
Baru kali ini Joey merasakan keanehan pada dirinya sendiri, apa lagi untuk pertama kali tubuh pria itu dipeluk oleh seorang gadis gemoy yang selalu memenuhi isi pikiran selain mamihnya sendiri.
Jantung Joey berdebar kencang saat Yola memeluk sesekali menatap dengan bola mata cantiknya. Sikap gadis tersebut mampu membuat Joey menjadi salah tingkah ketika ada di dekatnya.
Apa lagi, bibir Joey langsung terbungkam melihat senyuman Yola berbeda dari yang pernah dia lihat, sehingga Joey merasa ingin sekali berlari sekencang-kencangnya menjauhi Yola sambil berteriak. "Sumpah, aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Intinya, I really really love you, Princes!"
Degh!
"A-apa yang suka kau katakan itu, Joey? Dasar bo*doh! Ingatlah, umurmu masih sangat kecil. Lebih baik kau belajar dengan tekun supaya kelak cita-citamu tercapai, dan jangan lupa fokus sama penyakitmu yang tidak tahu apakah masih bisa sembuh, atau tidak sama sekali!"
"Jangan sampai kau terbawa suasana, lalu mengatakan sesuatu yang seakan memberikan harapan lebih pada gadis tersebut, tetapi kau tidak bisa mewujudkan semua itu karena sisa hidupmu tidak akan lama lagi. Jadi, aku mohon, hentikan semua ini, Joey. Hentikan!"
Peperangan hati dengan pikiran membuat Joey hanya bisa terdiam mendengarkan perdebatan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya. Akan tetapi, ketika Joey memilih diam ataupun melamun, tiba-tiba Yola langsung menyadarkan dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
"Kak Joey, Kakak gapapa? Kenapa Kakak melamun kaya gini? Hei, Kak!" ucap Yola sedikit menekankan kata-katanya.
"E,ehh ... I-iya, apa? Kenapa? Gimana-gimana? Kamu ngomong apa barusan?" tanya Joey, wajahnya mulai memerah lantaran merasa malu atas pikiran yang masih belum seharusnya dipikirkan.
"Yeahh, malah melamun. Udahlah, ayo, kita kembali ke ruangan Mommy. Yola pengen segera minta maaf sama mereka dan nemuin Ade. Siapa tahu sekarang Ade sudah ada di kamar Mommy hihi ...."
"Akhh, i-iya, ayo!"
__ADS_1
Joey berdiri dari kursi taman, kemudian berjalan lebih dulu dalam keadaan masih gugup sampai lupa kalau Yola tertinggal di belakang karena sedang membenarkan roknya.
"Aaa ... Kakak! Kenapa aku ditinggal, menyebalkan!" pekik Yola langsung melipat kedua tangan sambil mengembungkan kedua pipi gemoynya.
Joey refleks berbalik menatap Yola yang berada satu meter darinya, "Astaga, Joey! Ada apa sih, sama dirimu. Lihatlah! Gara-gara ulahmu dia jadi ngambek, 'kan? Ck! Dasar bo*doh!"
Joey menepuk dahi, lalu mengumpati kebo*dohannya sendiri. Setelah itu, Joey berlari kecil untuk mendekati Yola. Dengan sedikit bujukan, akhirnya Yola kembali tersenyum dan menggenggam tangan Joey sambil berlari meninggalkan taman yang sudah mulai gerimis.
"Huaa ... Ayo, lari, Kak! Lari yang kencang sebelum kita basah karena langit sedang nangis haha ...."
Yola tertawa sendiri berlari di depan Joey tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Sementara Joey masih sedikit syok menahan raut wajah yang terlihat memerah bagaikan kepiting rebus.
Rintikan hujan mulai turun membuat semua orang yang ada di dalam ruangan Becca merasa cemas, apa lagi Naku. Selepas menceritakan semua kejadian itu, Naku langsung mendapatkan pencerahan untuk memberikan nasihat agar tidak mengulanginya kembali.
"Dad, aku susul Yola sama Joey, ya?" tanya Naku yang sudah mulai gelisah karena melihat mendengar suara geluduk.
"Emang kamu tahu di mana mereka, hem?" tanya Rio sambil mengusap kepala Becca yang saat ini sedang tertidur akibat obat yang diberikan dokter sebagai penenang.
"Ya-ya, enggak sih, tapi mau sampai kapan kita nunggu kaya gini. Lihatlah, Dad! Di luar hujan, bagaimana kalau mereka hujan-hujanan terus Yola sakit, terus----"
"Adikmu bukan lagi anak kecil, Kakak. Dia sudah besar bahkan sudah menjadi seorang kakak sama sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir. Daddy percaya sama Joey, pasti dia akan membawa Yola kembali."
__ADS_1
"Gimana kalau Joey enggak bisa menemukan keberadaan Yola?" tanya Naku, menatap semua orang yang sedang duduk manis menunggu Yola dan Joey kembali.
"Jika Joey tidak berhasil membawa Yola, Om sendiri yang akan menghukumnya untuk tidak bertemu dengan Yola selama 3 bulan. Gimana?" tanya balik, Ragil diangguki oleh Rani sambil tersenyum menatap Naku.
"Hahhh!" Naku membuang napasnya secara kasar sambil duduk di tepi ranjang milik Becca. Kemudian, badannya sedikik membungkuk dalam keadaan menjambak rambut persis seperti orang frustasi.
Mereka semua merasa kagum terhadap kebesaran kasih sayang yang Naku miliki untuk sang adik. Belum tentu semua saudara kandung bisa memberikan kasih sayang kepada adik ataupun sang kakak seperti besarnya rasa sayang yang Naku berikan pada Yola.
Melihat semua ini, Rani malah merasa ingin menambah anak kembali. Hanya saja, mereka tidak ingin mewujudkan semua itu karena takut kalau sampai nanti Joey memiliki adik, sudah pasti mereka berdua akan lebih fokus pada si kecil dari pada kesehatan Joey yang harus segera ditangani.
Hanya berselang beberapa menit, terdengar suara pintu terbuka membuat Naku spontans berlari untuk mengecek pintu luar kamar Becca dan melihat adiknya datang dalam keadaan tersenyum kecil.
"Ka-kakak?" panggil Yola dengan suara kecilnya ketika terkejut melihat Naku berdiri tepat dihadapannya.
Yola benar-benar bingung, tidak tahu harus memulai dari mana untuk meminta maaf pada sang kakak. Selain itu juga, di belakang Naku sudah ada Rio dan kedua orang tua Joey yang menatap Yola penuh senyuman. Mereka merasa bangga karena Joey telah berhasil menepati janjinya untuk membawa Yola kembali.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...