Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Hukuman dari Yola


__ADS_3

"Sudahlah, jangan nangis. Kasihan make up cantikmu itu, bisa rusak. Nanti maskaramu luntur, bedakmu belepotan. Udah kaya make up badut di lampu merah, luntur akibat sinar matahari hihi ...."


Mendengar candaan itu, Becca refleks langsung menatap Rio dan memukulnya lantaran kesal telah di ledekin.


"Ishh, apaan sih.Kamu kira aku ini wanita apaan? Make up aku ini tipis ya, dan itu tidak mungkin luntur. Memangnya kamu kira aku ini tante-tante di pinggir jalan, dasar menyebalkan!"


Tangan Becca terus memukul lengan serta punggung Rio, hingga Rio pun mengeluh kesakitan sambil tertawa. Bahkan dia pun jongkok layaknya orang yang lagi di pukuli massa.


Melihat kejadian itu, Yola langsung berlari mendekati Rio. Dia merasa sedikit aneh, kenapa Becca memukuli Rio. Apakah dia telah membuat salah? Entahlah, Yola hanya tidak ingin Daddynya terluka.


"Daddy!"


Suara Yola terdengar nyaring, membuat Becca menyudahi aksinya. Lalu dia berdiri tegak, melihat Yola berlari, sedangkan Rio masih jongkok menatap anaknya.


"Bu-buma enapa ukul-ukul Daddy Yola? Daddy calah apa cama Buma? Apa Daddy akal cama Buma? Alo Daddy akal maapin Daddy ya, Yola ndak mau Daddy enapa-enapa. Yola cayang Daddy, Yola akan menjaga Daddy. Yola ndak mau Daddy teluka, pokona Yola inta maap ya Buma. Daddy emang olangna cuka iceng, Yola uga di gituin tiap hali. Api, Daddy olang aik kok, Yola ndak o'ong, benelan. Cueerr!"


Yola berusaha memeluk Rio dengan cara melindunginya. Entah mengapa malah membuat Becca merasa terkejut atas perlakuan Yola.


Kasih sayang Yola kepada Rio memang sangat besar, anak seusia itu bisa membela Daddynya sendiri. Yang paling langka, dia malah meminta maaf atas kesalahan Rio padahal dia tidak tahu ada kejadian apa di antara mereka.


Namun, Becca yang gemas terhadap Yola berhasil mengalihkan perhatiannya. "Kalau Daddymu itu orang baik, kenapa dia buat Buma nangis? Lihatlah, mata Buma bengkak karena Daddymu. Bagaimana jika Buma terlihat jelek dengan wajah ini?"

__ADS_1


Yola yang awalnya memeluk Rio, seketika melepaskannya dan berdiri tepat di hadapannya. Bola mata Rio langsung membesar, saat Becca berhasil mencari perhatian Yola.


Tangan Yola langsung berada di pinggangnya, lalu memolotkan matanya kepada Rio. Layaknya seseorang yang sedang marah besar.


"Enapa Daddy buat Buma Yola angis? Tan Daddy pelna biyang cama Yola. Alo ceolang laki-laki ndak boyeng menyakiti peyempuam. Apa agi membuat peyempuan angis, jadi Daddy celalu membuat Yola telcenyum. Api, enapa Daddy angisi Buma, hem?"


"Alo Daddy buay Buma angis, belalti Daddy halus dapet hukiman. Cekarang Daddy dili, teyus kaki kanan Daddy diangkat catu, teyur uga dua tangan Daddy menjewel kuping. Anti Yola itung dali catu ampe dua puyuh, balu hukuman Daddy celecai. Ayo!"


Becca terkekeh mendengar seorang anak kecil menghukum orang tua. Jelas-jelas sebenarnya tidak ada yang salah. Yola yang memang terbilang anak sangat mengerti tentang perasaan seseorang dan juga pintar memahami. Membuat dia terlihat seperti anak yang sudah beranjak dewasa, tapi lidahnya saja yang masih cadel.


Rio mengikuti perkataan anaknya, tanpa bisa membela dirinya. Semua karena Yola tidak ingin menerima alasan apapun darinya. Mata Rio melirik tajam ke arah Becca yang saat ini sedang menjulurkan lidah meledek dirinya.


Setelah Rio melakukan apa yang Yola suruh, dia langsung menghitungnya dengan hitungan yang melompat-lompat.


"Catu, dua, lima, cepuyuh, celatus. Dah, celecai!"


"Hahh??"


Becca melongo dalam posisi mulut terbuka lebar, ketika mengetahui hukuman Rio hanya dalam hitungan kurang dari 2 menit.


"Buma, Yola cudah hukum Daddy. Alahan Yola ambahin hukumana. Jadi, Buma ndak boyeh angis lagi bial antik Buma ndak iyang. Ote?"

__ADS_1


"Yola ke cana agi ya, anti alo Daddy akal panggil Yola. Teyus alo Buma yang akal cama Daddy, anti Yola kacih hukuman uga, api beda dali Daddy. Dadaaa ...."


Yola kembali meneruskan permainannya yang sempat tertunda tadi, kemudian Rio yang melihat wajah syok Becca hanya bisa tertawa puas. Lagi-lagi, dia merasa menang meskipun dia telah di hukum oleh anaknya sendiri.


Itulah yang di namakan senjata makan Tuan, berniat ingin mengerjai Rio. Kini, malah Becca sendiri yang syok saat dia baru sadar, kalau anak seusia Yola belum sepenuhnya bisa berhitung dengan benar. Pasti masih akan ada beberapa angka yang langsung loncat.


"Bagaimana, hem? Enak? Makannya lain kali jangan ngerjain orang, kena batu sendiri 'kan. Itulah anakku, betapa dia adilnya dalam membagi hukuman. Dimana aku menerima hukumanku, dan kamu menerima apa yang tidak sesuai sama ekspetasimu. Haha ...."


Becca yang merasa kesal, sebel dan juga masih syok. Langsung saja duduk kembali, sesekali membuang muka. Rio yang tahu kelemahan Yola, berhasil kembali membuatnya tertawa akibat rayuan gombalnya yang dari dulu memang tidak pernah pudar.


Namun, siapa sangka. Di saat mereka sedang asyik tertawa, seseorang dari jauh sudah mengepalkan kedua tangannya dalam keadaan emosi yang begitu mendalam. Tatapan tajam mewakilkan isi hatinya, sampai akhirnya dia mulai berjalan mendekati mereka.


Senyuman dan juga tawaan seketika memudar seiring datangnya seseorang yang membuat mereka berdua segera berdiri, penuh keterkejutan.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2