
"Jangan-jangan kamu dan Joey tidak benar-benar baikan? Atau, bisa juga kalian hanya pura-pura?" tanya Rio, matanya langsung menatap tajam ke arah sang anak penuh intimidasi.
"Hahh ... Pura-pura, Dad?" Yola menatap Rio, lalu beralih menatap Joey dan Naku secara bergantian, "Benar begitu, Kak? Apa kalian bersahabat karena kebohongan?"
Jantung Naku berdetak kencang dengan wajah gelisah, sama halnya Joey. Dia juga merasa gugup karena ditatap oleh gadis kesayangan bagaikan penjahat.
"E,ehh ... E-enggak, enggak gitu! A-aku cuman ingin duduk di situ agarlebih mudah ngambil lauknya, kasihan Mommy kalau berdiri duduk terus nanti perutnya sakit. Kamu dan Joey pun belum tentu nyampe, 'kan? Ja-jadi, aku mau berusaha sendiri selagi aku bisa."
"Maka dari itu aku minta tukeran kursi sama kamu. Lagi pula aku sama Joey udah temenan, kok. Ta-tanya aja sama dia, pasti jawabannya sama. Ya, 'kan, Joey?"
Lirikan mata Naku membuat Joey sedikit terkejut, lalu bersikap tenang agar tidak membuat semua yang menatap ke arahnya menjadi salah paham. Walaupun, Joey tahu semua ini adalah sandiwara mereka tetap saja Joey berharap dari sini hubungan keduanya semakin membaik.
"I-iya, benar. Apa yang dikatakan Kak Naku itu benar, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kita sudah berteman, kok. Lagian Kak Naku hanya tidak ingin merepotkan Tante Becca, kasihan dia habis melahirkan. Kalau kamu tidak mau tukeran kursi, tidak apa-apa biar aku saja yang duduk di sebelah Om Rio. Gimana?"
"Huhh, baiklah. Ayo, tukeran, Kak. Tapi, nanti tolong ambilin udang goreng sama ayamnya, ya!" pinta Yola, diangguki oleh Naku penuh senyuman.
Naku dan Yola langsung bergantian tempat duduk, serta menukar piring satu sama lain. Setelah itu, Naku mengambilkan lauk yang Yola minta dan kembali duduk sambil melirik ke arah cara makan Yola yang sangat lahap.
Dasar rakus! Udah ada udang, masih aja pengen ayam. Semoga aja berat badanmu tidak langsung naik drastis, bisa-bisa berat tubuhnya bisa membengkak gara-gara cara makanmu yang tidak tahu malu di depn para tamu. Hahh ... Gimana kalau nanti kamu punya cowok, suami bahkan makan di depan mertua. Apakah kamu akan makan dengan cara seperti itu?
Naku bersuara di dalam hati dengan rasa kesal bercampur aneh ketika melihat cara Yola memakan makanan yang ada di atas piring. Naku tidak bisa membedakan antara Yola sedang lapar sekali, atau memang Yola begiti menyukai masakan Becca sehingga napsu makannya menjadi bertambah.
__ADS_1
Lain cerita sama Joey. Pria itu sangat senang melihat cara makan wanita yang lahap, dari pada harus melihat wanita makan dengan cara anggun yang terkesan seperti orang cacingan. Bukan maslaah rakus atau tidaknya, bagi Joey cara makan Yola itu seperti menikmati setiap makanan tanpa harus memilah milih seperti orang tidak bersyukur.
Jangankan Naku, kedua orang tuannya juga ketika melihat cara makan gadis kecil yang gemoy itu sangat langkah membuat napsu makan mereka semakin meningkat dari biasanya.
Mereka makan dalam keadaan senang, sesekali saling berbicara penuh canda tawa. Setelah beberapa menit mereka selesai makan malam, semuanya pergi ke ruangan tengah sekedar duduk santai sambil melihat Joey dan Naku yang sedang bertanding.
Jika di sini mulai terlihat sedikit cahaya kebahagiaan, berbeda di suatu tempat yang merasa khawatir apabila sesuatu terungkap akan membuat hubungan menjadi berantakan.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di rumah kediaman Naila kembali tegang setelah Vivi sembuh dari sakit yang berasal dari pikiran. Vivi tidak ingin hubungan mereka bersama Naila memburuk hanya karena masa lalu anaknya mulai terungkap.
Tahu sendiri, usia Naila sudab bukan lagi usia anak-anak. Dia sudah mulai dewasa untuk mencerna cara berpikir kedua orang tuanya. Sehingga, Leon dan Vivi masih belum bisa menemukan kata-kata yang tepat ketika menjelaskan pada Naila.
Namun, Naila tidak ingin tahu. Dia sudah selesai mengemasi semua barang yang diperlukan ke dalam kopernya agar bisa segera pergi dari rumah, apabila Leon dan Vivi tetap memilih bungkam menyembukikan kebenaran yang ada.
Tidak ada cara lain, Leon sama Vivi segera pergi ke kamar anaknya untuk menemui Naila yang sedang duduk di atas ranjang dalam keadaan wajah sangat datar. Sudah beberapa hari ini Naila tidak berbicara seperti biasa, rasa cuek itu membuat hati hati kedua orang tuanya sedikit terluka.
Semua sikap Naila berubah drastis ketika kejadian pada malam itu. Naila sudah memutuskan memberikan waktu, serta tidak akan banyak berbicara sama mereka sebelum Leon dan Vivi mengatakan jawaban yang selalu Naila tanyakan.
Perlahan mereka berdua masuk ke dalam kamar Naila, lalu berjalan mendekat serta duduk tepat di samping kanan kiri sang anak. Mereka menatap wajah Naila yang terlihat datar, bahkan mampir tidak mengenalinya. Bagaimana bisa? Ya, jawabannya karena semakin ke sini Naila semakin menunjukkan sifat aneh yang jauh berbeda.
__ADS_1
Mungkin dulu Naila adalah tipe wanita yang kuat, ceria, suka bercanda, juga bahagia. Akan tetapi, sekarang telah berubah seperti wanita yang tidak memiliki semangat hidup, cuek, bodo amat serta dingin.
"Say----"
"Jangan sentuh diriku! Jika kalian ingin bicara, katakan saja tanpa menyentuhku, bisa?" ucap Nay, memotong pembicaraan Vivi hingga membuatnya mengangguk sambil menahan rasa sesak.
"Kami paham, kamu marah sama kami karena tidak mau mengatakan bagaimana masa lalumu. Tapi, percayalah! Setelah kamu mendengar semuanya nanti, ingatlah satu hal ini!"
"Kami menyembunyikannya bukan berarti kami takut, tetapi kami hanya ingin menjaga perasaan putri kami agar tidak terluka atas kejadian yang nantinya kamu dengarkan. Sebelumnya Ayah dan Bunda ingin minta maaf, jika kami tidak bisa membuatmu bahagia, kami gagal menjadi orang tuamu, dan telah menyembunyikan masa lalumu hanya karena alasan yang bagimu mungkin tidak masuk akal."
Leon sangat tahu bagaimana perasaan istri tercinta ketika mendapatkan penolakan dari anak tersayang. Sehingga, Leon harus mengambil keputuan lebih dulu untuk menjelaskan sama Naila tanla basa-basi berdasarkan fakta nyata di masa lalu.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1