Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Menyadari Keadaan Vivi


__ADS_3

Disela-sela mereka sedang asyik membahas tentang masa lalu keduanya yang tidak ingin dikalahkan, tiba-tiba saja Leon segera menyadari segala sesuatu yang seharusnya Vivi tidak mengingat semua itu. Akan tetapi, sang istri begitu lancar menceritakan setiap kejadian demi kejadian tanpa salah sedikit pun.


"E,ehh ... Tu-tunggu dulu, bukannya kamu tidak mengingatku sebagai suamimu? Nah, te-terus kenapa sekarang kamu begitu lancar menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu kita?"


Pertanyaan Leon mampu membuyarkan suasana yang tadinya memanas, kini menjadi tegang. Wajah Vivi langsung berubah drastis ketika menyadari bahwa, mulutnya sudah kelewatan batas rem.


Astaga, ini mulut benar-benar minta disumpel, sumpah! Bisa-bisanya sampai keceplosan untuk meladeni perkataan suamimu dan sekarang dia pasti sudah menyadari semuanya. Jika aku ini hanya pura-pura amnesia. Huhh ... Dasar Vivi on*eng!


Suara hati Vivi berbicara sambil menatap Leon yang sedang melihatnya tanpa mengalihkan pandangan satu sama lain. Tatapan yang Leon berikan cukup menakutkan, sehingga Vivi hanya bisa menyengir karena kebohongannya sudah diketahui oleh sang suami.


"Heheh ... Ma-maafkan aku, Sayang. Habisnya aku kaget, masa iya, suamiku berpenampilan seperti ini. Setahuku suamiku itu selalu menjaga penampilannya dengan baik. Dari mulai wajah harua bersih dari bulu-bulu, rambut dipotong rapi, pakaian yang serasi, dan wangi. Cuma sekarang? Kamu benar-benar bukan seperti Leonku yang tidak pernah ketinggalan penampilan."


"Kamu saja kalau hampir telat berangkat kerja, hanya mengandalkan cuci muka, gosok gigi, dan tidak lupa memakai parfum layaknya orang mandi. Semua itu kamu lakukan demi menjaga penampilanmu sebagai atasan yang memberikan contoh sama semua karyawanmu untuk mengutamakan penampilan, setiap kali berangkat kerja."


"Namun, sekarang lihatlah dirimu, Sayang! Wajahmu sangat koror dipenuhi bulu-bulu halus yang sudah mulai rimbun, rambut acak-acakan, juga penampilan yang alakadarnya. Sungguh, miris sekali nasibmu, Leon. Padahal aku hanya tidur sebentar, tetapi kamu sudah berubah 180 derajat. Menakjubkan!"

__ADS_1


Perkataan Vivi sungguh menggemaskan hati Leon, rasanya ingin sekali Leon mencubit ginjal Vivi agar tidak lagi menggodanya. Akan tetapi, Leon tidak menginginkan itu karena kesadaran istri yang benar-benar penuh keajaiban sudah membuatnya sangat-sangat bersyukur atas doa-doa yang sudah dikabulkan oleh Tuhan-Nya.


"Oh, jadi kamu membohongiku begitu, Sayang? Kamu berpura-pura amnesia hanya karena ingin menyindir suamimu sendiri, benarkah, Cantik? Sungguh, jahil sekali istriku ini, hem ... Bisa-bisanya kamu melakukan semua itu di saat hatiku hancur ketika mendengar bahwa kamu, sudah tidak lagi mengenaliku sebagai suamimu."


"Apa kamu tahu, Sayang. Sudah hampir 4 bulan kamu tertidur di rumah sakit dan meninggalkan anak-anakmu yang masih sangat membutuhkanmu. Apalagi diriku ini sama sekali tidak bisa hidup seorang diri tanpa bantuan darimu yang selalu mengurusku setiap saat. Cuma, setelah kejadian itu aku dan anak-anak mengalami syok berat. Kami hatus fipaksa keadaan untuk belajar hidup tanpamu dengan waktu yang tidak bisa kami tentukan sampai kapan kami harus seperti ini."


"Melihat kamu tertidur begitu nyenyak, membuat hatiku sangat sakit. Seakan-akan aku sudah gagal menjagamu, melindungimu, dan membuatmu bahagia. Apa kamu tahu, Sayang? Naila, anak kita. Dia orang yang paling menderita setelah kejadian itu terjadi hingga membuatmu tidur lama seperti ini. Anak kita itu kondisinya benar-benar sangat memprihatinkan. Coba saja tidak ada keluarga dari temannya yang selalu memberikan suport, sudah pasti anak kita akan dirawat dirumah sakit khusus demi mengembalikan mentalnya yanh telah terganggu."


"Naila begitu banyak terdiam. Dia tidak suka pergi selain berangkat sekolah dan mengunjungimu dari pulang sekolah sampai jam 9 malam. Sedangkan anak kita si kecil, selalu menangis tengah malam ketika merindukan bundanya selama minggu-minggu awal kamu mengalami koma. Untung saja, saat aku mencarikan perawat untuk membantu mengurusnya sekarang si kecil sudah bisa menyesuaikan diri tanpamu."


"Kamu tahu 'kan, bagaimana hancurnya hatiku saat melihat anak-anak hidup seperti ini tanpa bundanya. Mereka masih sangat kecil, Sayang. Aku tidak tega melihat mereka, bahkan Naila hampir ingin mengalhiri hidupnya hanya demi menjemputmu kembali sebagai ganti nyawa yang harus dia bayar. Anak perempuan kita satu-satunya itu sudah mulai mengerti tentang keadaan kita dan sudah berdami dengan masa lalunya. Bagi Naila sekarang, kamu sudah bangun saja itu akan menjadi hadiah terindah yang Tuhan kasih di hari ulang tahunnya."


Vivi cuma bisa terdiam setiap kali Leon menjelaskan bagaimana nasib mereka semua semenjak Vivi dalam keadaan koma. Betapa sakitnya hati Vivi saat mengetahui bahwa mereka semua, sangatlah menderita dan sedih atas kejadian yang menimpa Vivi.


Sebelumnya, Vivi menduga kalau Naila masih marah padanya atau belum bisa menerima masa lalu dengan baik. Ternyata Vivi salah, dari kisah yang Leon jelaskan barusan dia bisa mengambil kesimpulan jika kasih sayang anak dan suami tercinta tidak pernah memudar. Mereka tetap menyayangi Vivi, meskipun dia sudah lama meninggalkan tanpa mengurusi mereka.

__ADS_1


Sungguh, Vivi tidak tahu harus bersedih atau bahagia mendengar semua itu. Hanya ada satu yang dia ingin ucapkan yaitu, kata terima kasih. Baik untuk Tuhan-Nya dan keluarga kecil yang setia menemani dalam keadaan Vivi koma sekali pun.


"Ma-maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar minta maaf karena keadaanku sudah sangat merepotkan dirimu. Kamu harus mengurus anak-anak sendiri, belum lagi kamu juga harus mengurus kerjaan yang pasti kamu kelelahan. Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Aku sudah membuat kalian menderita atas kondisiku yang saat ini, maaf hiks ...."


Vivi menangis lantaran merasa bersalah karena sudah meninggalkan penderitaan kepada mereka, kurang lebih 4 bulan lamanya hanya karena keadaan Vivi yang koma.


Leon tidak tega melihat istrinya menangisi keadaan mereka yang sebenarnya, tidak ada apa-apanya dari pada Vivi. Mereka hanya berjuang untuk bertahan hidup, menjaga, serta mencari cara bagaimana Vivi bisa kembali terbangun dari tidur panjangnya.


Sementara Vivi, harus berjuang hidup dan ma*ti agar tetap bisa kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya. Dia rela melawan mautnya sendiri berbulan-bulan supaya bisa tetap mendamping suami dan anak-anak sampai waktu yang Tuhan berikan di dunia telah habis.


Sang suami langsung memeluk Vivi yang masih terbujur di atas tempat tidurnya dalam keadaan air mata sudah mengalir deras. Sebisa mungkin Leon berusaha untuk menenangkan sang istri supaya tidak berlebihan menyalahkan keadaan karena telah mengetahui bagaimana kondisi suami dan kedua anaknya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2