
"Pasti anti Kakak melacatan lacana dadi Yola. Ndak enyak tahu di ledekin teman-teman alena ndak unya Mommy. Beyum alo agi mam di buyang, padahal peyut Yola lapel. Api, ndak apa-apa cekarang Yola udah unya Buma. Jadi Yola ndak atan di ledekin lagi."
Yola berbicara panjang kali lebar sesuai apa yang dia rasakan, meskipun ceritanya selalu di ulang-ulang dan juga sedikit tidak nyambung. Semua itu berhasil membuka hati Naku, seakan Naku masuk ke dalam kisah yang Yola ceritakan. Sehingga dia bisa merasakan apa yang Yola rasakan.
Setelah mendengar itu, Naku langsung memberikan kesempatan pada Becca untuk menjelaskan semuanya sambil membangunkannya. Yola pun ikut membantu Becca dan tersenyum saat menatap lirikan maut dari Naku.
Tidak ada rasa takut sedikitpun dari Yola kepada Naku. Padahal dia sudah di buat terluka olehnya, itulah yang diajarkan oleh Rio.
Apa bila ada seseorang yang melakukan kejahatan, maka orang yang di jahati harus membalasnya dengan kebaikan. Karena hanya itulah yang membuat orang jahat bisa sadar akan kesalahannya sendiri.
Melihat sikap Yola yang manis, berhasil membuat Rio selaku Daddy kandungnya merasa begitu bangga pada anaknya.
Air mata yang menetes di pipi, segera di hapus olehnya. Kemudian Rio kembali tersenyum saat melihat Becca memeluk Naku. Sementara Yola juga ikut tersenyum ketika melihat Rio memberikan jempolnya.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang. Kamu sudah memberikan kesempatan pada Mommy, agar bisa menjelaskan semuanya padamu." ucap Becca memeluk Naku.
"Naku hanya memberikan 1 kesempatan pada Mommy, jadi tolong jangan bohongi Naku. Ceritakan semuanya dan tunjukkan bukti apa yang Mommy miliki!" sahut Naku, diangguki oleh Becca yang sudah melepaskan pelukannya.
Seketika Becca pun langsung menoleh ke arah Yola, lalu dia menyamakan tinggi Yola untuk bisa memeluknya sangat erat.
"Terimakasih, Cantik. Yola memang anak yang baik, karena Yola Buma bisa memeluk anak Buma lagi. Pokoknya Buma tidak akan melupakan kebaikan Yola sampai kapanpun. Buma sayang sama Yola!"
"Yola uga cayang anget cama Buma, cayang, cayang, cayang buangettt. Hihi ...."
Padahal jelas-jelas yang anak kandungnya adalah Naku, bukan Yola. Akan tetapi, kenapa Becca bisa sesayang itu padanya. Itulah yang lagi-lagi membuat pikiran Naku melayang entah kemana.
Namun, semua itu langsung di hentikan oleh Rio yang sudah berdiri di sampingnya sambil menepuk pundaknya. Naku menoleh menatap Rio yang tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Tenanglah, anakku tidak akan merebut Mommymu. Aku bisa menjamin itu semua, meskipun dari usia 2 tahun dia sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Akan tetapi, aku sudah mendidiknya untuk tidak merebut apa yang bukan miliknya. Jadi, tidak perlu risau. Lebih baik, turunkan egomu karena sesuatu yang mengejutkan sudah menantimu sebentar lagi."
Perkataan Rio berhasil membuat Naku benar-benar penasaran. Wajahnya terlihat bingung setelah mendengar perkataan itu. Seakan-akan Rio sudah tahu semuanya, tetapi Naku tidak ingin mengatakan satu katapun padanya. Dan segera menepis tangan Rio yang berada di pundak, dan sedikit menggeserkan langkahnya.
Terlihat jelas bila Naku masih belum mempercayainya. Di sini Rio tidak akan marah padanya, dia hanya memaklumi semua sikap maupun perkataan anak seusia Naku yang masih labil.
Hanya saja, tanpa di sadari Naku merasa bersalah kepada Rio atas perkataannya yang telah menghina Yola dan menuduhnya sebagai anak pembawa si*al.
Entah mengapa, dari kisah yang Yola ceritakan pada Naku seperti mengetuk pintu hatinya. Naku tidak percaya anak semenggemaskan dan juga sebaik Yola bisa menerima nasib malang yang menimpanya. Dimana dia harus kehilangan Ibunya, sementara dirinya malah menyia-nyiakan Becca hingga membuatnya bertekuk lutut di bawah kakinya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung