
Sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado dengan warna sepadan, membuat kedua bola mata Naila berbinar hingga berkaca-kaca. Naila tidak bisa mengapresiasikan bentuk dari rasa kebahagiaan jauh lebih dari apa yang dipikirkan.
Kebahagiaan atas kesadaran Vivi saja sudah membuat dunia Naila kembali berwarna, apalagi ditambah dengan hadiah-hadiah yang Naku berikan semakin berlipat-lipat kebahagiaan yang gadis itu dapatkan.
Banyak orang mengharapkan ketika ulang tahun ke-17 tiba, akan ada ribuan kebahagiaan datang mendekat seperti apa yang Naila rasakan. Namun, tidak aemua orang seberuntung gadis itu. Diusia 17 tahun mereka akan menginjakkan kedua kaki untuk pertama kali melangkah menuju masa yang baru, yaitu masa remaja.
Dimasa-masa remaja, semua orang akan merasakan bagaimana cara sulitnya belajar untuk mengatasi masalah, mengambil keputusan, juga belajar membedakan mana yang benar dan salah. Hanya saja, tidak semua orang beruntung mendapatkan apa yang Naila terima sekarang. Banyak orang terluka akan ulang tahun yang ke-17 dan ada juga yang bahagia. Semua yang mereka terima tidak lepas dari takdir Tuhan.
"O-oppa, i-ini buat Naila? Sungguh?" tanya Naila berulang-ulang kali demi meyakinkan kalau semua yang diterima memang untuknya.
"Ya, kenapa? Gak suka? Ya, udah kasih aja sama orang yang membutuhkan. Lagian juga percuma, hadiah itu tidak akan membuatmu----"
Naku menghentikan kata-kata yang tidak sempat keluar semua dari bibirnya, ketika merasakan sesuatu yang benar-benar di luar ekspektasi. Satu kec*upan dari gadis kesayangan mendarat jelas di pipi kanan sang pria dan meninggalkan jejak yang sangat menggetarkan hatinya.
"Terima kasih, Oppa. Naila sangat menyukai hadiah-hadiah yang Oppa berikan ini. Naila janji, Naila akan menjaga semua pemberian Oppa. Mulai dari keluarga beruang, juga kalung ini. Cuma, ini seriusan emas aslikah bukan imitasi?"
Sudah diduga bukan, baru juga Naku merasakan kebahagiaan atas ciuman pipi yang Naila berikan. Tetap saja endingnya akan sangat mengejutkan lebih dari apa yang Naila berikan padanya beberapa detik lalu.
Sebuah kalung dengan rantai emas yang aman digunakan sehari-hari tanpa harus takut menyangkut dipakaian terlihat begitu cantik. Liontin berbentuk love dengan bunga mawar ditengahnya menambah kesan keindahan kalung tersebut. Ditambah setengah dari bentuk liontin itu dihiasi oleh berlian kecil-kecil yang terlihat berharga.
Desain kalung seperti ini Naku dapatkan dari bantuan Rio. Sang daddylah yang memesankan kalung untuk Naila sesuai harapkan sang anak, dengan begitu kalung itu tidak ada yang memiliki selain Naila.
"Jual aja kalungnya, biar kamu tahu apakah itu imitasi atau tidak," jawab Naku spontans dipenuhi rasa kesal.
__ADS_1
"Hihi, bercanda, Oppa." Naila langsung memeluk tubuh Naku dari arah samping, membuatnya langsung tegang, "Tenang aja, gak akan Naila jual sampai kapan pun kok, dan sebisa mungkin Naila rawat semua pemberian Oppa tanpa merusaknya. Cuma ada satu yang gak bisa Naila jaga."
"A-apa?" tanya Naku, gugup. Jantungnya hampir berhenti ketika pipi kiri Naila menempel dengan pipi kanan Naku sambil memeluk erat.
"Cokelat, hihi ... Naila gak mungkin jaga cokelat itu sampai kapan pun, soalnya kalo basi nanti rusak. Jadi, Naila jaga di dalam perut aja ya, boleh, 'kan?"
Naila menatap ke arah wajah Naku dari samping dalam keadaan yang sangat dekat. Pria itu berusaha menahan rasa tegang, panik, juga salah tingkah ketika wajahnya mulai terasa panas akibat rasa malu.
Bagaimana tidak, depan wajah Naila dengan pipi kanan Naku berjarak kurang lebih 3 sentimeter saja. Kalau sampai pria itu menoleh, sudah dipastikan adegan orang dewasa akan terjadi di antara keduanya yang masih berusia 17 tahun.
"Bo-boleh, ma-makanlah sepu-puasmu. Cu-cuma, tolong ja-jangan seperti ini. Cepat jauhkan wajahmu dari wajahku atau orang yang melihat kita akan menjadi salah paham."
Naila langsung kembali duduk normal sambil melihat kalung itu penuh senyuman. Sementara itu, Naku terus berusaha untuk mengontrol jantung yang hampir berhenti berdetak ketika mereka dalam posisi sangat dekat nyaris tidak ada jarak.
"Oppa, tolong pakaikan, Naila gak bisa nyantolin pengaitnya. Kalau gak pas bisa jatuh, terus hilang. Naila gak mau, jadi please ...."
Rasa gugup di hati Naku saja tak kunjung reda, sekarang malah ditambahi oleh Naila yang terus membuat Naku tidak bisa berkutik.
Tahan, Naku, tahan. Gak boleh pingsan, bukannya ini yang kau inginkan tadi? Terus kenapa saat Naila meluk, bahkan memberikan bonus ciuman di pipi malah buatmu lemas tak berdaya. Dasar pa*yah!
Jantung Naku terus berdetak kencang membuat hatinya menjadi tidak tenang. Matanya langsung membelalak ketika melihat leher serta sedikit punggung Naila yang sangat putih, mulus, juga bersih.
Naila membelakangi Naku dengan menyampingkan semua rambut yang terurai ke arah kanan menggunakan salah satu tangannya. Di situlah kedua mata Naku mulai bereaksi, maklum saja. Usia yang sudah memasuki masa remaja pasti memiliki pikiran yang sedikit matang, walaupun masih 40 persen.
Tidak ingin berlama-lama, Naku segera memakaikan kalung tersebut di leher sang gadis supaya pikirannya tidak terbang melayang-layang di udara.
Selepas itu, Naila mengubah posisinya menghadap ke arah Naku sambil memegangi liontin canti itu dan menunjukkan, "Aku pakai kalung ini cantik gak, Oppa?" Wajah Naila semakin bersinar terang membuat pria yang ada di depannya tidak bisa mengontrol perasaan hati.
Naku seperti memiliki taman bunga di dalam dada hanya karena sebuah cinta-cintaan yang telah bersarang. Tidak ada kata yang diucapkan selain mengiyakan apa kata Naila. Memang benar, semakin lama wajah gadis tersebut semakin menyita perhatian pria yang terkesan cuek, tapi begitu memperhatikannya.
__ADS_1
Beberapa menit, keadaan sudah mulai membaik. Naku telah berhasil mengontrol perasaannya, meskipun posisi Naila sedang menyandar di pundak sambil menikmati cokelat serta menatap bintang-bintang.
Akan tetapi, langit yang cerah tiba-tiba saja menangis melihat keromantisan mereka berdua. Walaupun, terkesan biasa tetap saja keadaan itu membuat langit tidak kuat menahan air mata kebahagiaan.
"E,ehh ... Air apa ini?" tanya Naila, langsung duduk dalam keadaan normal sambil menunjukkan lengan yang terdapat beberapa tetes air.
Naku segera mengadahkan tangan untuk memastikan apa yang ada dipikirannya benar atau bukan. Ternyata benar, di telapak tangan Naku ada beberapa tetes air yang jatuh dari langit.
"Gerimis, ayo kita kembali ke kamar bundamu. Lagian juga ini udah jam 9 lebih hampir setengah 10. Jadi, kita harus secepatnya masuk ke dalam, daripada hujan-hujanan malah sakit." Naku segera berdiri dari kursi taman membuat Naila mengangguk dan ikut berdiri.
"Oke, ayo kita bawa keluarga beruang masuk. Kasihan mereka, sepertinya kelelahan dari tadi duduk mulu hihi ... Oh, ya. Oppa bawa ibu sama bapak beruang, aku bawa kedua anaknya. Setuju?" Naila menatap Naku dengan antusias, berharap dia akan menyetujuinya.
"Hahh? A-aku? Ogah banget. Itu semua hadiah aku yang belikan, masa iya, aku lagi yang repot. Udah kamu bawa aja semuanya sendiri, beratnya juga tidak melebihi berat badanmu," jawab Naku, cuek.
"Ishh, Oppa jahat banget. Masa Naila suruh bawa dua boneka besar itu, yang ada nanti Naila jadi tambah pendek gak tinggi-tinggi dong, bawa beban berat," sahut Naila tidak terima.
"Memang kamu pendek, terima nasib aja gak usah ngeluh." Naila langsung menatap Naku dengan tatapan sinis, membuatnya kembali membuka suara, "Kenapa menatapku begitu? Udah ayo, cepat kita ke dalam. Gerimisnya mulai rada deres."
"Ya udah sana balik sendiri, Naila mau urus keluarga beruang. Kasihan mereka dicampakkan sama Tuannya yang tidak punya hati!"
Perkataan Naila benar-benar membingungkan. Jelas-jelas itu boneka, kenapa harus menggunakan perasaan? Sudah tahunitu benda ma*ti bukan hidup, tetapi bagi Naila tetap saja Naku salah bila tidak menolongnya.
Suka tidak suka, Naku segera menolong Naila membawa bapak dan ibu beruang dengan wajah datar. Sedangkan Naila, tersenyum sambil membawa kedua anak beruang ke dalam pelukan. Tidak lupa, balon tersebut Naila lepaskan dan melayang di udara membuat hati gadis tersebut semakin bahagia.
Setelah itu, Naila dan Naku berlari cepat ketika air hujan turun membasahi taman. Untung saja mereka berdua dan keluarga beruang aman tanpa kehujanan, sehingga tidak ada yang dikhawatirkan kembali.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...