...."


"Seharusnya Naila bersyukur, kalian sudah merawat Naila sampai Naila sebesar ini. Naila juga sama sekali tidak pernah kekurangan perhatian, kasih sayang, dan cinta dari kalian semua. Cuma, kenapa pada saat itu Naila malah bersikap seperti tidak dididik. Padahal, kalian selalu memberikan nasihat pada Naila untuk tidak lari dari nyataan. Naila harus bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Cuma ...."


Naila menghentikan ucapannya ketika Vivi melepaskan pelukan sang anak, lalu mengusap air mata yang sudah membasahi wajah Naila secara perlahan.

__ADS_1


Leon mengambil Nuel dari pangkuan Vivi, lalu menurunkannya untuk bermain dengan Yola dan Joey agar tidak mengganggu mereka berdua. Leon sangat mengerti bagaimana perasaan kedua wanita yang dia cintai itu, sehingga suasana di sana membuat semua orang ikut terharu.


"Ssstt ... Udah ya, jangan nangis lagi. Bunda tidak suka lihat kamu kaya gini, lihatlah! Wajahmu yang cantik sekarang mulai memudar karena kamu terlalu memikirkan semua itu. Padahal, Bunda gapapa, Sayang. Bunda baik-baik aja kok, mungkin karena Bunda capek jadi Bunda tidur jauh lebih lama dari biasanya."


"Harusnya Bunda yang minta maaf sama kalian semua karena Bunda sudah membuat kalian menderita. Badanmu saja sampai kurus begini, lalu penampilan Ayah tidak terurus, dan Nuel harus mendapatkan perhatian lebih dari perawatnya bukan bundanya."


"Bunda tahu, Bunda salah sudah melarang Ayah untuk memberitahu semua itu. Cuma, semua itu Bunda lakukan bukan karena Bunda ingin menyembunyikan kenyataan itu, tetapi Bunda takut kamu pergi. Bunda takut kamu berubah, dan Bunda takut kalau kamu tidak lagi memanggil Bunda dengan sebutan Bunda. Bunda takut, Sayang. Bunda hanya takut itu terjadi hiks ...."


"Bunda akui, Bunda salah. Bunda terlalu egois menyembunyikan semua ini, tapi Bunda tidak tahu harus gimana lagi. Sebab, dari kamu lahir sampai saat ini Bunda tetap menyayangimu. Apalagi saat kamu lahir, Bunda begitu bahagia karena pada saat itu ibu kandungmu meminta Bunda untuk menganggap kamu sebagai anak kami juga supaya Bunda tidak merasa sedih lantaran belum dikaruniai anak."


"Kamu pasti bisa bayangkan, seandainya kamu yang ada di posisi Bunda saat ini. Mungkin keadaan Bunda akan jauh lebih buruk dari kalian, maka dari itu Bunda memilih untuk menyelamatkanmu daripada memikirkan hidup Bunda sendiri. Sebab, Bunda tahu. Ayahmu pasti akan mengurus kalian sebaik mungkin, walaupun tanpa Bunda. Namun, Bunda tidak bisa mengurus Ayah dan Nuel apabila kamu mengalami hal buruk ini."


"Bagi Bunda, kamu itu adalah kekuatan Bunda dan Nuel sebagai penyemangat Bunda. Kalau salah satu dari kalian terluka, hidup Bunda berasa sangat hancur. Oleh karena itu, please ... Jangan bilang begitu lagi ya, Sayang. Bunda tidak mau kalian terluka, biarkan Bunda saja. Kalian harus tetap bahagia, apa pun kondisinya. Sekali lagi maafin Bunda, Sayang. Maaf hiks ...."


Naila kembali memeluk Vivi dengan tangis mereka yang sudah tidak bisa dibendung kembali. Air mata keduanya langsung pecah, hingga menular kesemua orang.


Leon tersenyum, kemudian ikut memeluk mereka bertiga. Sementara Becca, meneteskan air mata akibat terharu melihat Naila sudah kembali memelu bundanya.


"Aku senang banget, melihat mereka kembali bahagia. Kasihan Naila, selama beberapa bulan ini dia selalu merasa sedih dan bersalah atas bundanya. Namun, kali ini tidak lagi. Semoga Naila bisa bahagia kembali," ucap Becca penuh harapan.


"Aamin, Sayang. Semoga mereka bisa kembali bahagia dan masalah yang mereka hadapan segera hilang. Aku tahu, mereka semua orang baik. Hanya saja, usia Naila yang labil dan alasan kedua orangnya malah membuat mereka menjadi salah paham. Pokoknya kita doain yang terbaik buat mereka aja," balas Rio, tersenyum sambil mengelus punggung sang istri.

__ADS_1


Becca tersenyum menatap Rio sambil menggendong Baby Juan. Sedangkan Yola dan Jeoy, menjaga Nuel yang dari tadi mengajak mereka bercanda.


Lain cerita dengan Naku yang hanya terdiam memperhatikan Naila, tanpa mengatakan apa pun. Setidaknya melihat Naila sudah kembali bahagia dan hubungan dengan orang tuanya membaik, berhasil menenangkan hati Naku.


Syukurlah, bundamu sudah sadar. Aku harap, mentalmu segera pulih dan kamu bisa menjalani hidupmu demi masa depan yang cerah. Maaf, bila selama ini aku terlalu keras dalam menasihatimu. Aku lakukan itu supaya kamu tahu, jika aku ini bukanlah laki-laki yang ingin mengambil kesempatan di saat kamu sedang menghadapi masalah.


Aku tulus membantumu sebab, aku merasa nyaman bila ada di dekatmu. Jika memang yang aku rasakan ini adalah bentuk dari perasaanku sama kamu, semoga saja Tuhan merestuinya dan aku bisa memperjuangkanmu suatu saat nanti. Cuma, untuk sekarang tidak. Aku ingin fokus menuntut ilmu agar kelak aku bisa membuat Mommy dan Daddy Rio bahagia. Aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah ada di tangan untuk meraih semua itu!


Batin Naku terus bersuara ketika melihat pemandangan yang sangat indah itu. Di mana Naila dan Vivi sudah kembali tersenyum. Setelah suasana mulai membaik, mereka kembali meneruskan acara yang sempat tertunda.


Akhirnya Naila kembali merayakan acara ulang tahun dalam keadaan keluarga yang kembli utuh. Apalagi, Naila selalu memberikan kue pertama untuk sang bunda, barulah kue kedua untuk Leon dan seterusnya.


Setelah semua acara selesai, mereka kembali mengobrol satu sama lain. Kemudian, makan bersama untuk merayakan hari yang bahagia ini. Selesai makan, Naila mengajak Naku ke luar ruangan Vivi sekedar mencari angin segar.


Niatnya, Yola ingin ikut karena bosen dan mengajak Joey. Akan tetapi, saat mereka ingin pergi Nuel juga pengen ikut sama Yola. Sehingga, Joey menasihati Yola agar fokus bermain sama Nuel dan Juan saja, daripada harus ikut campur urusan orang dewasa.


Suka tidak suka, Yola hanya bisa mengukirkan senyuman. Setidaknya masih ada Joey yang menemani mereka bermain.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2