Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Sakit Butuh Perhatian


__ADS_3

"Wah, wah, wah ... Daddy!"


"Benel-benel ya, Daddy diam-diam mayah ke lumah Buma cendilian aja. Daddy biyang mau jemput Yola, api Yola mayah di inggal di umah, antes aja Yola puyang cekoyah Yola panggil, Daddy ndak ada. Padahal hali ini Daddy libul, dacal Daddy nyebelin!"


"Udahlah, Yola ndak mau temenan agi cama Daddy. Yola mau tinggal di cini cama Buma cama Kakak aja, Yola ndak mau puyang!"


Yola berdiri tepat di hadapan mereka sambil bertolak pinggang, matanya mendelik tajam menatap Rio yang hanya tertawa saat menyadari akan kesalahannya.


"Ma-maafkan, Daddy. Daddy tidak sengaja, tadi Daddy niatnya keluar sebentar karena ada urusan. Ehh ... Tahu-tahunya dekat rumah Buma. Ya sudah Daddy sekalian mampir sebentar untuk nengokin Buma yang sakit, terus Daddy lupa kalau kamu pulang sekolah lebih cepat dari biasanya."


"Untuk itu, Daddy akui Daddy sudah salah sama Yola. Jadi, Daddy minta maaf ya, Sayang. Janji deh, Daddy tidak akan mengulanginya lagi. Daddy akan menempati semua ucapan Daddy, Yola mau 'kan maafin Daddy?"


Rio menjewer kedua kupingnya sendiri sambil menunjukkan wajah sedihnya di saat dia menyadari akan kesalahannya pada Yola. Sementara Becca, hanya bisa tersenyum melihat drama anak dan bapak yang sangat menggemaskan ini.


"Ndak! Yola ndak mau maapin, Daddy. Daddy udah janji mau ngajak Yola ke lumah Buma kita mau nginep baleng-baleng cekalian nengokin Buma, tapi Daddy mayah pelgi duyuan ninggalin Yola. Potokna Yola mau inggal di cini celamanya cama Buma, titik!"


Kali ini Yola tidak bisa lagi di bujuk, bahkan Rio berulang kali meminta maaf pada anaknya sampai melakukan berbagai cara. Mulai dari menjewer kedua telinganya sambil mengangkat salah satu kakinya, kemudian push up, bahkan squat jump berulang kali tetap saja Yola tidak meresponnya.


Yola malah berjalan dan langsung duduk di samping Becca, lalu memeluknya tanpa memperdulikan Rio yang sudah kelelahan untuk mengambil hati anaknya.


"Buma macih cakit ya? Kok, badan Buma panas anget cih? Pasti, ini gala-gala Buma ketemu Daddy 'kan?"


Setelah melihat wajah Becca sambil memegang dahinya, sekarang beralih melotot ke arah Rio yang tidak tahu menahu.


"Benel-benel ya, Daddy!" seru Yola, terlihat sangat marah.

__ADS_1


Rio langsung terkejut ketika mendengar perkataan Yola yang menyudutkannya, padahal Becca sakit karena ulahnya sendiri. Akan tetapi, beda sama Yola yang menyalahkannya.


"Hahh? Da-daddy? Hyaak! Emangnya Daddy ngapain Buma? Orang Daddy aja baru dateng di saat Bumamu sudah sakit. Kenapa malah nyalahin Daddy, harusnya yang kamu salahin ya Bumamu sendiri bukan Daddy. Dia itu terlalu memaksakan untuk bekerja tanpa istirahat, sampai akhirnya jatuh sakit," sahut Rio, tidak terima atas tuduhan anaknya.


Becca membolakan matanya saat Yola menatap intens ke arahnya, meskipun terlihat lucu tetapi sedikit menyeramkan. Hanya saja, Becca malah memainkan taktik jahilnya sehingga Rio yang akan menjadi sasaran empuk bagi anaknya sendiri.


"Benel Buma apa yang di biyang, Daddy?" tanya Yola.


"Pastilah, orang Daddy tidak jahat masa---"


"Itu tidak benar, Buma sakit karena Daddymu tidak pernah perhatian sama Buma. Daddy tidak mau ingatkan Buma soal makan, istirahat atau apa pun itu. Jadinya, Buma sakit deh," sahut Becca, mengukir wajah sedihnya yang begitu meyakinkan.


Rio benar-benar tidak menyangka saat Becca mengatakan semua itu, sementara Rio sendiri selalu mengingatkannya walaupun tidak tiap hari. Akan tetapi, memang dasar Becca saja yang sangat jahil sampai akhirnya lagi-lagi Rio yang kena amukan monster kecil yang imut ini.


"Ya, teyus ya Daddy. Boong aja teyus ya, bialin aja itu hidungnya panjang aya pingun!"


"Pinokio!"


"Nahya, itu makcud Yola, pinokio!"


"Yaak, mana bisa. Bumamu itu yang bohong ya, maka lihat saja bentar lagi hidung Bumamu pasti panjang!"


"Mana ada, aku tidak bohong. Orang bener kok, buktinya kamu tidak perhatian sama aku? Jadi--"


Perkataan Becca langsung di potong oleh Rio yang terlihat kesal, dia seperti di sudutkan oleh Becca agar bisa mendapatkan pembelaan dari Yola.

__ADS_1


"Heii, Markonah! Kau kira kau siapa, hahh? Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, tetapi tidak harus setiap saat ya! Di kata aku ini anak ABG yang baru kenal cinta. Dasar aneh!"


"Setidaknya kamu bisa 'kan basa-basi menanyakan tentangku? Kamu 'kan cowok, masa tidak bisa sedikit saja memberikan perhatian padaku!"


"Aku sudah selalu menasihatimu, walaupun jarang. Tapi kamu--"


"Aaaa ... Cetop, cetop, cetop! Kenapa kalian malah libut cih, potona mulai cekalang cetiap sejam sekali Daddy halus telpon Buma. Alo campe Buma cakit lagi, itu altina Daddy yang kulang pelhatiin Buma. Buktina Yola di pelhatiin Daddy ****** cakit,"


"Yayaya, udah salahin aja Daddy terus, salahin! Kalau perlu mendingan Bumamu suruh nikah aja sekalian sama Daddy, biar Daddy bisa memperhatikannya setiap detik tanpa harus berjauhan!"


Becca terdiam, wajahnya terlihat syok akibat perkataan Rio yang sangat menyentuh hatinya. Becca tidak sampai ke pikiran sejauh ini, padahal niat hati hanya ingin menjahilinya, tetapi malah mendengar kata-kata yang berhasil membuat wajahnya memerah malu.


Rio sendiri yang telah menyadari akan kesalahannya, hanya bisa bersikap seolah-olah dia tidak menyadari semua itu.


Jauh di lubuk hatinya, Rio sangat malu. Kenapa dia bisa mengatakan itu begitu mudah pada Becca, sementara dia pernah beberapa kali mendekati wanita, tetapi sulit untuk mengatakannya.


Entah itu murni hanya kelepasan atau memang isi dari lubuk hatinya, Rio pun tidak mengerti. Dia berlagak seperti semuanya baik-baik saja, sampai satu kalimat keluar dari mulut Yola. Di mana Yola mengakatakan sesuatu yang berhasil membuat keduanya langsung menatap satu sama lain dengan tetapan penuh arti.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2