Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Frustrasinya Naku


__ADS_3

Baru dua sampai tiga kali gigitan, Naila langsung menyadari kehadiran Naku yang sudah ada di hadapannya. Mata pria itu tidak henti-hentinya terus memandangi wajah gadis kesayangannya dengan bibir yang belepotan cokelat.


Naila berdiri penuh semangat membuat Naku merasa senang. Bayangan yang ada di dalam isi kepalanya, kini mulai kembali ketika melihat Naila bangkir dari posisinya dalam kondisi bahagia.


Akhirnya dia sadar juga, pasti dia akan memelukku yang sangat erat. Lalu mengatakan, 'aku sayang Oppa banyak-banyak' persis seperti waktu dia masih duduk di bangku SMP. Aku tidak sabar merasakan kehangatan tubuhnya yang pasti nanti akan sulit aku dapatkan kembali.


Begitulah pikir Naku. Namun, sayangnya apa yang dia pikirkan dengan senang hati bertentangan sama apa yang gadis itu lakukan. Naila berdiri bukan untuk memeluk ataupun mengucapkan hal tersebut, melainkan menyodorkan tangan berisikan cokelat yang sudah terbuka tepat di depan mulutnya.


"Astaga aku sampai lupa mau nawarin Oppa, hihi ... Ayo, makanlah Oppa, jangan malu-malu nanti ngiler loh, lagian juga ini semua hadiah pemberian Oppa. Jadi, jangan sungkan, oke? Bukalah mulutnya, aaa ...."


Di wajah gadis tersebut tidak ada sedikit saja rasa ingin memeluk atau mengatakan hal yang Naku pikirkan. Sementara gadis lain saja, apabila diberikan hadiah dia akan melompat tinggi dan memeluk pria yang memberikannya. Namun, gadis lugu ini memang agak lain. Naila bersikap di luar dari perkiraan Naku yang sudah begitu percaya diri.


Naku terdiam sambil mengikuti apa yang Naila perintahkan untuk membuka mulut dan menggigit kecil cokelat tersebut, "Gimana, Oppa? Enak, 'kan? Ohh, jelas. Ini semua pemberian Oppa, pasti Oppa akan melakukan apa pun untuk mwmbuatku bahagia. Contohnya ini, cokelat itu rasanya manis berarti Oppa akui kalau aku juga manis hihih ...."


Rasanya Naku ingin sekali terbang ke planet pluto untuk bertemu makluk angkasa yang mungkin jauh lebih mengerti apa yang dia lakukan, daripada harus berhadapan sama gadis seperti Naila.


"Ya, ya ... Habiskan saja, kalau perlu satu truk cokelat aku kirim ke rumahmu," jawab Naku spontans lantaran kesal melihat tingkah Naila. Akan tetapi, gadis tersebut malah salah mengartikannya.


"Wahh, asyik. Boleh tuh, Naila tunggu di rumah ya, Oppa. Nanti Naila kirim alamat jelasnya biar gak nyasar sekalian patokan atau kalau perlu kirim maps aja biar lebih mudah. Gimana?" Naila menatap wajah Naku dengan sangat polos sambil terus mengunyah cokelat.


Sudah aku duga, jawabannya pasti akan seperti itu. Sudahlah, Naku. Jangan berharap lebih, mungkin saja gadis yang ada di hadapanmu memang tidak bisa mengerti isi hatimu jika diungkapkan melalui hadiah ini. Tunggu saja saatnya nanti, jika aku sudah mengejar apa yang aku ingin raih. Di hari itu juga aku akan menikahimu, gadis aneh!


Suara batin Naku yang kesal hanya bisa disembunyikan dibalik wajah tersenyum kecil sambil mengangguk. Entah mengapa, Naku sulit untuk membantah perkataan Naila jika semua berhubungan dengan kebahagiaannya.

__ADS_1


Naila bersorak bahagia sambil melompat-lompat tanpa melepaskan cokelat di tangannya. Setelah itu, Naila kembali tersenyum membuat Naku ikut tersenyum. Tangan pria itu menyentuh bibir Naila untuk membersihkan sisa cokelat yang menempel.


Naila terdiam mematung dengan bola mata yang tidak lepas menatap manik mata pria tampan di hadapannya. Naku tersenyum mengusapnya dan berkata, "Lain kali makan cokelat itu yang benar, jangan mau kalah sama anak kecil!"


Degh!


Hati Naila berdebar kencang dengan detak jantung yang kian mengencang. Gadis itu tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan, lantaran dia sulit untuk membedakan antara kasih sayang untuk sahabat dan pasangan.


Imajinasi Naku sudah mulai terbang tinggi, berharap Naila akan menjadi salah tingkah atas apa yang dia lakukan. Namun, siapa sangka. Naila malah melakukan hal di luar dugaan untuk kesekian kalinya.


Baru selesai Naku mengelap cokelat di bibir. Naila sudah langsung menarik tangan itu dan mengemutnya bagaikan anak kecil sambil berkata, "Hemm ... Sayang cokelatnya kalau di buang. Nah, udah deh, bibir Naila bersih tangan Oppa juga bersih. Impas bukan, terima kasih Oppa."


Tidak kebayang bukan, bagaimana jadi Naku saat ini. Semua yang dia lakukan demi menarik perhatian lawan jenisnya, malah berujung menyebalkan. Entah gadis macam apa yang ditemui ini, sehingga berhasil membuat Naku jatuh cinta dengan segala kekurangannya.


Ingin rasanya berkata kasar, tapi sayang. Aaa ... Sumpah, kesel banget sih! Aku kira jatuh cinta itu manis rasanya kaya cokelat, tapi ternyata tidak. Ini jauh lebih menyebalkan dari Yola, Tuhan. Apakah Kau tidak salah memberiku cinta pada gadis ini? Kenapa jodohku serumit ini sih, huaaa ... Mommy, Daddy. Salah apa Naku sama kalian sampai bertemu gadis macam Naila ini.


Tiada kata yang Naku harus ucapkan selain mengoceh di dalam hati seperti orang bisu yang berkomunikasi dengan hati kecilnya.


Naila kembali berjongkok di depan peti, lalu mengambil buket bunga tersebut hingga matanya kembali menemukan sesuatu yang sangat membuatnya bingung.


"Perasaan tadi aku buka peti ini tidak ada benda itu, terus kenapa sekarang ada?" tanya Naila membuyarkan pikiran Naku.


"Lain kali aku temani periksa mata, siapa tahu matamu bermasalah," jawab Naku, cuek.

__ADS_1


"Mungkin kali ya, boleh tuh, nanti Oppa temani aku periksa mata. Oke?" Naila menyengir seperti kuda yang sedang menunjukkan giginya.


"Terserah!" seru Naku yang sudah tidak bisa mengontrol rasa kesal dan kembali pergi meninggalkan Naila menuju kursi yang ada di belakang.


Naila hanya melirik Naku, kemudian mengambil benda tersebut dengan rasa penasaran. Hadiah yang Naku berikan ternyata bukan hanya sekedar balon, boneka, dan cokelat. Akan tetapi, ada satu hadiah yang tersisa sebagai penutup hadiah-hadiah yang diberikan oleh pria itu.


Naku tidak lagi-lagi berharap akan semua yang telah dibayangkan. Dipatahkan oleh keinginan sendiri rasanya sungguh menyakitkan, bahkan wajah sang pria sekarang sudah kembali datar seperti semula sambil duduk melihat gerak-gerik apa yang akan Naila lakukan selanjutnya.


"Apa ya, kira-kira isi dari benda ini?" Naila mengocok pelan benda tersebut membuat Naku mendengus kesal, kemudian sang gadis kesayangan mulai berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Naku.


Lirikan mata Naku begitu sinis, tetapi tidak membuat sang gadis menyadari akan hal tersebut. Dia fokus membolak-balikkan serta mengocok bagaikan kotak hadiah yang dijual di warung-warung.


"Ini apa, Oppa? Kok, bunyinya kaya gini, sih. Apa isinya kerupuk?" tanya Naila, polos.


"Dari pada kamu menebak-nebak yang tidaj pasti, mending buka aja udah. Malas jawab juga, percuma. Semua yang aku berikan tidaj berarti buat dirimu!" sahut Naku, tidak mendapatkan jawaban apa pun darinya. Sekilas Naku menoleh melihat Naila sedang membuka benda itu tanpa memperdulikan apa yang dikatakan olehnya.


Sungguh, malang sekali nasib Naku. Dia harus merasakan kekesalan berkali-kali lipat ketika Naila tidak merespon apa yang diucapkan. Sudah cukup, Naku kembali menatap boneka beruang yang seakan meledek dirinya. Hanya dalam hitungan detik, Naila sudah menemukan jawaban atas apa yang telah membuat hatinya bingung, juga penasaran.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2