Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Berpura-pura


__ADS_3

"Cukup, Gal! Apa yang di bilang Kak Rio itu benar. Kita bukan lagi suami-istri, jadi sikapmu itu tidak bisa di benarkan!" seru Becca, terus berusaha melepaskn tangan Gala dari Rio.


Wajah yang awalnya terlihat datar, kini berubah menjadi sangat remeh. Gala melepaskan tangannya dan tertawa sambil menunjukkan senyuman miring.


"Kakak, gapapa?" tanya Becca, melihat ke arah leher Rio.


"Aku gapapa, ten---"


"Kakak gapapa? Kakak baik-baik aja? Uhh, sayang!" ucap Gala, mengikuti nada bicara Becca.


Rio langsung menatap Gala, sama halnya Becca yang spontan berbalik lantaran terkejut saat mendengar suara Gala yang mengikutinya.


"Ckk, ckk ... Sejak kapan, seorang Becca punya Kakak? Kok aku baru tahu ya, selama bertahun-tahun hidup bersamaku. Dia hanya memiliki kedua orang tua yang sudah tiada, dan sekarang tiba-tiba muncul sosok baru, dengan sebutan Kakak? Waaw, is amazing! Haha ...."


Gala tertawa lebar sambil bertepuk tangan. Kemudian, dia berjalan memutari Becca dan Rio berulang kali. Ketawa Rio terdengar begitu remeh, seakan-akan dia telah mengejek panggilan tersebut.


"Memang kenapa? Tidak ***---"


"Tidak! Kau hanya milikku, dan sampai kapan pun akan tetap menjadi milikku!"


Suara tegas yang berasal dari mulut Gala, berhasil membuat keduanya terkejut bukan main. Sorotan matanya terlihat sangat tajam, bagaikan seorang pemanah yang sudah menandakan area sasarannya.


"Ingat, Gal! Kita itu sudah bukan suami-istri, jadi tidak pantas mulutmu berkata seperti itu padaku!" tegas, Becca.

__ADS_1


"Kenapa? Meskipun kita sudah bercerai, tapi aku masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali milikimu, selagi kamu belum dimiliki oleh siapapun!" seru Gala, penuh percaya diri.


"Oh, masa? Kata siapa aku belum dimiliki, hahh? Buktinya, dia adalah pria yang akan memilikiku!" sahut Becca, merangkul lengan Rio.


Wajah Rio langsung spontan kaget, saat melihat tingkat Becca yang tidak biasanya. Apa lagi ketika mendengar kata-kata Becca yang tanda di sadari telah mengetuk pintu hatinya.


"Pria yang aku juluki dengan sebutan Kakak ini, adalah pasanganku. Jadi, kau tidak akan pernah memiliki kembali. Sebab, dia yang sudah memilikiku!"


"Yakin? Lihat saja wajahnya, dia begitu terkejut saat kau mengatakan itu. Artinya, hubungan kalian memang tidak ada yang spesial! Jadi, stop mencoba untuk membohongiku!"


"Mana ada aku membohongimu! Apa yang aku katakan ini, benarkan, Sayang?"


Becca menatap Rio dengan tatapan sangat mendalam, dari sudut mata Becca tersirat sebuah kode yang bisa langsung Rio tanggapi.


Rio mengatakan semua itu, sambil menahan tubuhnya yang mulai menegang. Kata-kata Becca entah mengapa malah membuat hatinya berbunga-bunga dengan debaran jantung yang mulai cepat.


"Gimana? Sudah puas sekarang, hem? Sudah aku bilang, bukan. Kalau hubungan kami ini bukan sekedar teman, melainkan pasangan!"


Becca tersenyum lebar menahan detak jantungnya sendiri dan rasa gemetar di tangannya saat dia berusaha untuk menggenggam tangan Rio serta terus menempel di lengannya.


Namun, Gala masih tidak percaya dengan perkataan mereka. Mungkin mulut bisa saja berbohong, tetapi tidak dengan sikap mereka berdua yang terlihat gugup satu sama lain. Apa lagi keringat yang mulai timbul di kening Rio, menjadi jawaban sesungguhnya. Jika semua perkataan yang mereka ucapkan barusan adalah kebohongan.


"Haha ... Becca, Becca! Janganlah berpura-pura mencintai pria lain, sementara hatimu saja masih terkunci untukku!"

__ADS_1


"Bila mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan matamu. Aku sangat yakin, di dalam bola matamu itu masih tersirat sebuah cinta yang sangat besar untukku, jadi tidak akan mungkin kalau kamu bisa mencintai pria lain selain diriku!"


Perkataan Gala mampu membungkam mulut Becca, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam sambil menatap Rio. Sedangkan Rio yang mengetahui bagaimana tentang perasaan Becca, langsung setuju. Apa yang di bicarakan Gala memang betul adanya.


Akan tetapi, saat ini Becca sedang berusaha untuk mencoba melepas semua perasaannya walaupun harus melewati tahapan-tahapan yang cukup menyakitkan.


"Maaf, Tuan. Anda itu bagaikan sebuah kenangan di masa lalunya, sehingga yang namanya kenangan sampai kapan pun tetaplah kenangan. Tidak bisa di rubah menjadi kisah yang baru!" ucap Rio, tegas.


"Kata siapa? Bagaimana jika wanita yang ada di sampingmu, kelak akan kembali menjadi milikku? Toh, kalian juga tidak saling mencintai," sahut, Gala.


"Tidak mencintaiku? Benarkan itu, Sayang? Apa kau masih mencintainya, hem?" tanya Rio sambil menoleh ke arah Becca. Tangannya perlahan mengangkat dagu Becca, supaya wajah mereka bisa saling bertatapan satu sama lain.


Becca menatap Rio, matanya langsung memancarkan sebuah kebenaran atas apa yang Gala sampaikan. Akan tetapi, sorotan mata yang Rio berikan seperti sebuah sinyal supaya Becca bisa lebih meyakinin Gala agar kelak dia tidak lagi mengganggu hidupnya.


"Ayo, Becca. Ayo! Jika kamu tidak ingin Gala kembali menganggumu, maka kamu harus bisa mengatakan apa bila kamu tidak lagi mencintainya. Buat dia percaya, kalau kau memang tidak membutuhkannya lagi!"


Hati Rio terus berbicara, tanpa di sadari dari tatapan Becca bisa menangkap apa yang di katakan hati Rio padanya. Masalahnya, berat rasanya untuk Becca mengungkapkan semua itu. Sebab, dia masih menyimpan rasa cinta pada mantan suaminya tersebut. Akankah Becca bisa mengatakan perasaannya pada Rio, demi membuat Gala tidak lagi berpikir bahwa Becca masih mencingainya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2