
Sama halnya seperti Becca, dia juga merasa tidak karuan dengan perasaannya sendiri. Becca tidak tahu, apakah ini bentuk rasa cinta yang mulai tumbuh pada pasangan atau bentuk rasa sayang yang hanya tumbuh layaknya seorang Adik pada Kakaknya.
"Astaga, Becca! Apa yang kamu lakukan padanya, kenapa kamu menciumnya seberani itu! Apa kau tidak liat reksi dia saat ini, hem? Wajahnya begitu datar, iru artinya dia sangat kecewa atas tingkahmu yang tidak sopan itu!"
"Namun, mau bagaimana lagi. Aku tidak punya cara lain untuk membuktikan pada Gala, kalau aku memang sudah tidak ingin kembali padanya. Meski, perasaan itu sepenuhnya belum hilang, hanya saja aku yakin dan sangat yakin. Kalau aku tidak akan pernah ingin kembali kepada pria yang sudah berkhianat!"
"Ingat, Becca! Jalanmu dan Gala sudah berbeda. Jika kamu tidak ingin kembali padanya, maka jangan berikan dia harapan atau pun kesempatan. Intinya kamu harus bisa bersikap layaknya wanita yang sudah tidak ingin di dekati! Fokuslah pada karier dan juga kebahagiaan anakmu, itu jauh lebih penting!"
"Dan, aku harus bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini. Agar Kak Rio tidak berpikir yang tidak-tidak tentangku! Aku tidak ingin pertemanan kami rusak, hanya karena aksi tidak sopanku tadi yang sudah menciumnya. Aku harus meminta maaf padanya, walaupun sulit. Aku tetap menjelaskan semuanya kepada Kak Rio, ya itu harus!"
Becca berbicara di dalam hatinya dengan tekat yang kuat, dan sedikit takut akan kemarahan Rio. Sebab, Becca sangat tahu apa bila Rio marah. Maka dia akan lebih memilih cuek, diam tanpa ingin berkata apa pun sampai kemarahan di dalam hatinya mulai mereda.
Dengan segenap keberaniaan, Becca menoleh sekilas ke arah Rio begitu juga sebaliknya. Kembali membuat keadaan di dalam mobil semakin tegang. Di mana Becca memainkan tangannya untuk menetralkan rasa gugupnya, sampai seketika suara mereka terbuka satu sama lain.
"Kak?"
"Ca?"
2 panggilan nama itu, terdengar nyaring secara bersamaan dalam posisi wajah mereka saling menoleh.
Sejenak mereka kembali terdiam untuk beberapa detik, kemudian kembali bersuara yang pada intinya mereka malah jadi saling melempar kata.
"Kamu duluan aja, Ca!"
"Kakak dulu, baru aku!"
"'Kan kamu duluan yang memanggilku?"
__ADS_1
"Ya, tapi 'kan Kakak yang cowo, jadi Kakak duluanlah!"
Rio menarik napasnya panjang sambil beberapa kali menatap ke arah depan untuk tetap fokus pada laju mobilnya.
"Huhh, dasar wanita! Selalu saja ingin menang sendiri, padahal dia duluan yang memanggilku!"
Rio berbicara dengan volume sangat kecil, akan tetapi itu masih terdengar jelas di telinga Becca. Mata Becca melirik ke arahnya dengan penuh arti.
"Terus aja, terus! Mengumpatlah sesukamu, Kak. Anggap saja aku tidak bisa mendengar semua ucapanmu itu!" seru Becca, langsung di lirik oleh Rio sambil menunjukkan sederetan gigi putihnya.
"Hehe, ma-maaf. Habisnya suruh ngomong duluan aja malah lempar-lemparan, lagi pula apa susahnya coba tinggal ngomong. Kenapa harus cowo duluan yang ngomong, memang bedanya sama cewe, apa?" tanya Rio, mengangkat salah satu alisnya.
"Bedalah, namanya juga cowo. Dia harus gentle, masa iya cewe duluan aneh!" sahut Becca, membuang wajah ke arah samping.
"Astaga, yayaya. Aku duluan deh, aku ngalah," ucap Rio, berhasil membuat Becca menoleh.
"Aku aja, aku 'kan cowo. Setelah aku selesai, baru gantian kamu. Oke?"
"No! Aku duluan!"
"Aku aja, Ca. Aku---"
"Stop! Aku duluan, titik!"
Rio hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam saat melihat tingkah Becca yang teramat menyebalkan. Bagian tadi di suruh duluan, dia menolak. Ketika Rio sudah ingin memulainya lebih dulu, lagi-lagi Becca menolaknya. Sehingga, Rio hanya bisa pasrah dan memilih untuk menjadi pendengar dari pada harus bertengkar kembali.
Tahu, sendiri, bukan? Apa bila seorang pria berdebat dengan wanita, maka pemenangnya adalah wanita. Sebesar apa pun kesalahan yang di buat oleh wanita, sudah kodrat pria untuk selalu mengalah dan bisa menjadi pendengar yang baik ketika wanitanya sedang dilanda emosi atau kekesalan.
__ADS_1
Becca perlahan menatap Rio, di mana Rio mulai meminggirkan mobilnya di dekat trotoar jalan. Semua itu demi keamanan mereka, karena jika seseorang mengobrol dalam keadaan menyetir itu akan mengganggu konsentrasi pengemudi.
Setelah mobil di berhentikan, Rio pun segera menoleh ke arah Becca dengan tatapan yang semakin membuat Becca menjadi gugup.
Melihat Becca mulai keringat dingin, tanpa di sengaja Rio spontan mengambil tangan Becca lalu di genggamnya secara perlahan.
"Ada apa, hem? Katakan saja, jangan panik seperti ini. Kasian jantungmu tidak akan sehat kalau kamu merasa ketakutan. Tenang, aku tidak akan marah kok. Aku juga tahu apa yang akan kamu katakan padaku ini, kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Izinkan aku untuk memulainya lebih dulu, boleh?"
Penuturan kata yang Rio sampaikan benar-benar halus, lembut dan juga enak di dengar. Akan tetapi, Becca malah salah fokus saat melirik tangannya yang di genggam begitu erat.
"Astaga, Kak! Bagaimana aku tidak gugup, jika perlakuanmu padaku seperti ini! Arrrghh ... Ini namanya kau ingin membunuhku secara perlahan, Kak. Dasar menyebalkan!"
"Padahal, sebelum kau memegang tanganku, jantungku tidak berdetak secepat ini. Cuman, setelah Kakak memegangnya malah semakin membuatku seperti terkena serangan jantung secara mendadak. Astaga, Tuhan! Ada apa ini? Kenapa jantungku bisa seperti ini hanya dengan di sentuh olehnya? Jangan bilang kalau ini adalahnpenyakit tuaku? Huaa ... Tidak, aku tida mau!"
Becca terus berbicara di dalam hatinya ketika dia merasakan perasaan yang aneh terhadap Rio. Andaikan Rio tidak memegang tangannya, kemungkinan Becca sudah mengatakan kalau dia ingin meminta maaf atas ulahnya yang kurang sopan terhadapnya.
Akan tetapi, pegangan tangan Rio berhasil membungkam mulut Becca tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
Sementara, Rio sendiri juga tidak menyadari perlakuannya saat ini pada Becca, semua itu spontan keluar begitu saja ketika Rio melihat kepanikan di wajah Becca.
Awalnya, Becca ingin memulai semuanya lebih dulu dari pada Rio. Hanya saja, dia malah harus menjadi pendengar yang baik untuk menyimak obrolan apa yang akan Rio sampaikan padanya, sesekali matanya terus melirik ke arah tangan Rio yang sedang mengelus tangannya secara perlahan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung