Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Nasihat Rio Tentang Naku


__ADS_3

Sindiran yang berasal dari mulut Naku terdengar sangat menjengkelkan. Kata-kata yang Naku lontarkan selalu memojokan Becca dan semakin membuat dia terus merasa malu akibat ulah anaknya.


Rasanya Becca ingin segera pergi dari hadapan Rio agar bisa menutupi wajahnya yang mulai merah menahan malu. Mungkin akibat perdebadan antara Ibu dan anak yang belum selesai, sehingga Naku tidak henti-hentinya terus menyindir Mommynya sendiri sampai merasa puas.


Ketika sindiran dari Naku tidak mendapatkan respons dari mereka, rasa kesal di hatinya langsung menggebu-gebu. Akhirnya, Naku pergi begitu saja sambil mengucapkan, "Selamat mengasuh putri kesayangan, dokter Becca!"


Sebelum Naku keluar, tidak lupa dia memberikan sedikit tanda yang mengejutkan keduanya. Di mana kakinya sengaja dia tendang ke arah pintu cukup keras untuk menunjukkan betapa kesalnya dia, saat melihat Becca lebih menyayangi Yola di banding anaknya sendiri.


Rasa kecemburuan itu berhasil menggoyangkan perasaan Naku, jadi tidak heran apa bila Naku mudah sekali di manfaatkan Gala untuk membantunya membawa Becca kembali padanya.


Selepas perginya Naku, pembantu itu pun datang untuk membawakan sebangkom kecil air hangat serta sebuah handuk yang di minta Becca.


"Nya, ini air hangatnya. Dan saya bawakan kotak obat sama minumnya, takutnya Non Yola belum minum obat penurun panas," ucap pembantu itu sambil menaruh semuanya di meja kecil samping ranjang.


"Ahhyaa, terima kasih, Bi. Saya sampai lupa minta bawakan obatnya," jawab Becca, wajahnya masih terlihat cemas.


"Gapapa, Nya. Wajar saja bila lupa, namanya juga semuanya dalam keadaan panik. Ohya, apa ada lagi yang harus saya bantu, Nya? Kalau tidak saya kembali ke belakang untuk beres-beres," sahut pembantu itu, matanya terus menatap ke arah Yola yang tertidur.


"Tidak ada, Bi. Terima kasih, nanti kalau ada apa-apa saya panggil atau saya lakukan sendiri," ucap Becca.

__ADS_1


"Baiklah, saya permisi. Semoga Non Yola lekas sembuh, aamiin ...."


Becca dan Rio pun serentak mengaminkan doa pembantu itu, sambil melihatnya berjalan pergi meninggalkan kamar Yola.


Kini, hanya tinggal Becca dan Rio yang berada di dalam kamar untuk menemani Yola. Untungnya Yola sudah tidak lagi mengigau memanggil nama Becca, ketika beberapa kali Becca memeluknya sambil membisikan di telinganya bila dia sudah berada di sampingnya.


Melihat cara Becca merawat Yola yang penuh kasih sayang layaknya seorang Ibu kandung, berhasil menyentuh hati Rio. Senyuman kecil mulai terukir samar di sudut bibir Rio, dan segera di tepis saat dia menyadari akan perasaannya pada Becca.


Seksrang hanya tinggal menunggu beberapa menit saja, apakah panas yang di derita Yola akan segera turun atau semakin tinggi.


"Kalau dalam waktu 30 menit sampai 1 jam kemudian panasnya masih tinggi juga, kita harus segera membawa Yola ke rumah sakit. Aku takut kalau panasnya itu akan membahayakan jantungnya, jangan sampai Yola mengalami kejang-kejang," ucap Becca sambil mengompres Yola sesekali melirik ke arah Rio.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Seharusnya aku yang mengatakan itu, aku yang meminta maaf atas sikap anakku yang cukup menjengkelkan. Kehadiranmu ke sini sama Yola, tidaklah salah. Hanya waktunya saja yang salah, karena sebelum kalian ke sini aku sedang cekcok dengannya. Jadi, aku tidak heran bila mulutnya terlalu pedas mengatakan semua itu," sahut Becca.


"Tidak apa-apa, aku bisa memahami perasaan Naku. Mungkin saja, dia cemburu karena saat ada Yola kamu terlalu fokus padanya, sampai kamu lupa kalau anakmu juga butuh kasih sayang darimu!"


"Ya, bisa jadi sih. Cuman, aku tidak mengerti aja sama sikap Naku hari ini. Dia seperti memaksaku untuk kembali sama Gala, sampai dia rela membandingkanku. Jelas-jelas, Gala yang sudah bersalah atas semuanya. Akan tetapi, kenapa sekarang Naku malah berpihak padanya?"


"Wajar, Ca. Namanya juga anak, pasti akan merindukan saat-saat kebersamaaan kedua orang tuanya seperti dulu. Di tambah, Gala juga sudah lepas dari wanita itu. Sehingga, Naku beranggapan bahwa tidak ada lagi biang kerok yang akan mengganggu kebersamaan kalian."

__ADS_1


"Tapi, Kak! Dia belum paham, bagaimana rasa sakitnya dikhianati oleh pasangan yang sangat kita cintai. Mungkin bagi dia saat melihatku tertawa dan juga sudah memaafkan Gala, itu membuat dia berpikir kalau aku sudah baik-baik saja. Padahal, tidak! Aku memaafkan karena manusiawi, tapi untuk melupakan itu hal yang sangat sulit. Berdamai dengan keadaan tidaklah mudah, dan aku sudah melewati segala prosesnya. Maka dari itu aku bisa memaafkan semua kesalahannya yang sudah membuat hidupku hancur!"


"Tenanglah, jangan marah-marah. Itu enggak akan baik bagi kesehatanmu sendiri. Berbicara pada Naku, tidak semudah kamu memarahinya ketika membuat kesalahan. Naku itu sama sepertimu, wataknya cukup keras bila di nasihati. Jadi, kalau kamu ingin membuatnya paham. Kamu harus pelan-pelan, berikan dia ruang untuk mengungkapkan semua isi hatinya. Setelah kamu tahu maksud dari keinginan anakmu, barulah kamu bisa memberikan sedikit demi sedikit pengertian menggunakan kepala dingin, tanpa harus ikut terbawa emosi. Paham maksudku, 'kan?"


Becca menganggukan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau Rio bisa memahami Naku jauh dari dirinya. Padahal Rio bukanlah siapa-siapa Naku, tetapi nasihat-nasihat yang selalu di berikan oleh Rio selalu berhasil membuat Becca tersadar.


Sampai akhirnya Becca mulai paham, apa bila anaknya itu memang tidak bisa di nasihati dengan cara seperti yang biasa dia lakukan. Semakin Becca membentaknya, maka emosi kelabilan Naku akan terus memberontak.


Jadi, jalan satu-satunya seperti apa yang Rio sampaikan tadi. Becca harus lebih merendah agar tidak semakin membuat emosi Naku meninggi.


Di sela-sela, Becca sedang memberikan obat pada Yola dengan cara membangunkannya, meskipun Yola masih dalam keadaan sadar tidak sadar. Rio meminta izin untuk pergi ke depan sebentar, karena ada sesuatu yang terlupakan.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2