Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Jangan Bohongi Naku!


__ADS_3

Pagi hari pukul setengah tujuh, Becca baru saja selesai menyiapkan sarapan berupa susu dan juga roti bakar untuk Naku yang akan menghadapi ujian sekolah di hari pertamanya.


Ujian akan di adakan pukul 8 pagi, tetapi Naku sengaja bangun sangat pagi agar dia bisa berangkat lebih awal tanpa terlambat.


"Pagi, Mom." ucap Naku, duduk di kursinya memasang wajah datar.


"Pagi, Sayang. Loh, tumben udah siap. Bukannya ujiannya jam 8 ya?" tanya Becca, sedikit terkejut.


"Lebih cepat lebih baik." jawab Naku, singkat.


Becca hanya bisa tersenyum menganggukan kepalanya, inilah yang dia salutkan dari sosok Naku. Meskipun dia terbilang anak yang sedikit nakal, tetapi masalah pendidikan sangat patut di acungi jempol.


Sebandel apapun Naku, dia tetap tidak pernah melupakan pendidikannya. Semua tugas, selalu dia kerjakan lebih awal tanpa melakukan kesalahan.


Becca benar-benar bersyukur di karuniai anak secerdas Naku. Maka dari itu dia tidak tega, jika harus menghancurkan impiannya yang ingin memiliki keluarga sempurna.


"Naku mau makan roti pakai selai apa?" tanya Becca, sambil membuka beberapa tutup selai yang ada di atas meja.


"Coklat kacang." jawab Naku, yang langsung di siapkan oleh Becca.


Namun, tanpa Becca sadari. Naku memperhatikan setiap gerak-geriknya ketika sedang menyiapkan sarapan untuknya.


Wajah yang masih terlihat sedikit pucat dan mata yang rada membengkak, berhasil menarik perhatian Naku. Dia merasa ada yang aneh dengan penampilan Becca hari ini.


Setahu Naku, setiap hari Becca selalu menomor satukan tentang penampilan di depan semua orang. Termasuk anak dan juga suaminya sendiri.


"Di habisin makannya ya, Sayang. Supaya saat Naku mengerjakan soal bisa lebih semangat lagi, ohya. Mommy bawain bekal roti ya, biar kamu tambah semangat lagi. Soalnya Mommy tahu, kalau kamu lagi ulangan suka tidak ingat dengan perut. Jadi--"


"Mommy kenapa?"

__ADS_1


Degh!


Pisau yang Becca pegang untuk mengoleskan selai di roti, seketika terjatuh. Terlihat sekali betapa gugupnya Becca saat Naku menanyakan hal yang dia sendiri tahu kemana arahnya.


Akan tetapi, dengan cepat Becca langsung berubah seolah-olah dia tidak mengerti apa yang di tanyakan oleh anaknya.


"Ke-kenapa apanya, Sayang? Mommy baik-baik aja, kok." jawab Becca, kembali meneruskan untuk menyiapkan bekal Naku.


Sebenarnya Becca sangat takut, jika Naku bisa membaca apa yang telah terjadi dengannya. Sebab, Becca begitu hapal sekali bagaimana sifat Naku terhadapnya.


Apa lagi luka yang ada di sudut bibirnya, telah dia tutupi oleh foundation yang cukup tebal. Kemudian di timpal lagi dengan lipstik yang sedikit terang, agar luka lebabnya tertutup rapat.


"Jangan bohongi Naku! Cepat katakan, ada apa dengan wajah Mommy?" tegas Naku, menatap tajam ke arahnya.


Lagi-lagi, jantung Becca semakin berdebar kencang. Dia tidak tahu harus menjawab apa, dia takut kalau seandainya dia jujur pasti akan ada pertengkaran di antara Naku dan juga Gala.


"Ha-hahh? Ma-maksudnya?" ucap Becca, berpura-pura bingung sama pertanyaan anaknya.


"Aaa ... Ti-tidak, kok. Mo-mommy sama Daddy baik-baik aja." jawab Bacca, menutupi kegugupan di dalam dirinya.


"Kalau memang kalian baik-baik saja, dimana Daddy sekarang? Terus kenapa wajah Mommy seperti orang yang habis menangis semalaman?"


Becca semakin di buat ma*ti kutu oleh pertanyaan Naku, dia bingung harus menjawab seperti apa. Di balik itu, Becca sedikit lega jika memang Naku hanya mengetahui wajah sembabnya bukan lukanya.


"Huhh, syukurlah Naku hanya tahu tentang mataku yang sembab ini. Berarti usahaku untuk menutupi luka ini tidak sia-sia." gumam hati Becca.


"Mommy!" geram Naku, menatap tajam tanpa sedikitpun mengedipkan matanya.


"Aishh, apa sih Naku. Pagi-pagi kok udah marah, habiskan dulu ma---"

__ADS_1


"Sekali lagi Naku tanya, dimana Daddy dan kenapa Mommy nangis?"


"Huhh, yayaya. Daddymu ada meeting pagi-pagi banget, jadi sebelum jam 6 sudah berangkat. Terus kalau masalah muka, Mommy juga tidak tahu. Pas bangun tidur tiba-tiba mata sudah bengkak. Mungkin karena di gigit binatang kali ya, makannya nanti kalau kamu sudah berangkat ke sekolah Mommy mau ke dokter. Soalnya Mommy takut ada apa-apa, bahaya juga 'kan kalau di mata."


Entah jawaban keajaiban dari mana, Becca bisa menjawab semua pertanyaan anaknya selancar itu tanpa merasa ragu sedikitpun.


"Oh, gitu?" ucap Naku, di angguki oleh Becca.


"Udah ayo makan lagi, nanti kamu ke siangan. Ini juga bekalnya sudah Mommy siapkan, tinggal di bawa aja." ujar Becca tersenyum, lalu duduk di kursinya sambil menikmati sarapan bersama anaknya.


Naku hanya menganggukan kepalanya, seolah-olah dia telah mempercayai apa yang Becca katakan sambil meneruskan sarapannya.


Tanpa Becca sadari, sebenarnya Naku hanya berpura-pura mempercayainya. Setiap kali Naku perhatikan wajah Becca malah semakin membuatnya yakin, bila ada yang tidak beres dengan semalam.


Serapat apapun luka yang Becca tutupi, Naku sudah mengetahui semua itu. Dia terus berlayak layaknya anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, karena Naku tidak tega melihat ketakutan di wajah Becca.


"Naku tahu, Mom. Ada yang tidak beres dengan kalian! Naku janji, Naku akan mencari tahu semuanya sendiri. Ketika Naku telah menemukan jawabannya, maka Mommy tidak bisa lagi mengelak semua itu!"


Naku berbicara di dalam hatinya sambil menatap Becca yang sedang menikmati sarapannya begitu lahap.


Setelah selesai Naku langsung berpamitan dengannya, kemudian dia berangkat ke sekolah bersama supir khusus yang di sediakan untuk mengantar Naku kemanapun dia pergi.


Melihat anaknya pergi, Becca langsung merasa begitu lega. Tidak lagi terkena serangan jantung secara mendadak, ketika di hadapi oleh suasana yang cukup menegangkan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2