
Di saat mereka sedang bermain menemani Zio, tiba-tiba saja seseorang berjalan mendekat dalam keadaan terburu-buru. Sesampainya di dekat mereka, orang tersebut langsung menyapa mereka semua penuh senyuman.
"Permisi, Non Zie. Nyonya sudah memanggil Non Zie dan Den Zio untuk kembali ke kamar Den Zeze. Jadi, mainnya udahan dulu, ya. Ayo!"
"Oke, Sus. Yola, Kak Joey aku sama Zio mau balik ke kamar Kakak dulu. Sampai ketemu lagi, aku senang kenal sama kalian semua. Terima kasih, semoga nanti kita bisa main lagi, dahh ...."
Zie berdiri bersama dengan pengasuh yang selalu mengawasi mereka. Tidak lupa Zio yang sudah berada digendongan pengasuhnya itu melambaikan tangan ke arah Yola dan Joey yang ikut berdiri.
"Aku juga senang kenalan sama Kak Zie, semoga kita bisa min lagi, ya. Dadahh, Kak Zie, Zio ... Sampai berjumpa kembali!"
Yola melambaikan tangan membalas lambaian tangan Zie dan Zio yang saat ini sudah berjalan menjauhi mereka. Selepas perginya Zie dan Zio, Joey mulai mengatakan sesuatu yang membuat Yola terdiam beberapa detik.
"Gimana? Udah enggak marah lagi sama Kakakmu, 'kan?" tanya Joey sambil melihat reaksi wajah Yola.
"Kok, diam? Kita duduk di situ, yuk!" titah Joey memegang tangan Yola dengan sedikit menariknya untuk duduk di kursi taman.
Mereka kembali duduk dalam keadaan yang sedikit berbeda. Yola menundukkan kepala sambil melihat kedua kaki yang diayun-ayunkan, sedangkan Joey selalu memperhatikan gerak-gerik gadis kecil yang moodnya mudah sekali berubah-rubah.
"Tadi perasaan udah bahagia deh, ketawa-tawa main sama Zie dan Zio. Terus kenapa sekarang murung lagi, hem?" tanya Joey membuat Yola perlahan menoleh dengan wajah cemberut.
"Ada apa, Princes? Apa yang sedang kamu pikirkan? Sini, cerita sama aku. Janji deh, aku akan mendengarkan semua ceritamu sampai selesai dan akan membantumu untuk menyelesaikan permasalan itu. Oke?"
Yola mengukirkan senyuman kecil yang sedikit dipaksakan, lalu menatap ke arah depan dan perlahan kembali mengatakan isi hatinya saat ini.
__ADS_1
"Hahh, aku tidak tahu, Kak. Apakah yang aku lakukan tadi salah atau benar, aku udah main lari dari mereka. Pasti saat ini Mommy lagi nangis karena aku dan menyalahkan Kakak atas semuanya. Aku takut, Mommy sama Daddy marahin Kakak atau mereka ribut. Terus bagaimana sama kesehatan Mommy? Bukannya Mommy habis melahirkan itu butuh sekali istirahat agar tidak memikirkan memikirkan pikiran yang berat."
"Sementara aku ... Aku malah buat Mommy merasa sedih atas kepergianku yang tiba-tiba, habisnya gimana, Kak. Yola sedih aja, takutnya nanti Yola enggak bisa main sama adik baru Yola. Cuman, setelah mendengar cerita dari Kak Zie aku jadi sadar, seharusnya aku tidak boleh bersikap seperti itu sama mereka, ya, 'kan, Kak?"
"Terus, gimana, dong? Aku takut, kalau aku ke kamar Mommy semuanya pada marah-marah, Yola enggak suka dengar mereka berantem. Ini, Kakak dari tadi nelponin Yola terus, Yola harus gimana? Yola bingung, Kak. Yola takut, nanti Yola sampi di sana mereka semuanya pada marah sama Yola, enggak mu maafin Yola, gimana? Terus nanti----"
Yola menghentikan ucapannya saat tangan Joey menahan bibir dengan tujuan, agar Yola tidak kembali mengatakan satu kata pun yang akan semakin membuat pikirannya ke mana-mana.
"Sssttt, berisik sekali ya, mulutmu ini. Jika tidak aku rem, kemungkinan kamu aka mengoceh sepanjang waktu. Lihatlah! Awan sudah mulai mendung, pasti sebentar lagi akan hujan. Mendingan sekarang kita kembali ke ruangan Tante Becca, supaya gak kehujanan. Ayo!"
"Tapi, Kak. Nanti ...."
"Kenapa? Kamu takut kalau di marahin sama mereka semua, hem?" tanya Joey diangguki oleh Yola dengan wajah polosnya.
"Yola."
"Lalu, siapa yang salah?"
"Yola."
"Berarti, yang harus meminta maaf siapa?"
"Kak Joey, hihi ...."
__ADS_1
"Hyaak, kenapa jadi aku sih, dasar gadis menyebalkan!"
"Heheh ... Bercanda, Kak. Lagian Yola takut ...."
"Sekarang kamu dengerin aku, ya. Jika kita melakukan kesalahan, maka kita harus siap, dan berani untuk mengakuinya, serta meminta maaf pada orang tersebut. Urusan dimaafkan, atau tidak yang penting kita sudah melakukannya. Cuman, aku tahu bagaimana sifat keluargamu itu. Mereka tidak akan sejahat yang ada dipikiranmu, paling tidak mereka hanya akan menasihati dirimu agar bisa tumbuh menjadi anak yang lebih baik. Kamu paham?"
Perasaan gelisah yang beberapa saat lalu dirasakan. Kini, sudah mulai memudar bersamaan dengan senyuman Yola yang sudah kembali. Yola benar-benar senang sekali karena mendapatkan teman yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri.
"Terima kasih, ya, Kak. Kakak selalu bisa buat aku tenang, Kakak juga tidak pernah memarahiku walaupun, Kakak tahu aku ini salah. Pokoknya Kakak the best, sama kaya Daddy. Sekarang Yola jadi sayang ... banget sama Kak Joey, i love you!"
Yola memeluk Joey begitu erat membuat tubuhnya seketika terdiam bagaikan patung. Napas Joey mulai sesak akibat kata-kata Yola yang berhasil membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Joey terlihat salah paham atas apa yang Yola katakan, sebenarnya Yola belum mengerti apa itu cinta dan untuk siapa cinta itu diberikan. Jika Joey menganggap Yola memiliki perasaan terhadapnya, tetapi berbeda sama Yola. Gadis gemoy itu mengatakan semua itu karena menganggap Joey seperti kakaklnya sendiri sama kaya Naku yang selalu menjaganya. Seakan-akan Yola memiliki dua kakak yang sangat berharga di dalam hidupnya.
Bagi Yola, cinta kasih yang dia ucapkan itu sama halnya seperti cinta kasih kepada keluarga sendiri yang sering dia ucapkan setiap kali merasa nyaman, dan kagum atas perhatian yang tidak pernah Yola rasakan sebelumnya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1