
Kekecewaan di wajah Yola terlihat jelas. Padahal mereka baru kenal, tapi kenapa Yola bisa merasakan semua itu. Seharusny, dia mebela sang kakak. Hanya saja, Yola malah berpihak pada pria yang dia percaya, tapi akhirnya mengecewakan.
Niat awal ingin memanasi sang kakak, tapi semua kandas begitu saja. Satu sisi Naku kesal karena terlalu percaya akan kemenangannya, di sisi lain Yola yang kesal akibat terlalu berharap pada Joey.
"Sudah aku bilang, dia itu tidak baik. Seksrang baru percaya 'kan?" ucap Naku, membuat Yola langsung menatapnya.
"Ini semua gara-gara kakak! Pasti Kak Joey itu kesal dan marah, karena kakak selalu meledeknya!" seru Yola, sedikit membentak Naku dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Loh, kok aku yang di salahin? Buktinya dia yang menang, tapi dia yang ninggalin. Itu tandaya dia yang tidak mau main sama kamu, makannya jangan percaya sama orang lain. Sekarang baru ngerasain 'kan!" sahut Naku, tidak terima.
"Bodo amat, kakak ngeselin!"
Yola berteriak, lalu berlari sambil menangis ke arah Becca juga Rio. Di mana mereka berdua lagi menikmati cemilan bersama-sama sambil tertawa melihat kelucuan anak kecil yang sedang bermain.
"Lucu ya, Kak. Jadi pengen punya anak kecil lagi, hihi ...."
"Boleh, ayo buat sama aku. Gimana, hem?"
"Hyaakk ... Dasar otak me*sum!"
Rio tertawa cekikikan ketika melihat wajah Becca mulai merona akibat rasa malunya. Hanya saja, semua canda tawa itu terhenti ketika Yola berlari lalu memeluk Rio begitu erat.
"Daddy, hiks ...."
Yola menangis membuat mereka menjadi bingung. Mata Rio melirik ke arah Becca, begitu juga sebaliknya. Mereka bertanya-tanya di dalam hati menggunakan kode tertentu.
__ADS_1
"Yola kenapa, Sayang? Coba sini-sini sama Buma, cerita sama Buma. Ada apa, hem?"
Becca berusaha mengambil alih Yola di dalam pelukan Rio. Tanpa mengatakan apapun, Yola hanya bisa menumpahkan rasa sedihnya akibat rasa kesalnya atas perbuatan Naku dan Joey.
Selang beberapa detik, Naku datang sambil membawa boneka di tangannya. Belum juga sampai, dia langsung di sidang oleh Becca yang memeluk Yola.
"Apa yang kamu lakukan sama adikmu, hem? Kenapa dia bisa nangis seperti ini!" tanya Becca, tatapannya menyorot tajam ke arah Naku yang sudah berhenti tepat di depan mereka.
"Dih, mana Naku tahu, orang tadi baik-baik aja. Terus pas tuh cowok pergi malah nangis. Aneh!" jawab Naku, penuh kecuekan.
"Bo-bohong, Buma. Kakak yang buat dia pergi, kakak terlalu sombong meledek orang!" sahut Yola, dibalik tangisannya.
"Cowok? Maksudnya cowok siapa?" tanya Becca, bingung melirik Rio sekilas.
"Tanya aja sama Yola sendiri, yang kenal tuh cowok 'kan dia, bukan Naku!"
Perlahan tangan Rio mengusap pundak Becca membuatnya menoleh. Gelengan kepala Rio menghentikan aksi Becca, agar tidak lagi menyudutkan anaknya.
Merereka menunggu sampai tangis Yola berhenti, setelah itu memberikan minuman sisa Rio. Tidak lupa, memberikan cemilan pada Yola agar moodnya kembali naik.
Di sela-sela Yola menikmati semuanya, Rio mulai mempertanyakan penyebab dibalik tangis Yola. Tanpa menutupi semuanya, Yola pun menceritakan awal mula bagaimana dia bertemu dengan Joey.
Naku hanya menyimak apa yang Yola katakan, meski dia sedikit takut ketika mendapatkan lirikan maut dari Becca saat mendengar cerita dari Yola, kalau Naku mengabaikannya.
Selesai bercerita, Becca baru saja ingin memarahi anaknya. Akan tetapi, Rio menahannya. Rio menjelaskan pelan-pelan kepada Yola dan juga Naku, agar mereka tidak lagi bertengkar.
__ADS_1
Mungkin satu sisi Yola juga bersalah karena berniat untuk membuat Naku marah. Dan sisi lain Naku pun bersalah karena sudah mengabaikan adiknya yang meminta pertolongan serta bersikap sombong.
Becca sama sekali tidak bisa berkata apapun, semuabitu di ambil alih oleh Rio untuk berusaha menengahi perdebatan diantara Yola dan Naku. Maklum saja, emosi mereka masih labih jadi masih suka salah pengertian satu sama lain.
"Udah ya, sekarang baikan. Saudara itu tidak boleh berantem, harus saling menyayangi satu sama lain dan saling menjaga. Kalau kalian berantem, kasihan nanti Mommymu bisa-bisa darah tinggi mikirin 2 anaknya yang tidak bisa akur."
"Namanya juga manusia, tempatnya salah dan dosa. Jadi, kalau kalian lagi kesal atau marah ya silakkan. Aslkan setelah itu selesaikan baik-baik, terus kembali baikan. Jangan sampai berlarut-larut. Takut nanti akan menimbulkan masalah yang besar, paham?"
Rio memang tipikal kepala rumah tangga dan juga orang tua yang sangat halus. Dia selalu bersikap lemah lembut kepada Yola ataupun Naku. Sama sekali tida membedeka mereka, agar tidak membuat mereka merasa iri.
Ini yang Becca selalu kagumi atas semua sikap kedewasaan Rio, jadi tidak salah bila dia mengharapkan sesuatu di balik kedekatan ini.
Hati Naku perlahan melemah, dia meminta maaf pada Yola karena sudah membuat kesalahan. Begitu juga Yola dia pun meminta maaf lalu berhambur untuk memeluk kakaknya.
Senyuman di wajah Rio dan Becca mulai terukir melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Di saat mereka sudah baikan, Becca langsung mengajak semuanya untuk pergi makan sore sebelum pulang.
Di mana Yola kembali semangat untuk menentukan menu makan yang akan mereka makan. KFC adalah makanan yang menjadi pilihan Yola, jadi semuanya harus menurutinya tanpa berani membantahnya.
Tahu sendiri bukan, wanita yang habis menangis itu moodnya masih naik-turun. Kalau mereka menolak, sudah di pastikan maka mood Yola langsung hancur dan berubah menjadi ganas yang nantinya susah untuk dikendalikan.
.
.
.
__ADS_1
💜💜>Bersambung<💜💜