
Kurang lebih hampir 2 jam mereka melakukan video call, Ragil mematikan ponselnya karena ada dokter yang ingin kembali memberikan informasi kepadanya mengenai keadaan sang anak.
Hari sudah semakin larut, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Naku dan Naila pergi keluar kamar untuk membelikan makanan serta minuman untuk semua orang. Dikarenakan ketika keluarga Naila ingin pulang, Rio menyarakan untuk makan malam bersama terlebih dahulu. Selepas itu, barulah mereka diperbolehkan pulang ketika perut sudah penuh dan tidak kosong seperti tadi.
Selama Naku dan Naila berjalan ke arah kantin, wajah pria itu selalu terlihat murung, datar, dan sangat menyeramkan. Tidak ada sedikit saja senyuman untuknya. Sering kali, sang gadis berusaha menggoda bahkan menjahilinya tetap saja dia tidak memberikan respons apa-apa selain diam.
Hem, gimana ya, cara membuat Oppa bisa senyum lagi. Ya, memang sih, dia jarang senyum. Setidaknya gak sampai seperti ini, pasti dia sedang memikirkan keadaan Yola sama Joey. Jadi, apa gak sebaiknya aku hibur saja. Atau aku minta izin sama Bunda dan Ayah buat nginep. Dengan begitu aku bisa nemenin Oppa karena Om sama Tante pasti akan lebih fokus mengurus Juan dan Yola. Sehingga, Oppa sedih pun tidak membuat mereka mencoba untuk menghiburnya.
Begitulah pikir Naila. Dia berbicara di dalam hati sambil memikirkan bagaimana cara menaklukkan singa di sampingnya ini. Sedingin-dinginnya Naku, pria itu tetap sesekali akn memberikan senyuman walaupun, kecil dan sekilas. Daripada sekarang terlihat sangat menyeramkan seperti singa betina yang sedang sensitif.
Di saat Naila sedang asyik berbicara di dalam hati, Naku langsung menghentikan langkah gadis itu dengan cara merentangan tangan kanannya. Naila terdiam menghentikan langkah kaki ketika bingung sama apa yang akan sang pria lakukan.
"O-oppa ... Oppa ngapain jongkok di hadapanku, malu tahu banyak orang. Bangunlah, nanti Oppa akan jadi pusat perhatian semua orang. Ayo, bang---"
"Diamlah, jangan bergerak sebelum aku bilang bergerak. Ngerti!" ucap Naku dipenuhi rasa tegas, membuat Naila spontans mengangguk dan terdiam bagaikan patung.
Akan tetapi, matanya melirik ke semua arah untuk melihat apakah ada yang melihat aksi Naku atau tidak. Nyatakan ada sebagian tersenyum, berbisik, dan iri melihat perlakuan Naku pada Naila.
Di mana sang pria mengikatkan tali sepatu sang gadis yang berantakan. Semua Naku lakukan untuk memudahkan langkah kaki gadis itu berjalan supaya tidak sampai terjatuh akibat menginjak tali sepatu sendiri.
"Lain kali pakai sepatu ngiket tali yang bener. Kalau gak bisa, minta beliin sepatu kretekan biar lebih gampang!" ucqp Naku, kembali berdiri dan berjalan meninggalkan Naila tanpa memperdulikan tatapan semua orang kepadanya.
Sementara sang gadis tetap terdiam di tempat bagaikan patung tanpa melakukan pergerakan sedikit saja sesuai perintah sang pria.
Kurang lebih lima meter Naku berjalan di depan Naila, langsung dikejutkan ketika tidak menemukan sang gadis di sampingnya. Wajah bingung, panik membuatnya segera berbalik ke arah belakang dan melihat Naila tertinggal jauh.
__ADS_1
"Astaga, gadis itu ngapain sih, malah diam di sana. Sumpah, ngeselin banget. Mana dilihatin orang lagi," ucap Naku dengan suara pelan. Tanpa basa-basi, dia langsung berjalan cepat mendekati Naila dan berhenti tepat di depan wajahnya.
"Kenapa diam di sini? Mau cari perhatian orang, iya?" tanya Naku, menatap lekat manik mata sang gadis yang juga menatapnya.
"Ta-tadi Oppa bilang jangan bergerak sebelum Oppa bilang bergerak. Ya, udah aku diam sesuai perintah Oppa. Tapi, kenapa Oppa tadi ninggalin aku?"
Jawaban Naila mampu membuat semua orang tertawa lucu melihat kepolosan Naila yang terkadang berhasil mengacak-ngacak hati sang pria hingga kesabaran setipis tisu dibelah tujuh benar-benar hilang.
Ingin rasanya Naku memaki-maki Naila, tetapi tidak jadi. Dia urungkan dan memilih untuk menggandeng tangannya sampai akhirnya mereka jalan bersampingan dalam keadaan tangan saling menggenggsm erat satu sama lain.
Wajah Naila berseri-seri sedikit memerah karena merasa malu, sedangkan Naku biasa saja karenakan tidak menyadari aksinya sendiri membuat sebagian orang merasa iri.
Sesampainya di kantin, mereka berdua langsung memesan makanan serta yang lainnya tepat di depan kasir dalam posisi masih sama yaitu saling berpegangan tangan.
"Oke, hem ... Aku mau apa ya?" Naila memilih dengan membuka buku menu menggunakan tangan kiri sambil berpikir, "Ahaa ... Aku mau ini 2 ya, Mbak. Terus, ini 1 dan ini 1. Habis ituz ini 2. Minumannya ini 2, ini 1 dan ini 2. Udah itu aja, Mbak. Jangan lupa bonusin ya, Mbak. Hihi ..."
Naila terkekeh bersama mbak-mbak kasir yang sedikit gemas melihat wajah gemoy gadis itu. Apalagi, cara bicaranya pin terkesan lembut dan lucu sampai mbaknya tidak dapat membedakan apakan Nail masih berusia 12 tahun atau sudah 17 tahun.
"Kalau pesen makanan itu pakai tangan kanan, bukan tangan kiri. Bisa 'kan, sopan sedikit?" tegus Naku, langsung mendapatkan tatapan wajah bingung dari Naila.
"Aku tahu tangan kiri gak sopan, tapi mau gimana lagi. Lihatlah, tangan kananku Oppa genggam tanpa melepaskannya. Mana kencenga banget lagi, seolah-olah aku ini penjahat yang gak boleh kabur."
Naila berbicara sambil menunjukkan tangan kanan yang digenggam erat oleh tangan kiri Naku ke atas wajah mereka. Sehingga, mbak-mbak kasir hanya bisa tertawa melihat tingkah laku kedua pasangan yang ada di depannya.
"Penjahat cinta kali akhh, Nona. Hihi ... Udah gapapa, itu berarti cowoknya sayang banget takut kehilangan jadi begitu deh, dulu saya sama suami juga begitu. Sayangnya, sekarang udah gak lagi. Maklum, kalau udah punya buntut pasti rasanya rada beda gitu hihi ...."
__ADS_1
Mbak-mbak kasir meledek Naila membuatnya ikut tertawa, sedangkan Naku langsung melepaskan tangan dan masang wajah sedatar mungkin demi menutupi rasa malu, di mana jantung sang pria sudah berdetak kencang setelah menyadari aksinya sendiri.
"Apaan sih maksud, gak usah ikut campur deh, Mbak. Kerja tuh, yang bener, gigi bagus-bagus pakai dipagerin segala. Takut di colong apa gimana?"
Sindiran Naku terhadap mbak kasir tidak membuatnya tersinggung, malah dia kembali membalas sindiran Naku membuat Naila menjadi bingung.
"Hihi ... Gak, kok, Tuan. Gigi saya pagerin maklum saja, pagi-pagi suami saya suka main comot aja jadi lebih aman di pager aja biar kena jebakan betmen hahah ...."
Mbak kasir yang humoris memang begitu adanya, dia tidak peduli siapa yang diajak bercanda. Terpenting apa yang dikatakan tidak akan menyakiti orang lain.
"Hyaakk ... Dasar kasur se*deng!" pekik Naku kesal.
"Memangnya suami Mbak tukang nyolong gigi, ya?" tanya Naila membuat Naku menepuk dahinya sendiri.
Mulai kumat ini anak, astaga. Lagian itu Mbak kasir ngapain sih, aneh-aneh aja. Udah tahu, otak Naila gak akan sampai ke sana, malah buat kacau aja. Haahh, dahlah. Aku harus selesaikan semuanya, daripada otak gadisku ternodai.
Naku berbicara di dalam hati menatap mbak kasir. Ketika wanita itu kembali ingin mengatakan sesuatu, Naku langsung mengalirkan dan memesan makanan serta minuman yang akan dipesan untuk keluarganya. Setelah itu, menanyakan berapa jumlah total yang akan dibayar. Selesai semuanya, sang pria bergegas menarik gadisnya untuk duduk di salah satu kursi sambil menunggu pesanan mereka berdua.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1