Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Keegoisan Naku Pada Games


__ADS_3

Selepas perginya Becca, hati Rio langsung lega begitu saja. Rasanya Rio ingin sekali berterus terang akan perasannya pada Becca, tetapi melihat Becca yang belum sepenuhnya membuka hati untuk pria lain. Rio sadar, apa bila cinta pertama memang sangat sulit untuk di lupakan.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


5 menit berlalu, Naku masih belum selesai juga dengan permainannya. Wajah Yola yang awalnya penuh semangat untuk memberikan suport pada sang Kakak. Kini, langsung berubah menjadi kesal, apa lagi dari tadi Yola sudah mencoba untuk mengerti Naku. Akan tetapi, Naku malah asyik sendiri dengan rasa egonya yang sedang berusaha untuk memecahkan sekor terbanyak seseorang dalam memasukan bola basket ke dalam ring.


Namun, lama kelamaan itu semua membuat Yola menjadi jenuh juga kesal. Saking semangatnya untuk mendukung Naku, Yola lupa kalau Naku sudah berulang kali memainkan kembali permainan itu sampai melupakan akan janjinya sendiri.


"Mau sampai kapan Kakak masukin bola basket itu? Sampai Mall ini jadi gudang, baru Kakak bakalan selesai main gitu?" ucap Yola, jengkel.


"Sabar dikitlah, bentar lagi selesai. Tinggal beberapa sekor lagi aku bisa mecahin record seseorang, kalau nanti udah berhasil baru aku bantuin kamu main capit beneka," jawab Naku, sedikit menoleh ke arah Yola dan kembali bermain.


"Bodo amat, aku udah males sama Kakak. Dasar pembohong!" seru Yola. Wajahnya terlihat sangat kecewa ketika Naku masih mementingkan dirinya sendiri.


Saking Yola sudah tidak ingin menanggapi Naku, dia segera berbalik lalu pergi begitu saja menuju kotak besar yang ada di ujung sebelah kanan. Di mana banyak boneka-boneka lucu yang seakan sedang memanggil-manggil Yola untuk segera mewujudkan keinginannya.


Naku hanya spontan melirik ke arah punggung Yola yang pergi begitu saja tanpa menahannya juga meminta maaf karena telah egois padanya.


"Ckk ... Dasar wanita, dikit-dikit ngambek! Dahlah bodo amat, terserah dia mau ngapain. Intinya gua harus bisa pecahin sekor yang ada!" gumam kecil Naku, kembali meneruskan permainannya.


Di sisi lainnya Yola merasa benar-benar kesal saat beberapa kali mencoba untuk melirik ke arah Naku yang masih setia dengan permainannya. Ambisi yang Naku punya tanpa di sadari berhasil membuat Yola merasa kecewa.

__ADS_1


Sebenarnya, Yola sangat berharap agar sang Kakak bisa mewujudkan keinginannya. Akan tetapi, Yola sadar semua itu tidak semudah ap yang dia inginkan. Tidak banyak kok, hanya satu boneka saja pasti itu sudah membuat Yola begitu bahagia karena merasa di perhatikan.


Ya, memang sih. Yola paham, bagaimana sifat Naku selama ini. Secuek-cueknya Naku, harusnya dia sudah bisaembaca pikirannya kalau Yola hanya ingin diperhatikan, tidak lebih.


Ditambah dari kecil dia hanya mendapatkan kasih sayang seorang Ayah, tidak dengan Ibu ataupun saudara. Maka dari itu, seharusnya Naku mengerti untuk bisa membaca maksud dari permintaan Yola.


"Kenapa sih, Kak Naku itu selalu egois! Padahal dia yang paling tua, tapi kenapa aku terus yang ngalah? Dunia benar-benar sudah terbalik!"


"Dasar pria menyebalkan! Lihat aja nanti, aku akan balas perbuatan kakak. Dengan begitu Kakak bisa merasakan apa yang aku rasakan selama ini, humpt!"


Yola mengumpat penuh kekesalan di dalam hatinya ketika melirik ke arah Naku yang berada jauh darinya. Tangan Yola melipat di dada sambil mengembungkan kedua pipinya lalu pandangannya menatap kesal ke arah boneka yang ada di hadapannya.


Di rasa sudah mulai tenang, perlahan Yola mulaimengukirkan senyuman kecil sambil menggesekan kartunya. Setelah itu lampu-lampu di dalam kotak menyala, artinya pencabit tersebut telah siap di gunakan.


Tanpa berlama-lama lagi, tangan Yola segera memegang sebuah tombol yang di arahkan menuju sebuah boneka yang Yola inginkan. Ketika capitan sudah berada tepat di atas bonekanya, Yola langsung memencet tombol ke salah satu boneka yang diinginkan.


Berharap bisa mendapatkan boneka yang diinginkan, sayangnya cabitan tersebut malah meleset ke arah sebelah. Dan mengenaik boneka satunya, hanya saja boneka itu terlepas dan percobaan pertama pun gagal.


"Aaaa ... Susah banget sih, lama-lama aku suruh Daddy beliin mesin capit yang berisikan handphone, motor, mobil sekalian! Kalau perlu halaman belakang rumah aku suruh jadikan Mall khusus!" seru Yola, jengkel.


Rasa penasaran kembali menyelimuti Yola, jika satu boneka tidak bisa dia dapatkan maka rasanya hidupnya akan terus gelisah dan menjadi tidak tenang.

__ADS_1


Maka dari itu, Yola kembali mencobanya beberapa kali yang hasilnya tetap sama, yaitu gagal. Yola benar-benar hampir putus asa, karena dia harus melakukan semua itu sendiri. Sementara Naku masih tetap fokus dengan dunianya.


Maklum saja, namanya juga anak kecil. Pasti Yola masih belum tahu trik memainkan pencapit boneka menggunakan logikan, bukan hanya hawa napsunya.


Dari kejauhan terlihat Becca baru saja datang membawa cemilan berupa churros, donat gula dan minuman segar. Kemudian Becca duduk tepat di samping Rio, membuatnya sedikit terkejut.


"Loh, katanya tadi mau ke toilet. Kok malah beli jajan? Kalau gitu tadi aku anter," ucap Rio, melihat beberapa jajanan yang Becca selipkan di tengah-tengah mereka.


"Udah jangan bawel, makanlah. Aku enggak mau sampai kakak jatuh pingsan cuman karena telat makan. Setidaknya dengan ini bisa mengganjal perut kakak yang kosong," jawab Becca, membuka bungkus cemilannya.


"Kenapa? Apa kamu khawatir sama keadaanku, hem?" goda Rio, menaikkan kedua alisnya secara bersamaan sambil mengambil 1 churros.


Melihat wajah nakal Rio, seketika membuat Becca terdiam sejenak. Lalu, Becca kembali bersikap biasa saja walaupun sedikit gugup.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2