
Di dalam lift. Naila dan Naku hanya terdiam sambil menggendong kedua boneka beruang, cuma ukurannya yang beda. Sang pria membawa kedua beruang yang berukuran besar, sedangkan sang wanita berukuran kecil. Adil bukan? Tentu tidak. Seharusnya mereka berdua membawa beruang yang sama, satu kecil dan satu besar.
Akan tetapi, Naku tidak berani mengatakan semua itu karena memang sudah tugas seorang pria sebagai kesatria untuk membawa sesuatu yang berat supaya gadisnya tidak merasakan berat dan mudah lelah.
"Oppa, peti yang ada di taman itu gimana? Naila takut kalau ada orang yang melihat peti itu, nanti mereka mengira isinya bom, padahal mah, kosong."
"Udah tenang aja, semua itu ada yang mengurusnya. Gak perlu khawatir, terpenting kamu bahagia itu udah cukup buatku."
Naku menjawab pertanyaan gadis itu tanpa menyadari ucapannya membuat Naila menjadi salah tingkah dan langsung menggodanya dengan cara mengedipkan kedua mata beberapa kali.
"Qiwqiw, sepertinya ada yang mulai memperhatikanku. Kira-kira siapa, ya?" Mata Naila berputar ke mana-mana untuk menyindir Naku.
Pria itu terdiam sejenak ketika menyadari jika kata-kata yang keluar dari mulutnya berhasil membuatnya malu. Untuk mengurangi rasa salah tingkah juga malu Naku segera membantahnya.
"Berisik, udah diam. Sekali lagi matanya begitu, aku colok. Mau?" Naku menoleh membuat Naila terkekeh geli ketika tidak kuat melihat wajah lucu dari pria tampan yang ada di sampingnya.
Hanya dalam hitungan menit, mereka telah sampai di lantai 10. Pintu lift terbuka lebar bersamaan dengan keluarnya Naila dan Naku secara bergantian, kemudian mereka berdua berjalan menelusuri tempat mencari kamar Vivi.
Naila masuk terlebih dahulu, tidak lupa menahan pintu supaya Naku tidak tertinggal di luar dalam keadaan kesulitan karena memeluk dua boneka berukuran besar.
Senyuman Naila hanya dibalas kecuekan oleh Naku, tetapi itu hanya sekedar ungkapan rasa kekesalan sang pria pada gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Baru juga Naila ingin melangkahkan kedua kaki memasuki kamar Vivi, tiba-tiba saja semua oramg terkejut atas apa yang dibawa oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Wahh, itu keluarga beruang? Astaga, lucu banget anak-anaknya. Aaa ... Yola mau gendong boleh, Kak?" tanya Yola, kedua mata berbinar dengan rasa gemas yang sudah geregetan untuk memeluknya.
"Boleh dong, hati-hati ya, karena dia masih sangat kecil. Kasihan kalo jatuh nanti kesakitan hihi ...."
Semua orang tertawa melihat kedua gadis cantik itu saling berinteraksi dengan boneka yang pada dasarnya hanya benda ma*ti.
"Uhh, tututu ... Jangan nangis ya, kenali aku ini tante kalian namanya Princes Yola. Salam kenal buat twin bears, semoga cepat gede ya, nanti biar Tante Princes Yola akan adopsi kalian hihi ...."
Mereka semua tertawa gemas ketika melihat Yola berinteraksi dengan boneka seakan-akan dia telah menganggap twin bears adalah keponakannya sendiri.
Gak Yola, gak Naila keduanya memang sudah gila. Lagian ngapain sih, aku kepikiran beliin boneka segala. Jelas-jelas mereka berdua gila akan boneka. Ya, kali masa mereka menganggap boneka kaya ponakan bahkan anaknya sendiri. Sumpah, kalo begini caranya aku benar-benar merasa bersalah. Semoga aja mental mereka tetap aman dan bisa segera disadarkan. Aamin ....
Bagitulah isi pikiran Naku saat ini, rasa bersalah kembali membuatnya bingung. Ingin sekali Naku merebut serta menjual boneka itu, tetapi tidak jadi. Anggaplah ini sebagai hadiah terakhir yang berhubungan dengan boneka, lain kali Naku tidak lagi-lagi membelikannya.
"Akhh, gemoy banget sih, bonekanya. Yola mau dong, satu buat Yola ya, Kak. Yang cewek aja ini, boleh 'kan, bolehlah masa gak boleh, sih. Ingat loh, kalo kita jahat sama anak kecil itu dosa. Bisa-bisa Tuhan marah karena sebagai orang dewasa harus menyayangi anak kecil, bukan dijahatin. Jadi, Yola mau yang cewek ya, atau yang cowok juga boleh hihi ...."
Celoteh Yola sungguh membuat semua orang hanya bisa menggelengkan kepala kecuali, Naila. Gadis itu langsung merebut boneka yang ada dipelukan Yola dengan tatapan sinis.
"No! Semua punyaku, jadi gak boleh. Keluarga boneka ini hadiah dari pemberian Oppa untuk pertam kali. Kalau kamu mau nanti aku belikan yang baru bahkan lebih lucu dari ini, oke? Tapi, please ... Jangan ambil salah satu dari mereka ya, kasihan, loh. Bisa-bisa mereka sangat sedih karena kehilangan salah satu anggota keluarganya. Ini aja masih kurang kakek sama nenek beruang, katanya nanti Oppa mau beliin lagi biar komplit hihi ...."
Mata Naku langsung membelalak mendengar apa yang Naila ucapkan pada semua orang. Dia tidak menyangka gadis kesayangan benar-benar mengatakan semua itu di depan semua orang tanpa rasa terima kasih.
__ADS_1
Baru kali ini Becca melihat wajah sang anak benar-benar frustrasi setelah mendengar perkataan wanita yang dia sukai. Tawa Becca sangatlah puas membuat semua itu tertawa, hanya Naku, Yola, dan Naila saja yang merasa bingung.
Bagimana tidak, selama ini Naku menghadapi Yola saja sudah jungkir balik. Ini malah harus kembali menghadapi Naila yang polosnya melebihi Yola, ternyata memang benar adanya jika umur bukanlah patokan seseorang bersikap dewasa.
"Isshh, pelitnya. Kak Nainai udah punya dua beruang yang gede loh, masa Yola minta yang kecil gak boleh sih, nanti minta Kak Naku beliin lagi yang banyak. Kalau perlu pabrik bonekanya aja dibeli biar kita puas main boneka gimana, setuju?"
Mam*pus loh, Naku! Habislah riwayatmu hari ini. Semua hadiah yang kau berikan aja sudah menguras tabunganmu sebanyak dua digit. Lantas, bagaimana caramu membeli pabrik boneka untuk kedua gadis menyebalkan itu? Sungguh, rasanya seperti di bun*nuh tapi tidak ma*ti.
Naku berbicara di dalam hati saat kedua gadis itu berhasil mencekik isi rekening yang selama ini dia kumpulkan dari sisa uang jajan dan sebagainya. Maklum saja, dari dulu Naku memang sudah memiliki rekening khusus pelajar. Akan tetapi, pria itu juga punya rekening atas nama sang mommy sebagai cadangan, apabila tabungan pelajar tidak mampu menampung banyaknya jumlah saldo tertera.
"Boleh, aku setuju. Cuma, dari mana Oppa punya duit banyak untuk pabrik boneka?" tanya Naila bingung.
"Tenang aja, Kak. Kakakku itu isi rekeningnya banyak loh, jangankan pabrik bahkan stadion bola aja pasti dia angkut hahah ...." Yola tertawa terbahak-bahak membuat semua ikut tertawa mendengar lelucon yang gadis kecil itu lakukan.
"Emang iya, Oppa?" Naila langsung menanyakan kebenaran tentang apa yang Yola katakan barusan. Akan tetapi, mulut Naku sudah terkunci rapat setelah Yola berhasil membuatnya tidak berkutik.
Untuk Naku, apa yang Yola katakan memang benar. Hanya saja, tabungan sang kakak tidak sampai membeli pabrik ataupun stadion seperti yang dikatakan sang adik. Semua itu hanya candaan dari gadis menyebalkan demi mengerjai kakaknya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...