
"Untuk 10 jawabannya sudah benar, hanya saja nomor 10 sedikit kurang tepat. Tetapi, tidak apa. Masih bisa di maklumi."
Naila tersenyum senang dan langsung mengepalkan tangannya di samping sambil di tekuk, artinya dia benar-benar bisa beristirahat lebih dulu dari semua murid.
Akan tetapi, semua itu hilang dalam sekejap mata dan berubah menjadi suasana menegangkan layaknya Naila sedang berada di sebuah permainan yang awalnya terlihat menyenangkan, pada akhirnya berubah menjadi menegangkan.
"Sekarang, coba kerjakan soal nomor 5 di papan tulis itu, sesuai sama jawabanmu di buku ini. Setelah itu, kamu bisa istirahat. Silakan!"
Perkataan sang guru benar-benar di luar nalar semua murid yang ada di kelas. Mereka pun ikut terkejut, karena hampir semuanya menyontek cara kerja satu sama lain. Akan tetapi, Naila yang jauh lebih kaget karena dia sama sekali tidak mengingat semua kunci jawaban yang dia salin dari buku Naku.
Mata Naila hampir saja keluar, bersamaan dengan mulutnya yang terbuka lebar persis di depan sang guru. Keadaan syok seperti itu, malah menjadi pertanyaan tersendiri bagi sang guru yang memperhatikan gerak-gerik Naila sangat mencurigakan.
"Kenapa ekspresi wajahnya seperti itu? Ohh ... Ibu tahu, pasti kamu tahu jawaban semua ini dari hasil menyontek di sebelahmu bukan? Atau, siapa orang yang kamu salin jawabannya, hem?" tanya sang guru kembali, tatapannya sedikit berubah menjadi tajam.
Naila benar-benar syok ketika isi kepalanya semudah itu bisa langsung di tebak dengan jelas oleh gurunya. Tanpa basa-basi, Naila segera menangkis semua itu meskipun terlihat begitu gugup.
"Hahh? E-enggak, Bu. Ma-mana mungkin saya menyalin jawaban orang, toh mereka saja belum ada yang selesai. Jadi, I-ibu jangan asal nuduh saya ya, saya itu---"
"Ya sudah, kalau memang apa yang kamu katakan itu benar adanya. Maka, kamu tidak perlu secemas ini dong. Semua jawabanmu saja hampir sempurna, jadi pasti mudah untukmu mengerjaka soal-soal itu walaupun tanpa melihat hasil jawabanmu."
__ADS_1
"Seharusnya semua itu bisa kamu jawab dengan benar, apa bila kamu hapal rumus-rumusnya. Kalau kamu lupa, terus bagaimana caramu mengerjakan semua jawaban ini, hem?"
Sang guru tersenyum menatap Naila dalam posisi duduk manis menatapnya. Sementara Naila yang berdiri di hadapannya sangat tertekan, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab soal yang ada di papan tulis.
"Tu-tunggu, Bu. Ka-kalau semua soal di papan tulis ini di isi, berarti semuanya bisa menyalin jawaban? Terus meraka bisa beristirahat tanpa harus mengisi soal berikutnya di papan tulis, iya?"
"Wahh, Ibu curang namanya. Masa 10 murid pertama harus mengerjakan soal di papan tulis jika jawabannya benar, terus mereka yang tidak bisa apa-apa, dengan mudahnya beristirahat, gitu? Dasar tidak adil!"
Wajah Naila terlihat kesal, padahal dia hanya sedang mencari alasan agar dia bisa beristirahat tanpa lewat jalur menyeramkan itu.
Namun, apa daya. Jawaban sang guru tetap pada pendiriannya, semua murid harus mengerjakan 10 soal ini dengan benar. Kemudian menjawab pertanyaan di papan tulis dalam soal yang berbeda-beda, tetapi rumusnya tetap sama.
Naila yang sudah mendengarkan penjelasan itu, hanya bisa pasrah. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, dia mulai menerima spidol hitam dari sang guru dan mencoba mengerjakan soal yang sudah di tentukan.
"Ckk, dasar guru menyebalkan!"
"Bagaimana aku bisa mengerjakan 1 soal ini, sedangkan 10 soal saja aku hasil nyontek. Nasib-nasib, begini banget sih belajar hitung-hitungan. Lagian kenapa juga harus apa nilai X dan Y di dunia ini, kenapa bukan tambah-tambahan aja sih!"
"Makin ke sini soal anak SD bukannya makin mudah, malah makin rumit kaya soal anak SMP, tahu gini mah sekolah nyogok aja udah. Pokoknya tahu-tahu lulus dengan nilai terbaik aja, tanpa harus pusing-pusing mikirin nilai X dan Y!"
__ADS_1
Naila berbicara di dalam hatinya sendiri dalam keadaan yang masih kesal. Dia mencoba kembali mengingat semua jawaban yang ada di bukunya, meskipun isi kepalanya hanya ada makan, makan dan juga makan.
Sambil menunggu Naila selesai mengerjakan soal di papan tulis, satu persatu murid maju. Hanya saja, mereka harus kembali duduk karena jawaban di buku banyak yang salah.
Naila sedikit mengintip menatap teman-temannya, di mana perutnya sudah mulai berbunyi cukup keras, "Aakhh, perutku laper hiks ... Ayah, Bunda, tolong bantu Naila. Bagaimana Naila bisa mengerjakan soal ini, mana perut udah keroncongan lagi. Bisa-bisa Naila, mati ini huaaa* ...."
Naila berteriak di dalam hatinya dalam posisi tangan satunya memegang perut, satunya lagi memegang spidol dan menempel di papan tulis, sementara tatapannya terus tidak lepas dari soal menyebalkan itu.
"Ini semua gara-gara kau, nilai X dan Y! Jika kalian tidak ada maka hidupku tidak akan sul---"
Belum selesai Naila mendumel di dalam hatinya, seorang Malaikat langsung datang di sampingnya dan menawarkan bantuan untuknya. Wajah kesal Naila, sektika berubah menjadi senyuman yang sangat manis saat matanya berbinar melihatnya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1