
"Dasar licik! Bisa-bisanya kau membalikkan fakta yang ada, dan seolah-olah kau yang menjadi korban, bia*dap!"
"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah memaafkanmu, Lola! Aku bersumpah, kelak kau akan menerima karma di balik semua perbuatanmu ini!"
Becca berteriak tepat di wajah Moana sambil terus mencoba melepaskan tubuhnya dari pegangan orang-orang yang ada di sana.
Wajah Becca terlihat begitu emosi, dia tidak terima bila Lola memainkan taktik agar dia mendapatkan pembelaan dari banyak orang. Becca yang sebenarnya menjadi korbannya, malah seakan pelaku utama di dalam permainan Lola.
"Cukup, Nyonya. Apa kau tidak punya hati, dia itu sedang hamil besar. Bagaimana jika perlakuanmu bisa sampai melukainya, apa kau tidak malu dengan gelarmu yang sudah menjadi seorang Ibu!"
"Ya, tuh benar. Padahal wanita itu sudah baik, ingin menyelamatkan rumah tangga kalian dan dia juga tidak masalah kalau harus menjadi yang kedua, semua demi anaknya yang tidak bersalah. Harusnya istrinya itu bisa menerima semua perbuatan suami, karena suaminya yang sudah menyalakan api!"
"Makannya, Nyonya. Kalau punya laki itu di jaga, di puasin di rumah sehingga tidak kegatelan cari mangsa di luar. Kasihan, Mbaknya. Dia sampai gagal nikah sama orang yang di cintainya, karena hamil anak dari suami Nyonya. Memalukan!"
Sorakan semua wanita yang ada di toilet bergema di telinga Becca. Tatapan matanya, benar-benar di penuhi oleh kemarahan yang sangat mendalam untuk Lola.
Semua orang mencaci maki Becca dengan kata-kata yang menyayat hati. Ada pula seorang wanita yang geram ingin menyiram Becca akibat tingkahnya yang terus mengamuk serta ingin melukai Lola.
Ibu itu mengambil ember kecil yang ada di dalam ruangan toilet, lalu ingin menyiram Becca. Sayangnya, aksinya gagal karena seseorang datang langsung memeluknya untuk melindungi tubuh Becca agar tidak basah.
__ADS_1
Suara siraman air cukup terdengar nyaring, hanya saja tidak mengenai tubuh Becca. Melainkan punggung seorang pria yang tidak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba datang dan memeluk Becca.
Lola sedikit terkejut melihat adegan itu, di mana Becca di peluk oleh seorang pria yang ketampanannya jauh lebih di atas Gala. Kulit putih, badan tinggi berisi dan juga wangi parfum yang sangat menyengat, membuat Lola tidak menyangka kalau Becca bisa mendapatkan pelukan secara geratis seperti itu.
Pria itu melepaskan pelukannya, lalu meraup wajah Becca yang sudah menangis tidak karuan, "Kamu gapapa 'kan, Ca? Apa yang terjadi, hem? Kenapa kamu bisa di perlakukan ini sama semua orang, katakan padaku, Ca. Katakan!"
Becca menangis sesegukan, kemudian perlahan menatap wajah pria yang sudah menyelamatkannya, "Ka-kak Rio? Ka-kakak kenapa ada di sini, ini toilet wanita. Kakak tidak boleh masuk, nanti Kakak bisa jadi bahan bullyan mereka!"
"Aku tidak peduli! Mau mereka menghinaku, memukuliku bahkan menyiramku sekali pun aku tidak akan peduli. Yang aku tanyakan, kenapa kamu bisa di perlakuan seperti ini? Apa salahmu sama mereka semua? Katakan, Ca. Aku siap membantumu!"
Becca menggelengkan kepalanya dengan cepat, "A-aku gapapa, Kak. Se-semua orang sudah salah paham terhadapku, pa-padahal di sini bukan aku yang salah, tapi ...." ucap Becca, lalu jarinya langsung menunjuk ke arah Lola, "Dialah yang bersalah, bukan aku!"
Semua bisa terlihat ketika tatapan yang Lola berikan pada Becca seperti memiliki arti tersendiri. Lalu, Rio kembali menatap Becca dalam keadaan bingung.
"Siapa dia, Ca? Kenapa kamu memiliki masalah dengannya? Dan kenapa, semua orang membelanya?"
"Dia, Kak. Dia orangnya! Dia yang sudah merenggut semua kebahagiaanku dan juga Naku. Dia, wanita yang sangat licik. Playing victim yang dia lakukan berhasil menipu semua orang untuk berpihak padanya dan menyalahkanku. Dasar wanita tidak tahu malu!"
Rio melirik ke arah Lola, di mana Rio melihat di balik tangis Lola sedikit ada senyuman yang terukir layaknya meledek Becca.
__ADS_1
"Jadi dia, wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Becca? Pantas saja, Becca terlihat marah sampai menimbulkan keributan seperti ini!" gumam hati Rio, kembali menatap Becca.
"Sudah cukup, percuma kamu membela diri. Itu semua akan menjadi sia-sia! Mereka semua itu hanya akan mempercayai seseorang sesuai perkataannya, bukan faktanya. Jadi, lebih baik kamu mengalah dan kita pergi dari sini!"
"Ingat, Ca! Mengalah bukan berarti kau kalah, tapi mengalah karena kondisi yang saat ini tidak memungkinkan untuk kita membela diri. Ayo, ikut aku! Biarkan mereka semua membela wanita itu, tetapi tidak dengan Tuhan! Dia tidak akan pernah tidur serta Dia juga sangat tahu, mana yang salah dan juga benar!"
Rio berusaha untuk menasihati Becca, agar dia tidak lagi kebawa emosi. Kondisi yang sudah ramai ini, tidak mungkin mereka lawan hanya berdua saja. Untungnya tidak ada satu pun yang mengabadikan momen tersebut, sehingga mereka aman dari hujatan netizen yang lebih parah lagi.
Becca yang tidak tahu harus bagaimana lagi, hanya bisa mengikuti apa yang di katakan Rio. Dia juga sudah sangat sakit, ketika cacian untuknya begitu menyakitkan hatinya.
Rio menggenggam tangan Becca begitu erat, lalu menariknya perlahan melewati semua orang. Di saat tangan Becca satunya lagi di tarik oleh seorang Ibu-ibu, Becca langsung menoleh dan spontan menutup matanya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1